• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Gugatan Sunyi dari Sawah: Mengapa Petani Kian Terperosok?

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
November 25, 2025
in Feature, Profesi
0
Wamentan Larang Harga Gabah Kering Panen Dibeli Dibawah HPP
Share on FacebookShare on Twitter

OLEH: ENTANG SASTRAATMADJA

Di banyak negara—termasuk di Tanah Merdeka ini—kaum tani kerap berada di barisan paling belakang panggung pembangunan. Hak mereka untuk hidup sejahtera seakan kalah wibawa dibanding para pemilik modal besar, para “9 Naga” yang ditengarai mengendalikan denyut ekonomi bangsa.

Tidak mengherankan jika kaum tani lebih pantas disebut korban pembangunan, bukan penerima manfaatnya. Membengkaknya jumlah petani gurem selama satu dekade terakhir (2013–2023), sebagaimana dicatat dalam Sensus Pertanian 2023, menjadi bukti nyata betapa banyak anak bangsa yang diam-diam divonis sebagai korban dari kebijakan pembangunan yang timpang.

Kenaikan 2,64 juta rumah tangga petani gurem itu menunjukkan betapa posisi petani makin terjepit. Tanah garapan yang kian menyempit dan alih fungsi lahan yang makin membabi buta membuat petani tak mampu mempertahankan lahan hidupnya. Terjadilah apa yang kini kita kenal sebagai guremisasi petani.

Petani gurem hidup dari lahan tak lebih dari 0,25 hektar. Kehidupan mereka memprihatinkan—bertahan hari demi hari hanya untuk menyambung nyawa. Yang lebih menyedihkan, mereka hidup bergantung pada bantuan. Bukan karena mereka malas, tetapi karena sistem tidak memberi ruang bagi kemandirian. Tanpa bantuan, hampir tidak ada kehidupan yang bisa dijalani.

Padahal salah satu tugas utama Pemerintah adalah mensejahterakan petani. Negara seharusnya hadir di tengah kesulitan mereka. Ada dua masalah klasik yang selalu berulang:

  1. harga gabah anjlok setiap musim panen, dan

  2. kelangkaan pupuk bersubsidi menjelang musim tanam.

Sebentar lagi musim panen gadu (April–September 2025) akan tiba, meski masa tanamnya mundur satu hingga dua bulan. Bagi petani, panen raya adalah momen penentu nasib: apakah hidup mereka membaik, stagnan, atau justru makin merosot.

Baik petani maupun Pemerintah sama-sama berharap panen gadu dapat menurunkan harga beras ke tingkat yang wajar. Namun semua itu mustahil tercapai tanpa keberpihakan nyata Pemerintah. Petani hanya berharap satu hal: harga gabah jangan anjlok. Sesederhana itu. Namun entah mengapa, persoalan ini terus berulang dari tahun ke tahun, dan Pemerintah tampak tidak berdaya mengatasinya.

Mengapa menjaga harga gabah tetap wajar saja begitu sulit? Dengan kewenangan sebesar yang dimiliki Pemerintah, seharusnya mudah untuk menerbitkan regulasi yang melindungi petani, pedagang, dan masyarakat secara seimbang.

Di sinilah peran Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjadi krusial. Berdasarkan Perpres 66/2021, Bapanas bertanggung jawab menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan beras, serta Harga Eceran Tertinggi (HET). Pertanyaan besarnya: apakah regulasi yang ada saat ini masih relevan?

HPP gabah yang dipatok Rp 6.500/kg tampaknya perlu dihitung ulang. Banyak petani merasa baru bisa bernapas lega ketika harga gabah berada di kisaran Rp 7.000–7.500/kg. Karena itu, menghadapi panen raya, HPP idealnya dinaikkan agar petani tetap tersenyum ketika musim panen tiba.

Dengan HPP yang lebih wajar, “kutukan harga jatuh saat panen raya” bisa dihindari. Dan ketika harga jatuh di bawah HPP, negara berkewajiban membeli gabah di atas batas tersebut. Pertanyaannya sederhana: apakah Pemerintah benar-benar berniat membuat petani bahagia?

Jika Pemerintah ingin harga beras turun ke tingkat wajar, maka Pemerintah juga berkewajiban menjamin harga gabah tetap menguntungkan bagi petani. Di sinilah kinerja Bapanas diuji: mampu atau tidak menerbitkan regulasi yang berpihak pada jutaan petani yang menggantungkan hidup pada tanah semakin sempit.

Bapanas sebagai perumus kebijakan dan Perum Bulog sebagai operator di lapangan memiliki kapasitas untuk mewujudkannya. Dengan demikian, “gugatan petani” atas harga gabah yang kerap merosot bukan lagi sekadar wacana—tetapi menjadi fakta keras kehidupan. Fakta yang tidak boleh terus-menerus ditutup mata.

(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mengapa Baru Sadar Sekarang? Setelah Korban Jiwa Berjatuhan dan Pelanggaran HAM Menggunung

Next Post

Dari Dibungkam ke Diundang: Politik Dua Wajah 212 di Era Prabowo

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Next Post
Waketum MUI: Meminta Jaga Persatuan, Jangan Rerpecah Belah

Dari Dibungkam ke Diundang: Politik Dua Wajah 212 di Era Prabowo

Wajar Edy Mulyadi Sumpahi Jokowi?

Tanggapan Hukum terhadap Narasi Video Edy Mulyadi Sang Aktivis Pejuang

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...