• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Indonesia Negara Agraris? Sebuah Klaim yang Memalukan

Ali Syarief by Ali Syarief
February 2, 2026
in Economy, Feature
0
Indonesia Negara Agraris? Sebuah Klaim yang Memalukan
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Indonesia gemar menyebut dirinya negara agraris. Frasa itu diulang di pidato pejabat, buku pelajaran, hingga jargon pembangunan. Tapi semakin sering diucapkan, semakin terdengar seperti lelucon pahit. Sebab di dunia nyata, ada negara kecil bernama Belanda yang diam-diam mempermalukan kita semua.

Belanda luasnya bahkan sedikit lebih besar dari negara bagian Maryland di Amerika Serikat. Tidak punya tanah luas, tidak punya iklim tropis, tidak pula dikenal sebagai negeri sawah. Namun ironi terbesar justru lahir dari sana: Belanda adalah eksportir produk pertanian terbesar kedua di dunia. Pada 2024 saja, nilai hasil pertaniannya menembus sekitar Rp 2.200 triliun. Angka yang terasa seperti satire bila dibandingkan dengan Indonesia yang mengaku agraris tapi masih rutin mengimpor beras, jagung, garam, bahkan gula.

Lebih dari setengah wilayah Belanda digunakan untuk pertanian. Tapi mereka tidak menanam apa saja. Fokusnya jelas: produk bernilai tinggi—telur, daging, keju, tomat, paprika. Bukan pertanian subsisten yang sekadar cukup hidup, melainkan pertanian sebagai industri pengetahuan.

Kunci keberhasilan itu bukan pada luas lahan, melainkan teknologi. Belanda memelopori rumah kaca modern yang nyaris futuristik. Robot, sensor, dan algoritma bekerja bersama memprediksi panen, mendeteksi tanaman yang siap dipetik, hingga mengatur nutrisi secara presisi. Di dalam rumah kaca, tanaman bisa tumbuh hingga 30 sentimeter per minggu—angka yang terdengar mustahil bagi sistem pertanian konvensional kita.

Soal air, perbandingannya lebih memalukan lagi. Untuk menghasilkan 1 kilogram tomat, rumah kaca Belanda hanya membutuhkan sekitar 4 liter air, karena air diputar ulang secara efisien. Rata-rata global? Lebih dari 200 liter. Indonesia, dengan segala sungai dan hujan tropisnya, masih berkutat dengan irigasi bocor, sawah tadah hujan, dan konflik air antardaerah.

Pencahayaan pun direkayasa. Lampu LED dirancang meniru cahaya matahari: lebih hemat energi, hampir dua kali lebih terang, dan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Namun menariknya, secanggih apa pun teknologinya, lebah tetap dipertahankan untuk penyerbukan—karena alam masih lebih unggul dari mesin dalam urusan tertentu. Ini bukan sekadar modernisasi, tapi penghormatan pada ekosistem.

Di balik semua itu ada fondasi yang sering diabaikan Indonesia: kolaborasi kuat antara petani, universitas, dan pemerintah. Riset genetika dan pertanian dari Wageningen University—salah satu pusat ilmu pertanian dunia—dipakai di lebih dari 150 negara. Pengetahuan tidak berhenti di jurnal, tapi turun ke ladang, ke rumah kaca, ke pasar global.

Belanda tentu tidak tanpa masalah. Harga energi naik, tenaga kerja makin langka, dan aturan lingkungan semakin ketat. Namun justru di tengah tekanan itulah mereka membuktikan satu hal mendasar: bertani bukan soal lahan luas, melainkan cara menanam lebih banyak dengan sumber daya lebih sedikit.

Di titik ini, klaim Indonesia sebagai negara agraris terdengar bukan hanya usang, tapi memalukan. Kita punya tanah luas, matahari berlimpah, air melimpah, dan tenaga kerja besar—namun minim riset, lemah teknologi, dan miskin visi. Pertanian diperlakukan sebagai sektor kelas dua, bukan sebagai arena inovasi.

Belanda telah menunjukkan bahwa pertanian adalah soal ilmu, keberanian berinovasi, dan konsistensi kebijakan. Indonesia? Masih sibuk berbangga pada slogan, sambil mengimpor hasil bumi.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menyebut diri negara agraris—sampai benar-benar layak menyandangnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Utangnya Menggelagar Sekaras Pekik Prabowo: “Hidup Jokowi!”

Next Post

Butuh Kepastian Hukum dan Efek Jera Melalui Pihak yang Berwenang

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi
Feature

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur
Birokrasi

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026
Economy

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026
Next Post

Butuh Kepastian Hukum dan Efek Jera Melalui Pihak yang Berwenang

Berry Sidabutar: Saatnya Ketua DPC Maju Calon Ketum Peradi, Melenting Abangku!

Berry Sidabutar: Saatnya Ketua DPC Maju Calon Ketum Peradi, Melenting Abangku!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist