Oleh Ali Syarief
“Hampir tak bisa diungkapkan betapa bahagianya hidup ini,” kata Fujiwara-san, lelaki berusia 79 tahun dengan wajah teduh dan senyum yang selalu ringan. Kalimat itu sederhana, tapi menggema dalam hati saya. Ada makna dalam yang tak terucap di balik rasa syukurnya — hidup yang tak diukur dengan gelar, harta, atau kedudukan, melainkan dengan kemudahan yang datang tanpa diduga, tanpa diminta, namun selalu tepat pada waktunya.
Saya sering merenung, mengapa hidup bisa semudah ini — bukan karena tanpa ujian, tapi karena setiap langkah terasa dituntun. Saya bukan doktor seperti beberapa tetangga di klaster ini, namun saya bisa hidup berdampingan dengan mereka tanpa merasa rendah. Saya tidak perlu gelar panjang untuk mendapatkan tempat di hati masyarakat. Mungkin inilah makna izzah yang sejati: kehormatan yang diberikan Allah, bukan yang dicapai manusia.
Saya teringat ketika niat itu muncul di hati — membangun masjid Discovery. Saat itu, saya hanya berniat sederhana: ingin punya bagian kecil dalam rumah Allah. Saya mulai dengan infaq seratus juta rupiah, bukan jumlah yang besar dibandingkan nilai akhirnya. Tapi siapa sangka, dari niat kecil itu Allah wujudkan sebuah masjid megah bernilai lima belas miliar. Masjid yang kini menjadi tempat ribuan orang bersujud, berdoa, dan menemukan ketenangan.
Apakah saya yang membangunnya? Tidak. Saya hanya memulai. Allah-lah yang menyempurnakan.
Kemudahan itu pun datang di hal-hal kecil, yang sering kali tak masuk akal. Ketika parkir di mal, orang lain berputar-putar mencari tempat, tapi tiba-tiba saya mendapat tempat kosong tepat di depan entrance gate. Atau kemarin, saat makan malam di HokBen, pelayan berkata, “Mayones ini berbayar, tapi untuk Bapak silakan saja.”
Hal-hal sepele bagi sebagian orang, tapi bagi saya itu tanda-tanda kasih sayang Allah yang halus. Ia hadir bukan dalam bentuk spektakuler, melainkan dalam sentuhan kecil yang membuat hati hangat.
Dan bukan hanya itu. Kehadiran orang-orang dalam hidup saya pun terasa seperti bagian dari rencana besar-Nya. Seperti Ali Sensei dan Pak Yudi — saya tidak pernah mengundang mereka, tapi Allah yang menghadirkannya. Tanpa disadari, melalui pertemuan itu, jalan menuju cita-cita lama saya mulai terbuka: mendidik generasi yang akan datang dengan pelajaran hidup yang telah saya jalani.
Dari riwayat perjalanan hidup ini, saya percaya — insya Allah — cita-cita itu akan terwujud. Sebab Allah selalu mempertemukan orang yang tepat di waktu yang tepat, untuk tujuan yang baik.
Saya belajar bahwa ketika hati lurus dan niatnya benar, dunia ikut melunak. Rezeki tak melulu soal angka di rekening, tapi juga kemudahan dalam urusan, kelegaan di hati, dan rasa cukup yang tak bisa dibeli.
Kemudahan itu datang bukan karena saya istimewa, tapi karena saya berusaha meniatkan hidup ini untuk memberi manfaat. Tangan yang memberi, kata orang tua dulu, tidak akan pernah kosong. Dan saya membuktikan, bahkan sebelum tangan itu memberi, Allah sudah lebih dulu mengisi.
Kini di usia senja, saya hanya bisa tersenyum dan berkata pelan:
“Alhamdulillah, hidupku dimudahkan Allah.”
Bukan karena saya tanpa kekurangan, tapi karena setiap kekurangan itu ditutupi dengan nikmat yang lebih besar. Hidup ini, ternyata, menjadi sangat indah ketika semua yang terjadi kita pandang sebagai bentuk cinta-Nya.

Oleh Ali Syarief



















