Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – “Bukan kekuasaan yang merusak watak, melainkan ketakutan. Takut kehilangan kekuasaan merusak mereka yang berkuasa, takut dilanda kekuasaan merusak mereka yang dikuasai.” (Aung San Suu Kui, mantan Pemimpin Myanmar, Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1991).
Ya, semua memang bermula dari ketakutan. Mahasiswa, buruh, pengemudi ojek online dan elemen masyarakat lainnya dihantui ketakutan. Takut dilanda atau ditindas kekuasaan, sehingga bangkit dan melawan.
Mereka berdemonstrasi untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah dan DPR yang seenak udel menaikkan pajak dan berbagai macam tunjangan.
Di satu sisi, pajak yang dibebankan kepada rakyat naik gila-gilaan. Di sisi lain, tunjangan untuk pejabat juga naik gila-gilaan. Tunjangan rumah anggota DPR saja mencapai 50 juta rupiah per bulan.
Watak atau karakter sebagian demonstran kemudian rusak, karena mengamuk dan menimbulkan chaos. Gedung-gedung DPRD dan markas-markas polisi dibakar, serta rumah-rumah pejabat dijarah.
Ada rumah empat anggota DPR yang dijarah, yakni Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari Partai Nasdem, serta Eko Patrio dan Uya Kuya dari Partai Amanat Nasional (PAN). Ada pula rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Kata Plato (427-347 SM), kalau individu-individu sudah berkumpul menjadi massa, maka mereka akan kehilangan logika.
Para anggota DPR juga dihantui ketakutan. Takut kehilangan kekuasaan. Mereka kemudian menaikkan tunjangan demi mengumpulkan pundi-pundi kekayaan untuk modal pencalonan di Pemilu 2029.
Pemilu di Indonesia memang tidak murah. Untuk menjadi anggota DPR, DPD atau DPRD, diperlukan modal cukup besar. Miliaran bahkan puluhan miliar rupiah. Selain untuk ongkos politik atau political cost seperti biaya pendaftaran dan biaya kampanye, juga untuk politik uang atau money politics seperti mahar ke partai politik dan serangan fajar. Political cost limited (ada batasnya), money politics unlimited (tak ada batasnya).
Presiden Prabowo Subianto juga dilanda ketakutan. Takut kehilangan kekuasaan. Aksi demonstrasi yang masif pada 1998 telah menumbangkan Presiden Soharto, ayah mertuanya saat itu.
Lengsernya Pak Harto mungkin masih menghantui Prabowo. Pak Harto lengser setelah 4 mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta tertembak hingga tewas, sehingga memicu gelombang unjuk rasa yang berakhir chaos pada 13, 14 dan 15 Mei 1998. Enam hari berikutnya, Pak Harto lengser pada 21 Mei 1996.
Presiden Soekarno juga lengser setelah didemo mahasiswa pasca-tewasnya demonstran Arief Rachman Hakim tahun 1966.
Tidak itu saja. Arab Spring tahun 2010 juga dipicu oleh kematian pedagang sayur kaki lima, Mohamed Bouazizi yang bakar diri setelah gerobaknya dirampas polisi wanita di Tunisia. Gelombang revolusi kemudian menjalar ke Mesir, Libya dan negara-negara Arab lainnya.
Makanya, begitu pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan (21) tewas terlindas mobil Rantis Brimob Polri di Pejompongan, tak jauh dari titik episentrum demo massa di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (28/8/2025), Prabowo kian bertambah takut.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto kemudian dipanggil menghadap. Kepada keduanya diinstruksikan agar mengambil tindakan tegas dan terukur kepada demonstran yang anarkis.
Pimpinan-pimpinan 16 organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan pun dikumpulkan dan diminta untuk menenangkan massa.
Pimpinan-pimpinan partai politik serta DPR, DPD dan MPR juga dikumpulkan untuk diambil kesepakatan membatalkan kenaikan tunjangan DPR. Anggota DPR yang memicu kegaduhan langsung dinonaktifkan. Mereka adalah Ahmad Sahroni, Nafa Urbach, Eko Patrio, Uya Kuya, dan Addies Kadir dari Partai Golkar.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga terlihat ketakutan. Takut kehilangan kekuasaan jika dipecat karena tidak becus dalam menangani aksi-aksi demonstrasi massa.
Pun Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Ia juga takut kehilangan kekuasaan ketika tidak becus dalam memberikan bantuan yang diminta Polri untuk mengatasi aksi-aksi demonstrasi.
Akhirnya, akibat ketakutan itu, karakter Prabowo, Listyo Sigit dan Agus Subiyanto pun menjadi rusak, karena dalam menangani aksi-aksi demontrasi diwarnai kekerasan.
Semua itu bermula dari ketakutan.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)























