Oleh M Yamin Nasution – Pemerhati Hukum
Apa yang kita butuhkan adalah filosofis politik yang tidak didasarkan pada hanya masalah keadaulatan, kita harus penggal kepala Raja – Michel Foucault, 1977
Konstitusi artinya hukum rakyat. Rakyatlah yang paling berkuasa di atas seluruh kekuasaan yang ada, termasuk pemimpin sekalipun adalah pesuruh rakyat, pejabat negara tak lebih dari sekedar orang-orang yang ditugasi untuk mengurusi seluruh kepentingan rakyat, menjaga dan memberikan rasa nyaman kepada rakyat, lalu rakyat memberikan gaji, tunjangan, seragam dan fasilitas lainnya, termasuk bagi istri dan anak-anaknya mendapatkan fasilitas dari buah pelayanan pesuruh rakyat.
Namun, anehnya seseorang terpilih untuk dan diberikan seragam, orang-orang yang awalnya hanya di tugasi, untuk mengurusi tersebut, mulai menjadi liar dan jahat, mereka lupa tugasnya, memperkaya diri sendiri, menyenangkan istri, bahkan merusak aturan tertinggi yang disebut konstitusi demi kepentingan kesenangan istri dan anak-anaknya, dan ini sama artinya menghina seluruh rakyat.
Dari setiap aktifitas rakyat di pajak untuk menghidupi para pejabat tersebut, bahkan termasuk pakaian dalam seorang pejabat di biayai oleh rakyat. Anehnya rakyat masih memberikan pujian terlalu besar, sehingga pejabat-pejabat tersebut menjadi sombong, lupa diri, bahkan menjadi pencuri dan menindas, dan ini toleransi yang terburuk yang dilakukan rakyat pada pesuruhnya itu.
Pahlawan Nasioal kita pernah berkata : “Antara pemimpin dan rakyat memiliki kekuatan goib, apabila rakyat menderita, wabah melanda yang mengakibatkan gagalnya panen (kesejahteraan tak terpenuhi) maka diduga adanya penghianatan janji-janji (penelantaran kontrak) yang dilakukan pemimpin terhadap rakyat (Prof. Dr. Soepomo).
Apabila sebuah kampung masuk hama babi, lalu merusak tanaman dan kebun sehingga keindahan kampung rusak, rakyatpun jadi resah, kesel, seharusnya rakyat, jangan memikirkan terlalu jauh, tidak usah cari dan panggil ahli-ahli untuk menangkap hama babi tersebut, cukup ambil batu dan lempar, hingga hama babi mati. Umumnya hama babi datang merusak kampung hanya sedikit, tak lebih dari ayah hama, ibu, anak-anak hama dan satu dua keluarga dekat hama tersebut.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (Al-A’raf 179).
Begitu juga dalam negara demokrasi, seorang pemimpin suatu negara apabila telah di pilih mayoritas rakyat, lalu di sumpah dengan kitab suci, namun pemimpin tersebut merusak system hukum demi kebahagiaan istri dan anak-anaknya, maka pemimpin tersebut tak lebih dari seekor hama demokrasi negara, bersama keluarganya ia akan lebih merusak, dan rakyat hanya butuh sadar, ambil batu dan lemparlah dia dan keluarganya (kritisilah), sebab mereka akan lebih sesat dari hewan-hewan ternak seperti yang di janjikan Allah SWT.


























