Dari rumah ke tempat saya biasa nongkrong sambil ngopi, jaraknya hanya sekitar tiga kilometer. Tidak terlalu jauh, jadi sesekali saya memilih naik angkot dibandingkan membawa kendaraan sendiri. Selain menghindari susahnya mencari parkir, saya juga ingin sedikit berkontribusi pada sopir angkot yang semakin hari semakin kehilangan penumpangnya. Tarifnya pun murah, hanya Rp10.000 pulang-pergi.
Hari itu, seperti biasa, saya naik angkot jurusan StasiunāLembang. Hanya ada saya dan satu penumpang lain. Sepanjang perjalanan, angkot terasa lengang, lebih banyak bangku kosong daripada yang terisi. Rasa penasaran pun muncul, dan saya memutuskan untuk bertanya kepada sang sopir.
āSudah berapa rit hari ini, Pak?ā tanya saya.
Sang sopir, pria paruh baya dengan wajah yang tampak letih, menjawab lirih, āBaru empat rit.ā
Saya mengangguk, mencoba memahami beban yang ia pikul. Empat rit dalam sehari? Itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan masa-masa dulu ketika angkot selalu ramai dan penumpang silih berganti naik-turun di setiap pemberhentian.
āSekarang sepi penumpang,ā tambahnya. āHampir nggak pernah penuh, malah lebih banyak kosongnya.ā
Saya mengangguk lagi, kini dengan perasaan yang lebih berat. āKenapa, Pak?ā tanya saya.
Sopir itu menghela napas panjang sebelum menjawab. āSekarang orang-orang sudah pada punya motor sendiri.ā
Jawaban itu menghunjam saya dengan realitas yang begitu nyata. Kenaikan jumlah pengguna motor pribadi memang tidak bisa dielakkan. Cicilan motor semakin mudah, bahkan dengan uang muka rendah, seseorang bisa membawa pulang kendaraan roda dua. Harga bensin yang masih lebih terjangkau dibandingkan ongkos angkot harian membuat banyak orang beralih dari angkutan umum ke kendaraan pribadi. Akibatnya? Angkot-angkot yang dulu menjadi primadona transportasi, kini harus berjuang sekadar untuk bertahan.
Keluhan Pak Sopir bukan hanya miliknya sendiri. Ini adalah keluhan yang mewakili banyak orang, terutama mereka yang bergantung pada pendapatan harian dari sektor informal. Para pedagang kecil, tukang ojek pangkalan, buruh harian, semua mengalami tekanan yang sama. Pendapatan merosot, tapi kebutuhan hidup terus meningkat. Harga sembako naik, biaya pendidikan melonjak, dan kebutuhan dasar semakin sulit dijangkau.
Sementara itu, di layar televisi, di forum-forum pemerintah, di pidato para pejabat, kita sering mendengar narasi optimisme tentang ekonomi yang membaik. Angka pertumbuhan dipamerkan, proyek-proyek besar diklaim sebagai bukti kemajuan. Tapi di jalanan, di pasar, di rumah-rumah rakyat kecil, cerita yang terdengar justru berbeda. Cerita tentang perjuangan, tentang betapa beratnya hidup saat ini.
Pak Sopir dan mereka yang senasib dengannya tidak butuh statistik yang menggembirakan. Mereka butuh kebijakan nyata yang bisa membantu mereka bertahan. Transportasi publik yang lebih baik, regulasi yang mendukung usaha kecil, serta solusi bagi mereka yang kehilangan mata pencaharian akibat perubahan zaman.
Keluhan-keluhan ini mungkin terdengar sederhana, tapi jika kita mendengar lebih dalam, ini adalah potret nyata dari masyarakat bawah yang semakin hari semakin terhimpit. Gamparkan, keluhan yang mewakili banyak orang, yang sayangnya, sering kali hanya dianggap sebagai angin lalu oleh mereka yang duduk di kursi kekuasaan.























