FusilatNews – Perintah pertama yang diturunkan dalam Al-Qur’an adalah Iqra—bacalah. Perintah ini menegaskan bahwa membaca bukan hanya sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga kewajiban spiritual yang menjadi dasar peradaban manusia. Membaca adalah pintu gerbang menuju pengetahuan, kebijaksanaan, dan pemahaman yang lebih luas tentang dunia. Tanpa membaca, manusia akan mudah terperosok dalam kebodohan dan manipulasi.
Pramoedya Ananta Toer, salah satu sastrawan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia, kerap menekankan pentingnya literasi dalam membangun peradaban. Dalam berbagai karyanya, ia menggambarkan bagaimana bangsa yang tidak membaca akan menjadi bangsa yang mudah dikendalikan, dibohongi, dan terjerumus dalam fanatisme serta manipulasi. Ironisnya, hal ini masih terjadi di Indonesia hingga saat ini. Budaya membaca yang rendah telah menghambat kualitas berpikir kritis masyarakat dan menjadikan kebodohan sebagai sistem yang terus berulang.
Membaca: Jendela Dunia yang Terabaikan
Ungkapan “membaca adalah jendela dunia” bukan sekadar slogan, melainkan sebuah kenyataan. Dengan membaca, seseorang dapat memahami dunia lebih luas, mempelajari sejarah, dan menggali berbagai pemikiran yang memperkaya wawasan. Sayangnya, di Indonesia, minat baca masih sangat rendah. Data UNESCO menyebutkan bahwa indeks membaca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001, yang berarti hanya 1 dari 1.000 orang yang memiliki kebiasaan membaca secara serius. Hal ini tentu berdampak serius pada kualitas intelektual masyarakat.
Ketika membaca tidak menjadi bagian dari budaya, masyarakat menjadi rentan terhadap disinformasi. Hoaks, propaganda, dan ujaran kebencian mudah menyebar karena rendahnya daya kritis. Fanatisme yang berlebihan terhadap tokoh, ideologi, atau kelompok tertentu juga tumbuh subur di lingkungan yang minim literasi. Hal ini menciptakan masyarakat yang tidak terbiasa mempertanyakan informasi, melainkan hanya menerima dan menyebarkannya tanpa proses verifikasi.
Literasi dan Kemampuan Berpikir Kritis
Salah satu dampak terbesar dari rendahnya literasi adalah melemahnya kemampuan berpikir kritis. Dalam masyarakat yang tidak terbiasa membaca, opini publik lebih banyak dibentuk oleh informasi instan yang sering kali tidak akurat. Media sosial menjadi sumber utama berita, sementara masyarakat kurang memiliki keterampilan untuk memilah mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan.
Pramoedya menegaskan bahwa kebodohan bukan sekadar kelemahan, melainkan bagian dari sistem yang terus berulang. Dalam banyak rezim otoriter, pembodohan massal dilakukan dengan membatasi akses terhadap literasi dan pendidikan kritis. Masyarakat yang tidak memiliki pemahaman luas cenderung pasif dan mudah dikendalikan oleh elite yang memegang kekuasaan. Tanpa literasi, demokrasi pun menjadi rapuh karena rakyat tidak memiliki modal intelektual untuk mengkritisi kebijakan dan menuntut perubahan.
Membangun Budaya Literasi sebagai Perlawanan
Jika ingin membangun bangsa yang mandiri dan maju, maka membangun budaya literasi harus menjadi prioritas. Literasi tidak hanya sebatas membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pemahaman yang mendalam, analisis kritis, dan keberanian untuk mempertanyakan informasi. Sekolah, keluarga, dan media harus berperan aktif dalam membangun kebiasaan membaca sejak dini.
Di era digital ini, akses terhadap informasi semakin mudah. Namun, tanpa kemampuan literasi yang baik, kemudahan ini justru menjadi bumerang yang membuat masyarakat semakin terjebak dalam informasi yang salah. Oleh karena itu, gerakan literasi harus digalakkan di berbagai lapisan masyarakat. Program membaca, diskusi buku, dan pendidikan berpikir kritis harus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional dan kebijakan publik.
Kesimpulan
Pramoedya telah memberikan peringatan yang jelas: tanpa literasi, bangsa ini akan terus terjebak dalam kebodohan yang sistemik. Membaca bukan hanya sekadar hobi, tetapi sebuah keharusan untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, kritis, dan tidak mudah dimanipulasi. Jika kita ingin keluar dari lingkaran kebodohan ini, membangun budaya membaca harus menjadi agenda utama. Sebab, tanpa literasi, kita bukan hanya kehilangan masa depan, tetapi juga jatuh ke dalam siklus yang tak berkesudahan—sebuah bangsa yang mudah dibohongi dan dikendalikan.


























