Solo – Fusilatnews – Ayam Goreng lendaris Widuran yang berdiri sejak puluhan tahun ternyata menyatakan diri bahwa ayam goreng dagangannya menggunakan bahan-bahan non halal.
Pernyataam dari pihak ayam goreng Widuran membuat konsumen/palanggan muslim khususnya yang sudah berlangganan selama puluhan tahun merasa dikhianati dan dikecewakan.
Karena sebelumnya, restoran ini tidak mencantumkan secara eksplisit bahwa beberapa menunya, seperti ayam goreng kremes, menggunakan bahan non-halal.
Hal ini memicu kekecewaan banyak pelanggan, terutama yang beragama Islam.
Solo karyawan tersebut menegaskan bahwa restoran yang sudah berdiri puluhan tahun itu memiliki pelanggan loyal dari berbagai daerah.
“Pelanggannya ada dari Surabaya, Jakarta, luar kota, luar pulau,” ungkap karyawan yang sudah bekerja selama 10 tahun.
“Kepada seluruh pelanggan Ayam Goreng Widuran, Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kegaduhan yang beredar di media sosial belakangan ini.
Kami memahami bahwa hal ini menimbulkan keresahan dalam masyarakat.
Sebagai langkah awal, kami telah mencantumkan keterangan NON-HALAL secara jelas di seluruh outlet dan media sosial resmi kami.
Kami berharap masyarakat dapat memberi kami ruang untuk memperbaiki dan membenahi semuanya dengan itikad baik,” tulis manajemen ayam goreng Widuran dalam akunnya Senin (26/5/2025). Pengumuman klarifikasi non-halal tersebut diunggah di akun resminya empat hari lalu.
Pengumuman klarifikasi non-halal tersebut diunggah di akun resminya empat hari lalu.
Kremesan pakai bahan non-halal
Seorang karyawan, mengungkapkan bahwa kremesan ayam goreng dibuat dari bahan non-halal. “(Bahan nonhalal) kremesnya aja. (Kremesan) dibuat dari bahan nonhalal. Dari minyaknya (nonhalal),” ucapnya di Solo, Jawa Tengah, Senin (26/5/2025).
Meski demikian, dirinya menegaskan ayamnya digoreng dengan menggunakan minyak kelapa. “Nak (kalau) minyak (menggoreng ayam) asli Barco,” tambahnya.
Seorang pelanggan ayam goreng Widuran yang enggan disebut namanya, mengatakan sudah sejak kecil menjadi pelanggan ayam goreng Widuran. “Saya pelanggan lama dari kecil. Tidak tahu kalau non-halal,” kata dia.
Pelanggan lainnya, mengaku dari sejak sekolah dasar (SD) atau sekitar tahun 1990 menjadi pelanggan ayam goreng Widuran.
Dia dikenalkan oleh orangtuanya yang juga pelanggan ayam goreng Widuran. “Sejak SD saya langganan ayam goreng Widuran. Saya tahunya dari orangtua. Ayam goreng Widuran rasanya gurih,” ungkap dia.
pelanggan tersebut mengaku paling suka membeli ayam goreng original plus kremesan. Menurut dia, ayamnya gorengnya rasanya gurih dan enak karena asli ayam kampung. Meskipun demikian, dirinya menyayangkan pemilik rumah makan yang baru saja mengumumkan bahan yang digunakan non-halal. “Suka original sama kremes. Kalau dibanding ayam goreng lain memang ayam goreng Widuran lebih gurih enak menggunakan ayam kampung,” kata dia
Ditutup sementara untuk asesmen
Kegaduhan terkait label non-halal tersebut membuat Wali Kota Solo, Respati Ardi turun melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke rumah makan ayam goreng Widuran bersama OPD terkait.
Respati didampingi sejumlah pejabat dan aparat daerah, antara lain Kepala Dinas Perdagangan Agus Santoso, Kepala Satpol PP Didik Anggono, Kepala Kemenag Solo Ahmad Ulin Nur Hafsun, serta perwakilan kepolisian dan TNI.
Namun, saat sidak berlangsung, pemilik ayam goreng Widuran tidak berada di tempat.
Respati ditemui langsung oleh para karyawan dan sempat menghubungi pemilik melalui sambungan telepon. Pemilik rumah makan sedang berada di luar kota. Respati menyampaikan bahwa rumah makan diminta tutup sementara untuk menjalani asesmen kehalalan oleh OPD dan instansi terkait.
“Saya mengimbau untuk ditutup dulu dilakukan asesmen ulang oleh OPD-OPD terkait kehalalan dan ketidakhalalan,” tegas Respati di Solo, Senin.
Ia juga mendorong agar pemilik mengajukan sertifikasi halal atau nonhalal secara resmi. “Saya tawarkan apabila mau menyatakan halal, silakan ajukan. Kalau tidak, ya silakan ajukan tidak (halal).
Hari ini bisa ditutup terlebih dahulu dilakukan assessment ulang,” jelasnya. Soal durasi penutupan, Respati mengatakan akan menunggu hasil asesmen terlebih dahulu.

























