FusilatNews- Banyak negara terancam masuk jurang resesi termasuk Amerika Serikat (AS), Inggris dan Eropa. Namun Indonesia diyakini dapat terhindar dari resesi ekonomi yang saat ini menghantui negara maju, Hal tersebut diungkap Ekonom Senior Chatib Basri dalam acara Indonesia Khowledge Forum XI 2022 yang digelar virtual, Ia mengatakan Indonesia berpotensi kecil mengalami resesi menurutnya ekonomi Indonesia masih kuat.
“Sebetulnya ekonomi Indonesia menurut saya masih relatif kuat,” ucapnya, dikutip tempo.co Selasa, 18 Oktober 2022.
mantan menteri keuangan yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT Bank Mandiri Tbk mengatakan dalam 6 hingga 8 bulan ke depan itu akan ada implikasi dari perkembangan situasi global yang bisa berpengaruh kepada ekonomi Indonesia.
Sementara, angka core inflation Amerika Serikat diumumkan lebih tinggi daripada yang diperkirakan, bahkan core inflation di bulan September itu lebih tinggi daripada bulan Agustus. Implikasinya adalah dia memperkirakan bahwa mungkin dalam Federal Open Markets Committee (FOMC) meeting nanti The Fed akan secara agresif menaikkan bunga.
“Sehingga kemungkinan bahwa kenaikan Fed Fund Rate 75 basis poin itu cukup besar, lalu akan naik lagi nanti mungkin 50 basis poin pada Desember,” kata dia.
Chatib mengatakan, semua akan melihat ekonomi global mengalami pelemahan. Akibatnya adalah kebutuhan input untuk energi dan komoditas juga akan mengalami penurunan. Lalu kebutuhan input untuk komoditas dan energi yang menurun itu akan membawa dampak pada ekonomi Indonesia.
Alasannya, karena 60 persen dari ekspor kita itu adalah energi dan komoditas. Jadi secara price ekspor Indonesia akan mengalami penurunan, maka implikasinya adalah mungkin tahun depan, trade surplus tidak akan lagi setinggi tahun ini. “Bahkan bukan tidak mungkin kita mengalami current account defisit walaupun relatif kecil,” tutur Chatib.
Dampak guncangan global terhadap ekspor Indonesia, lanjutnya, tidak akan besar. Pasalnya, kontribusi ekspor Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi hanya menyumbang 25%, kecil dibandingkan dengan Singapura yang memiliki share ekspor terhadap pertumbuhan ekonominya mencapai 200%. Alhasil, ekonomi Indonesia hanya akan mengalami perlambatan.
Lebih lanjut menurut Chatib permasalahan ekonomi domestik di dalam negeri masih dibayangi dengan inflasi dan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI) yang tinggi.
Artinya, permintaan ekonomi domestik diperkirakan akan melambat. Dikala sektor moneter tidak bisa mendukung permintaan domestik, maka kata Chatib fiskal dalam hal ini APBN lagi-lagi harus menjadi garda terdepan.
Masalahnya, menurut Chatib APBN Indonesia pada tahun depan, juga akan menghadapi sejumlah tantangan.
“APBN tahun depan defisitnya harus di bawah 3%. Harga komoditas energi turun, kecuali batubara. Berarti penerimaan pajak kita di 2023 tidak akan setinggi 2022. Bayangkan kalau penerimaan turun, defisit harus turun, cara yang bisa dilakukan adalah memotong spending (pengeluaran),” jelas Chatib.
Berita Update Lainnya Ikuti Kami Di Google News


























