Oleh: Shawn Corrigan –
Kapal Induk di Tengah Lautan Keraguan
Desas-desus bahwa Indonesia tengah melirik sebuah kapal induk bekas dari Italia telah menyita perhatian publik dan para pengamat militer. Jika pembelian ini terealisasi, maka untuk pertama kalinya dalam sejarah, TNI Angkatan Laut akan memiliki kapal induk. Namun di balik gegap gempita ambisi tersebut, muncul pertanyaan yang lebih penting: benarkah ini langkah cerdas, atau sekadar mimpi besar yang tak berpijak pada realitas?
Indonesia bukan negara biasa. Negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau ini memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia. Dalam konteks itu, wacana memiliki kapal induk tampak logis. Kapal induk dapat memperluas jangkauan militer, mendukung patroli maritim, serta merespons bencana secara cepat dan efektif. Sebuah simbol kekuatan laut yang mengambang, bergeser dari pangkalan ke pangkalan, seperti penjaga yang tak kenal lelah di tengah samudra.
Namun, kapal induk yang dirumorkan hendak dibeli Indonesia ini bukanlah supercarrier raksasa seperti milik Amerika Serikat. Ia adalah light carrier ā kapal induk ringan yang berusia hampir empat dekade, dengan kemampuan terbatas dalam membawa pesawat dan daya tempur. Jet tempur utama yang mendukungnya pun adalah Harrier, pesawat yang bisa lepas landas vertikal dan kini mulai ditinggalkan oleh banyak negara karena usianya yang uzur dan teknologinya yang kian usang.
Pelajaran dari negara tetangga harusnya jadi cermin. Thailand, misalnya, pernah membeli kapal induk āChakri Naruebetā dari Spanyol pada 1997. Antusiasme tinggi menyertai pembelian itu. Tapi apa lacur? Hari-hari kapal tersebut lebih banyak dihabiskan bersandar di pelabuhan. Minimnya anggaran operasional dan tak tersedianya jet tempur membuat kapal itu lebih menyerupai monumen kemegahan daripada alat pertahanan strategis. Sebuah āmuseum terapung,ā begitu ejekan sebagian analis.
Mungkinkah Indonesia akan mengulang kesalahan yang sama?
Secara harga, kapal induk Italia itu kabarnya ditawarkan dengan nilai sekitar 300 juta dolar AS ā harga yang tampak miring untuk kapal induk. Namun perlu diingat, membeli adalah satu hal; mengoperasikan adalah cerita lain. Kapal induk butuh armada pendukung: kapal perusak sebagai pengawal, kapal suplai bahan bakar, sistem pertahanan udara, logistik, dan pelatihan personel. Tanpa itu semua, kapal induk hanyalah sasaran besar yang mengapung di lautan.
Kalkulasi ekonominya pun mencemaskan. Di tengah keterbatasan anggaran pertahanan dan banyaknya prioritas strategis lain ā dari penguatan pertahanan udara, pengamanan wilayah perbatasan, hingga pembangunan pangkalan di wilayah timur ā apakah pengadaan kapal induk ini benar-benar langkah bijak? Para ahli menyebut, untuk tujuan pengamanan maritim, penanggulangan bencana, atau patroli laut, ada opsi yang jauh lebih efisien dan fleksibel: fregat modern, kapal patroli maritim, atau bahkan pesawat drone maritim jarak jauh.
Di atas kertas, memiliki kapal induk terdengar prestisius. Ia bisa menjadi simbol kekuatan, proyeksi dominasi kawasan, sekaligus alat diplomasi militer yang kuat. Tapi simbol saja tak cukup. Kapal induk tak akan menjamin Indonesia menjadi kekuatan maritim bila ia hanya menjadi besi tua yang mengapung tanpa arah. Dalam dunia pertahanan, kebanggaan tak bisa dijadikan kompas. Rasionalitas strategis lah yang seharusnya memandu.
Mungkin Indonesia memang butuh kapal induk ā suatu hari nanti. Tapi hari itu belum tentu hari ini.
























