Tokyo – Fusilatnews –Dalam beberapa perjalanan ke luar negeri, saya berkesempatan mengamati hal sederhana yang menyimpan ironi mendalam: para petugas kebersihan di Bandara Internasional Changi, Singapura, dan Haneda, Jepang, sebagian besar adalah lansia. Sebaliknya, di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, petugas serupa didominasi anak-anak muda berusia di bawah 30 tahun. Sekilas, ini tampak sebagai perbedaan biasa. Namun jika kita melihat lebih dalam, ada cermin besar yang memantulkan kualitas kesejahteraan, struktur ekonomi, dan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) sebuah negara.
Lansia Produktif: Simbol Kesejahteraan dan Martabat
Di Changi dan Haneda, kehadiran para lansia sebagai petugas kebersihan bukanlah tanda ketimpangan sosial. Sebaliknya, itu mencerminkan sistem sosial yang memberikan martabat dan kesempatan kerja kepada warga senior, bukan karena mereka terpaksa bekerja untuk bertahan hidup, melainkan karena mereka masih ingin merasa berguna dan aktif. Dalam masyarakat yang menua seperti Jepang dan Singapura, negara memfasilitasi ruang kerja yang layak bagi lansia — dengan sistem pensiun yang kuat, jaminan kesehatan, dan fleksibilitas kerja — menjadikan pilihan bekerja sebagai bagian dari keberdayaan, bukan keterpaksaan.
Anak Muda di Bawah Bayang-bayang Pekerjaan Kasar
Bandingkan dengan Indonesia. Ketika anak-anak muda bekerja sebagai cleaning service di bandara internasional, pertanyaannya bukanlah “mengapa mereka bekerja?”, tetapi “mengapa hanya ini pilihan yang tersedia?”. Ini adalah gejala serius dari persoalan mendalam: terbatasnya lapangan kerja berkualitas bagi generasi muda, rendahnya akses pendidikan vokasi yang relevan, serta gagalnya negara menciptakan ekosistem ekonomi yang berbasis pada pertumbuhan kualitas SDM.
Indonesia berada dalam masa bonus demografi. Namun, bonus itu hanya tinggal jargon bila mayoritas generasi muda justru terjerembab ke pekerjaan yang tak sesuai dengan potensi usia produktifnya. Apakah mereka bekerja dengan upah layak? Apakah ada jaminan sosial? Dan lebih penting lagi: apakah ada harapan peningkatan karier, atau hidup mereka akan stagnan di pekerjaan tersebut?
Gagal Memanfaatkan Bonus Demografi
Bonus demografi bukan soal banyaknya anak muda, tetapi bagaimana negara mengarahkan energi produktif mereka ke sektor yang bernilai tambah tinggi. Sayangnya, negara masih lalai membangun jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Ketika lulusan SMA atau bahkan sarjana tidak bisa bersaing, maka pekerjaan semacam cleaning service menjadi ‘pelarian’ terakhir — bukan pilihan utama.
Kondisi ini diperparah oleh upah minimum yang rendah, ketimpangan distribusi pekerjaan antar wilayah, serta budaya kerja yang belum menghargai keterampilan tinggi. Negara-negara seperti Jepang dan Singapura bisa menjaga warganya bekerja dengan bermartabat karena mereka menata sistem SDM dan kesejahteraan secara menyeluruh — dari pendidikan dasar hingga jaminan pensiun.
Kesejahteraan dan Keadilan Sosial
Fenomena ini juga berbicara tentang keadilan sosial. Di negara maju, pekerjaan kasar tidak selalu identik dengan kemiskinan. Cleaning service di Haneda mungkin menerima insentif, tunjangan kesehatan, dan perlindungan hukum yang setara dengan profesi lain. Di Indonesia, pekerjaan ini seringkali dibarengi dengan eksploitasi tenaga kerja outsourcing, upah minim, tanpa jaminan hari tua.
Ini adalah kegagalan kebijakan yang tidak hanya menimpa individu, tetapi juga mencerminkan lemahnya negara dalam melindungi warganya secara struktural.
Penutup: Saatnya Mereformasi SDM dan Kesejahteraan
Apa yang saya saksikan di Changi dan Haneda bukanlah soal profesi tertentu, tapi tentang bagaimana negara memperlakukan rakyatnya. Di sana, usia tua bukan akhir dari produktivitas, melainkan kesempatan untuk tetap aktif dan dihargai. Sementara di sini, usia muda bukanlah awal dari harapan, tapi sering kali awal dari keputusasaan.
Indonesia membutuhkan reformasi besar-besaran dalam sistem ketenagakerjaan, pendidikan vokasi, perlindungan sosial, dan redistribusi ekonomi. Kita tak bisa terus membiarkan anak muda menjadi tulang punggung kerja kasar tanpa masa depan, sementara para lansia kita terpinggirkan dan tak punya tempat di ruang produktivitas.
Kesejahteraan rakyat dan kualitas SDM harus menjadi poros utama pembangunan, bukan sekadar angka statistik dalam pidato kenegaraan. Sebab pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa tercermin dari bagaimana ia memperlakukan yang muda maupun yang tua — di ruang kerja, bukan hanya di mimbar retorika.


























