Fusilatnews – Sejak euforia bernama Jokowi melanda negeri ini, saya tetap menepi. Ketika massa bergelora memuja-muja Jokowi bak nabi politik yang turun dari langit Solo, saya justru memasang kuda-kuda. Bukan karena saya pendendam. Juga bukan karena saya pesimis akut. Tapi karena saya wartawan. Dan tugas wartawan bukan ikut menyanyi dalam paduan suara yang sedang nyaring memuja. Wartawan, kalau mau jujur, adalah pemilik suara sumbang yang dibutuhkan agar konser demokrasi tetap dalam nada.
Kala itu, saya lihat sendiri—bagaimana Jokowi dielu-elukan karena blusukan. Ia datang ke pasar, disentuh-sentuh ibu-ibu, difoto bak boyband Korea. Wartawan senior pun banyak yang tergoda. Kamera-kamera ikut menunduk khusyuk di hadapannya. Tapi saya memilih menjauh. Karena apa? Karena sejak awal langkah kognitifnya sudah goyah. Banyak yang menyebut Jokowi itu sederhana, tapi dalam kacamata saya: ia terlalu sederhana untuk posisi serumit itu. Terlalu banyak keputusan tanpa kerangka berpikir yang utuh. Apalagi ucapnya—seringkali tak lolos dari syarat minimal etik seorang pemimpin tinggi. Kadang terdengar seperti pembicaraan pos ronda—yang mengatur negara.
Dan kini, saya melihat gejala yang mirip pada sosok baru bernama KDM.
KDM mulai dielus-elus. Banyak yang mengira, ini anak muda yang segar, yang bisa menerobos. Bisa itu, bisa ini, pokoknya bisa semua. Tapi saya, sekali lagi, tidak larut. Mungkin saya terlalu tua untuk mudah terpukau, atau terlalu sering tertipu hingga lebih nyaman di luar kerumunan.
Sebagai wartawan, saya memegang disiplin ilmu seperti orang tua memegang tongkat—erat dan tak mudah dilepas. Dan dalam disiplin itu, saya melihat langkah KDM—maaf—bukan begitu caranya. Langkah-langkahnya lebih mirip gerakan anak muda yang baru saja belajar lari di lorong kekuasaan. Ada nafsu ingin cepat, tapi tak sadar bahwa maraton politik bukan sekadar soal garis finish, tapi soal napas, irama, dan peta yang jelas. Kalau salah langkah, bisa-bisa lari sendirian tanpa sadar sudah keluar lintasan.
Saya tidak punya kebencian pribadi pada KDM, seperti saya tak pernah membenci Jokowi secara personal. Tapi saya punya tanggung jawab—sebagai orang yang pernah belajar berpikir dan menulis—untuk tidak diam ketika irasionalitas dipoles jadi prestasi, dan ketidaktahuan dibingkai jadi kesederhanaan.
Saya tidak ingin ikut tepuk tangan terlalu dini. Saya lebih suka duduk di kursi belakang, mencatat, dan menunggu. Karena dari sanalah saya bisa melihat: apakah pemujaan ini memang pantas, atau cuma pengulangan dari euforia lama yang dikemas dalam wajah baru.
Dan bila euforia itu kembali menggelinding tanpa rem, saya tetap akan di jarak aman—karena pujian terlalu dini seringkali berujung pada penyesalan yang mahal.
























