Meski harga sudah turun dibanding harga pekan kemarin Harga cabai rawit di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, masih tinggi mencapai Rp 150 ribu per kilogram (kg) setelah turun dari harga pekan kemarin yang mencapai Rp 175 ribu per kg.
Jakarta – Fusilatnews – Kepala Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan UMKM Kabupaten Gorontalo Utara Grace Mangosa menegaskan tingginya permintaan konsumen menjadi penyebab tinnginya harga cabai rawit meah
Meski harga sudah turun dibanding harga pekan kemarin Harga cabai rawit di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, masih tinggi mencapai Rp 150 ribu per kilogram (kg) setelah turun dari harga pekan kemarin yang mencapai Rp 175 ribu per kg.
“Harga ini di tingkat pedagang. Jika pekan kemarin mencapai Rp175 ribu per kg. Sejak Ahad (10/12) mengalami penurunan menjadi Rp 150 ribu per kg,” kata Grace Mangosa di Gorontalo, Senin (11/12).
Kenaikan harga cabai rawit dipicu permintaan tinggi oleh konsumen, tapi petani khususnya di kabupaten pesisir ini masih baru melakukan penanaman sehingga stok di pasar-pasar belum banyak.
“Kami terus memantau dan memastikan stok tetap aman, begitu pun lonjakan harga agar tidak terus mengalami kenaikan. Bersyukur harga cabai rawit berangsur turun,” ujarnya.
Pada kondisi normal dengan stok yang melimpah, harga cabai rawit dapat mencapai Rp 20 ribu per kilogram. Untuk saat ini, ia berharap masyarakat tidak panik. “Berbelanja sesuai keperluan rumah tangga saja. Sebab upaya ini pun merupakan langkah mencegah inflasi pada komoditas cabai,” katanya.
Yulan (43 tahun) pelaku UMKM di bidang kuliner mengatakan, harga cabai rawit yang mencapai ratusan ribu tersebut cukup membuatnya resah. Ia bahkan menyebut harga cabai rawit lebih pedas dari rasa cabai.
“Cukup meresahkan sebab makanan yang saya jual wajib menggunakan cabai rawit,” ujar Yulan.
Ia berharap ada intervensi dari pemerintah agar harga cabai rawit kembali mudah dijangkau.
Para petani cabai memperkirakan harga cabai rawit merah yang tengah mahal dan tembus lebih dari Rp 100.000 ribu per kg akan kembali normal pada Desember mendatang. Seiring dengan terus berlangsungnya musim panen di sejumlah sentra.
“Diperkirakan pertengahan Desember sudah normal kembali. Panen sekarang banyak di wilayah Kulonprogo, Yogyakarta dan NTB, ada beberapa ribu hektare.
Hanya memang untuk skala nasional itu belum cukup,” kata Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro Atmodjo, saat dihubungi di Jakarta, Kamis .
Tunov mengakui, kondisi stok cabai rawit merah di level petani saat ini memang tengah menipis. Itu karena hasil panen yang kecil imbas musim penanaman bulan Juli-Agustus yang rendah akibat kekeringan ekstrem.
Sementara itu, asosiasi petani bersama Kementerian Pertanian tengah bekerja sama untuk mengirim pasokan cabai ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, hingga 10 ton per hari dengan harga yang disepakati Rp 50 ribu per kg.
Diharapkan, dengan cara itu, harga cabai di level pasar lokal tetap terkendali meski lebih mahal dari biasanya.
“Kalau mau jujur, harga sekarang bisa terkerek di atas Rp 80 ribu (di pasar induk) bahkan di atas kalau kita lepas. Tapi, kami Champion Cabai dan pemerintah sudah programkan jadwal sepanjang tahun,” ujarnya






















