FusilatNews – Riuh tentang ijazah Jokowi nyaris jadi rutinitas media sosial. Ia membara, lalu padam, lalu menyala lagi. Begitulah negeri ini: ada hasrat membongkar masa lalu, tapi nyaris tak punya keberanian menatap masa depan. Di tengah gemuruh itu, muncul suara yang tak keras tapi menghentak. Suara dari seorang tua yang tak lekang oleh musim, yang pernah mendirikan Tempo, dan hingga kini masih setia pada kejujuran kalimat.
Goenawan Mohamad tak hendak memadamkan api. Ia memilih menyulut yang baru.
“Saya mendukung ide, agar heboh soal ijazah mantan Presiden Jokowi tak diterus-teruskan. Palsu atau asli, tak ada dampaknya lagi: beliau tak punya kekuasaan,” tulisnya. Kalimat itu bukan sekadar opini. Ia seperti mata pisau yang tajam dan tepat—membelah keramaian yang salah arah.
Jokowi, suka atau tidak, telah melewati puncak kuasanya. Masa depannya kini hanyalah bayang-bayang dari yang pernah berkuasa. Mengungkit ijazahnya hari ini nyaris seperti menggugat bayangan: tak membawa terang, hanya menambah kabut.
Tapi Goenawan tak berhenti di sana. Ia menunjuk yang lebih relevan, yang lebih penting untuk disorot, yang masih hangat dan sedang tumbuh dalam panggung kekuasaan: Gibran Rakabuming Raka.
“Saya lebih sepakat, yang perlu diusut adalah pendidikan Wakil Presiden, Gibran. Apa sekolahnya? Di mana? Apa ijazahnya, latar belakang keahliannya? Bagaimana prestasinya?”
Di situlah api baru dinyalakan.
Bukan karena dendam, bukan karena sinisme. Tapi karena akal sehat. Karena logika demokrasi tidak menerima jabatan sebagai warisan. Karena rakyat berhak tahu: siapa yang akan ikut memimpin negeri ini? Apa bekal intelektual dan moralnya? Bagaimana ia sampai di titik kekuasaan?
Gibran bukan sekadar anak presiden. Kini ia adalah wakil kepala negara. Dan jabatan itu bukan boneka. Ia punya kuasa, punya wewenang, dan berpotensi menjadi presiden jika keadaan memaksa. Maka pertanyaannya bukan sekadar formalitas: ijazahnya dari mana, bagaimana proses pendidikannya, apa yang bisa jadi bukti bahwa ia layak dipercaya?
Goenawan tak sedang menabur kebencian. Ia sedang menabur akal sehat. Dan dalam republik yang terlalu sering dibutakan oleh kultus keluarga, akal sehat adalah api kecil yang harus terus dijaga.
Ia tahu, bangsa ini bisa dibius oleh pencitraan. Ia tahu, negeri ini gampang lupa pada pertanyaan-pertanyaan mendasar demi nama besar dan koneksi. Maka ia bicara, dengan tenang dan tajam, agar kita tidak salah melihat prioritas.
Karena pertanyaan tentang masa lalu kadang hanya menggiring kita untuk larut dalam dendam. Tapi pertanyaan tentang masa depan adalah soal tanggung jawab.
Dan Goenawan Mohamad baru saja mengembalikannya kepada kita.




















