Jakarta-Fusilatnews – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia Rumah Bersama Advokat (Peradi RBA) B Halomoan Sianturi SH MH hendak melenting. Ia diproyeksikan menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasionan (DPN) Peradi RBA menggantikan Luhut MP Pangaribuan. Melenting Abangku!
Ya, Peradi RBA akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) pada 24-25 April 2026 untuk memilih Ketum DPN baru pengganti Luhut Pangaribuan.
Rapat Anggota Cabang (RAC) pertama sudah dimulai oleh DPC Peradi Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta dan DPC Peradi Kota Ambon, Maluku, di mana keduanya hanya mencalonkan satu nama, yaitu Halomoan Sianturi.
Saat ini tinggal dua calon, dari yang awalnya empat bakal calon, yang akan berebut kursi Peradi RBA-1, salah satunya Halomoan Sianturi itu.
Advokat senior Bert Nomensen Sidabutar SH MH alias Berry Sidabutar yang telah menyukseskan DPN Peradi, dan juga mantan Ketua DPC Peradi Jakarta Barat, serta yang merintis dan menginisiasi berdirinya enam DPC, yakni Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan serta Kota Depok, Jawa Barat, menyampaikan bukti kesiapan dan kemampuan Halomoan Sianturi untuk maju dan bertarung hingga final demi memperebutkan kursi Peradi RBA-1.
“Saya nilai dia sangat mantap dan mumpuni serta lengkap atau paket komplet yang istimewa,” kata Berry Sidabutar, yang sering dijuluki Dewan Suro Peradi, Senin (2/2/2026).
Menurut Berry, yang dikenal oleh seluruh kalangan organisasi advokat, sudah saatnya Halomoan Sianturi, Ketua DPC Peradi Jakarta Selatan maju menjadi Ketua Umum DPN Peradi RBA.
“Dari DPC untuk Indonesia,” cetus Berry meyakinkan.
Ia juga menilai, jiwa petarung dan strategi Halomoan Sianturi yang akan membangun Peradi dari akar rumput sangat tepat.
Dikutip dari sebuah sumber, di tengah persiapan menuju Munas IV Peradi RBA, satu nama mencuat bukan karena retorika kampanye, melainkan karena track records atau rekam jejaknya dalam membangun organisasi dari bawah. “Dialah Halomoan Sianturi,” tegas Berry.
Selama bertahun-tahun, kata Berry, Halomoan memperlihatkan cara kerja yang berbeda dari kebanyakan tokoh organisasi dan calon lainnnya, yakni tidak langsung melompat ke pusat (pernah menjadi Pengurus DPN), tetapi membangun kekuatan dari struktur terbawah. Berry pun mendukung Halomoan yang kepemimpinannya tidak dimulai dari panggung, tetapi dari konsistensi melayani anggota di akar rumput atau grass roots.
Lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, tahun 1960, Halomoan dan Berry satu alamamater di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta angkatan tahun 1981, dan perjalanan karier Halomoan tidak dimulai dari dunia orasi atau pun opini publik, tetapi dari disiplin ketat dunia korporasi.
Hampir dua dekade ia habiskan sebagai kepala divisi hukum di berbagai institusi keuangan, dari Bank Artha Graha hingga perusahaan pembiayaan dan sekuritas nasional dan investasi serta otomotif.
Pengalaman itu telah membentuknya sebagai figur yang rapi, sistematis, dan memahami pentingnya tata kelola administrasi yang akuntabel. “Sehingga layak dan tepat untuk dipilih menjadi Ketua Umum DPN Peradi di akhir bulan April 2026 menggantikan Luhut Pangaribuan,” tutur Berry.
Halomoan tercatat sebagai pendiri dan dua periode menjadi Ketua DPC Peradi RBA Jaksel di mana biaya pendiriannya 100% menggunakan uang pribadinya.
Menurut Berry, momentum besar datang ketika Halomoan kembali ke dunia advokasi murni dan mendirikan Halomoan Sianturi & Partners (HSP Law Firm) tahun 2003. “Namun peran strategisnya dalam profesi justru terlihat ketika ia mendirikan DPC Peradi RBA Jaksel pada 2018. Bukan sekadar ditunjuk sebagai ketua, Halomoan adalah pendirinya. Ia membangun struktur dari nol, mengonsolidasikan anggota, dan menjalankan roda organisasi hingga cukup kuat untuk melanjutkan ke periode kedua pada 2022-2026,” papar Berry.
Kekuatan Halomoan, kata Berry, bukan pada sorotan publik, melainkan pada kemampuan menjaga struktur agar tetap “hidup” dan mempunyai jiwa pejuang. “Di saat banyak calon datang membawa slogan, Halomoan membawa bukti: organisasi bisa tumbuh jika diurus dengan disiplin administratif dan kepemimpinan yang bisa diakses oleh semua anggotanya serta transparan baik di bidang keuangan maupun dalam mengambil kebijakan,’ terang Berry.
Perpaduan Etos Korporasi dan Solidaritas Profesi
Identitas Halomoan, kata Berry, bisa dibaca sebagai persilangan antara profesional korporat dan organisatoris sejati. “Dari pengalaman panjangnya di sektor keuangan, ia membawa budaya tertib administrasi, dokumentasi yang rapi, dan manajemen risiko dalam setiap keputusan,” bebernya.
Dari dunia organisasi, lanjut Berry, Halomoan menyerap pentingnya solidaritas bahwa organisasi tidak bisa hidup hanya dengan ketegasan aturan, tetapi juga dengan kehangatan komunikasi,” ungkapnya.
Dalam konteks kepemimpinan Peradi RBA, kata Berry, dua kekuatan itu menjadi formulasi menarik. “Di satu sisi, organisasi advokat membutuhkan modernisasi birokrasi. Di sisi lain, ia tetap harus dekat dengan kebutuhan anggota. Halomoan berdiri di tengah persilangan keduanya,’ terangnya.
Dari Akar Rumput ke Pusat Pengambilan Keputusan
Dengan pengalaman membangun struktur organisasi dari bawah atau akar rumput (grass roots) dan rekam jejak panjang di dunia hukum dan keuangan, Halomoan Sianturi, kata Berry, kini hadir sebagai salah satu bakal calon Ketum Peradi RBA yang menawarkan arah berbeda: menguatkan fondasi sebelum membangun menara.
“Di saat sebagian kandidat datang dengan janji perubahan dari atas, Halomoan menawarkan perubahan dari bawah, dari struktur, disiplin, dan keteraturan,” ulasnya.
Namun, kata Berry, keputusan akhir bukan ada di tangan satu orang, melainkan seluruh anggota Peradi RBA, dalam hal ini pemilik suara dalam munas.
“Masa depan Peradi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mencalonkan diri, tetapi juga oleh siapa yang menggunakan hak pilihnya. Halomoan akan mendistribusikan kewenangan untuk bertindak kepada DPC-DPC dan akan transparan dalam memimpin, termasuk dalam permasalahan keuangan organisasi dan dalam pengambilan kebijakan DPN,” tandas Berry.
























