FusilatNews – Indonesia sering disebut sebagai negara berkembang dengan potensi besar. Namun, jika kita menggunakan perspektif tingkat berpikir dalam Taksonomi Bloom untuk menilai kemajuan bangsa, tampaknya Indonesia masih berada di Level I: Mengingat—masih sibuk menghafal sejarah, mengulang janji-janji pembangunan, dan terjebak dalam siklus nostalgia tanpa pergerakan yang nyata ke depan.
Sejak reformasi 1998, Indonesia berulang kali membahas isu-isu fundamental seperti demokrasi, hukum, dan keadilan sosial. Namun, diskursus ini sering kali hanya berkutat pada retorika tanpa implementasi yang signifikan. Pemerintah dan masyarakat terus mengingat—tetapi jarang benar-benar memahami, menerapkan, atau bahkan menciptakan solusi baru bagi permasalahan yang terus berulang.
Mengingat Janji, Melupakan Implementasi
Indonesia masih sibuk menghafal janji-janji politik yang diulang setiap pemilu. Retorika tentang kesejahteraan rakyat, pembangunan infrastruktur, dan pemberantasan korupsi terus bergema dalam pidato-pidato resmi, tetapi realisasinya sering kali tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Contohnya, proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) terus digembar-gemborkan sebagai lompatan besar menuju masa depan, tetapi kenyataannya lebih banyak menimbulkan pertanyaan ketimbang jawaban.
Memahami Realita? Belum
Seharusnya, negara ini sudah naik ke Level II: Memahami, di mana kebijakan tidak hanya sekadar diumumkan, tetapi benar-benar dipahami secara mendalam oleh pemimpin dan masyarakat. Sayangnya, banyak kebijakan lahir tanpa kajian matang atau pemahaman holistik tentang dampaknya. Misalnya, kebijakan impor pangan yang sering kali bertentangan dengan narasi kemandirian pangan yang selalu diulang-ulang. Ironisnya, Indonesia yang dahulu dikenal sebagai pusat rempah dunia kini harus mengimpor beras, garam, dan kedelai dalam jumlah besar.
Dari Mengingat ke Menerapkan
Indonesia harus segera beranjak dari hanya mengingat sejarah kejayaan dan retorika perubahan menuju menerapkan kebijakan berbasis data, analisis, dan evaluasi yang berkelanjutan. Perubahan ini menuntut keberanian politik, integritas pemimpin, serta peran aktif masyarakat dalam mengawal kebijakan yang lebih transparan dan akuntabel.
Saat ini, bangsa ini masih berada di Level I—menghafal tetapi belum memahami, apalagi menciptakan solusi inovatif. Jika tidak segera beranjak ke level berikutnya, Indonesia akan terus berada dalam lingkaran stagnasi, di mana kemajuan hanya menjadi sekadar wacana tanpa realisasi.
Indonesia tidak bisa selamanya tertinggal di kelas remedial sejarah. Saatnya naik kelas.
Konsep 6 tingkat berpikir biasanya merujuk pada Taksonomi Bloom, yang mengklasifikasikan tingkat berpikir dari yang paling dasar hingga yang paling kompleks. Berikut adalah keenam tingkatan tersebut:
- Mengingat (Remembering)
- Menghafal, mengenali, atau mengingat kembali informasi.
- Contoh: Menyebutkan nama presiden pertama Indonesia.
- Memahami (Understanding)
- Menjelaskan ide atau konsep dengan kata-kata sendiri.
- Contoh: Menjelaskan apa itu demokrasi dalam bahasa sederhana.
- Menerapkan (Applying)
- Menggunakan informasi dalam situasi baru atau menyelesaikan masalah praktis.
- Contoh: Menggunakan rumus matematika untuk menyelesaikan soal cerita.
- Menganalisis (Analyzing)
- Memecah informasi menjadi bagian-bagian kecil dan memahami bagaimana bagian-bagian itu saling berhubungan.
- Contoh: Menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan krisis ekonomi.
- Mengevaluasi (Evaluating)
- Menilai atau membuat keputusan berdasarkan kriteria tertentu.
- Contoh: Menilai keefektifan kebijakan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan.
- Menciptakan (Creating)
- Menggabungkan ide-ide untuk membentuk sesuatu yang baru dan orisinal.
- Contoh: Menulis esai atau membuat strategi kampanye politik berdasarkan analisis data.
Semakin tinggi tingkat berpikir, semakin kritis dan kompleks proses kognitif yang digunakan. Dalam jurnalisme atau analisis politik, biasanya seseorang harus berada pada tingkat menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan untuk menghasilkan tulisan yang tajam dan berbobot.
























