• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

KEBANGKRUTAN INTELEKTUAL: DAFTAR PANJANG KEBOHONGAN POLITIK JOKOWI YANG MENGHANTUI

fusilat by fusilat
October 31, 2025
in Feature, Politik
0
KEBANGKRUTAN INTELEKTUAL: DAFTAR PANJANG KEBOHONGAN POLITIK JOKOWI YANG MENGHANTUI
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Malika Dwi Ana

Di balik sepuluh tahun kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin (2014-2024), Indonesia menyaksikan parade kebohongan politik yang sistematis dan tak kunjung usai. Bukan sekadar janji kampanye yang menguap, melainkan narasi terstruktur yang dirancang untuk membius opini publik, menyembunyikan kegagalan struktural, serta mengorbankan kesejahteraan rakyat demi kepentingan segelintir elite oligarki. Ini bukan kritik partisan biasa; ini adalah catatan hitam atas kebangkrutan intelektual yang mencerminkan preferensi kekuasaan yang lebih suka berbohong ketimbang bertanggung jawab. Daftarnya panjang dan terus bertambah, dengan “Family Office” sebagai tambahan ironi baru di tengah gelombang skeptisisme publik. Mari kita bedah untuk membuktikan betapa rapuhnya fondasi narasi ini.

Esemka: Mobil Nasional yang Berakhir sebagai Karikatur Gagal

Proyek Esemka, yang digembar-gemborkan Jokowi sejak era Wali Kota Solo sebagai simbol kemandirian industri otomotif nasional, kini menjadi lelucon pahit nasional. Dijanjikan produksi massal dan ekspor, realitas hingga 2025 justru sebaliknya: pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) di Boyolali sepi seperti kuburan, tanpa tanda-tanda produksi baru. Publik mengejek “pesanan 6.000 unit itu bohong belaka”, dan fakta mendukungnya—penjualan terbatas pada model lama seperti Bima (Rp 100-116 juta) dan Rajawali bekas (Rp 73 juta di showroom second).

Gugatan wanprestasi di Pengadilan Negeri Solo (nomor 96/Pdt.G/2025/PN Skt) terhadap Jokowi dan kawan-kawan bahkan menuntut pengiriman mobil “layak jalan” senilai Rp 110 juta per unit, yang tak pernah terealisasi. Menurut laporan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) per September 2025, kapasitas produksi Esemka hanya 1.200 unit/tahun, jauh di bawah target 50.000 unit. Ribuan tenaga kerja terlantar, dan mimpi kemandirian otomotif pupus. Esemka bukan mobil nasional; ia korban janji politik yang mati di meja gambar, meninggalkan warisan memalukan bagi bangsa.

Raja Nikel Dunia: Bukan Kemakmuran, Tapi Pesta Oligarki dan Kerusakan Ekosistem

Indonesia memang memimpin produksi nikel global dengan 1,8 juta ton pada 2024 (USGS data 2025), termasuk empat tambang raksasa seperti Weda Bay (516 ribu ton pada 2023). Namun, gelar “raja nikel” hanyalah topeng untuk pembagian lahan ke oligarki dan invasi modal asing. Larangan ekspor bijih mentah sejak 2020 memicu masuknya 77 investor Cina di Forum Mahakam 2024, tapi lihat dampaknya: di Raja Ampat, 500 hektare hutan primer diratakan, sedimentasi lumpur mencemari 75% spesies karang dunia (laporan WWF 2025).

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencabut 4 dari 5 Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Gag Nikel pada Juni 2025, tapi operasi lolos karena banding di pengadilan dan ekspansi berlanjut di Sorong. Greenpeace Indonesia (laporan Juli 2025) menyebut ini “surga terakhir yang hilang”, dengan rencana smelter baru mengancam status UNESCO Geopark Raja Ampat. Hilirisasi seharusnya untuk rakyat, tapi nelayan Papua kehilangan mata pencaharian—pendapatan turun 60% (data BPS Papua Barat 2025). Ini bukan kemakmuran; ini keserakahan yang lebih kejam, di mana ekosistem dan masyarakat lokal jadi korban pesta korporasi.

Tax Amnesty: Pengampunan Pajak Orang Kaya, Beban Berat bagi Rakyat

Program Tax Amnesty 2016-2017 menjanjikan repatriasi Rp 11.000 triliun, tapi hanya meraup Rp 4.865 triliun deklarasi aset dan Rp 114 triliun tebusan—gagal total (data Ditjen Pajak 2025). Program Pengungkapan Sukarela (PPS) 2022 lebih buruk: partisipasi 1,2 juta wajib pajak, tapi rasio pajak terhadap PDB stagnan di 10,2% (OECD 2025). Kini, RUU Tax Amnesty Jilid III masuk Prolegnas 2025, diiklankan sebagai “peluang emas” oleh pemerintah, tapi dikecam sebagai “keistimewaan pengemplang” oleh Koalisi Anti-Korupsi.

Sri Mulyani pernah berjanji “tak ada lagi amnesty” pada 2019, tapi DPR dan pemerintah memaksanya masuk ke agenda untuk dongkrak penerimaan dari ultra-orang kaya, sambil naikkan PPh menengah-bawah ke 12% (UU HPP 2021 revisi 2025). Ironis: pajak orang kaya efektif turun via amnesty berulang, sementara money laundering dilegalkan. Ini bukan reformasi pajak; ini legalisasi ketidakadilan, di mana rakyat kecil harus bayar harga mahal untuk keserakahan elite.

Pertumbuhan Ekonomi 7%: Janji Kosong di Tengah Perlambatan Struktural

Target 7% pertumbuhan sejak RPJMN 2014 tak pernah tercapai, dengan rata-rata 5,0% (2015-2023, BPS). Tahun 2025 makin tragis: Q1 hanya 4,87% (yoy), proyeksi pemerintah dipangkas ke 4,7-5,1% (Kemenkeu Oktober 2025). IMF, OECD, dan Bank Indonesia serempak revisi turun ke 4,7% akibat gejolak global (Trump 2.0) dan defisit APBN Rp 662 triliun. Jokowi janji “meroket”, tapi realitas: indeks manufaktur PMI turun ke 47,2 (September 2025), pengangguran naik ke 4,76% (BPS Agustus 2025), konsumsi rumah tangga mandek di 4,9%.

Ini bukan kegagalan eksternal semata; ini akibat kebijakan populis tanpa fondasi—subsidi energi boros, investasi infrastruktur tak produktif. Warisan: utang publik 40% PDB dan ketimpangan Gini 0,388 (2025)—Koefisien Gini (Gini Coefficient), sebuah ukuran statistik untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan atau kekayaan dalam suatu masyarakat. 7%? Lebih tepat disebut 7 tahun kebohongan beruntun.

Omnibus Law: UU Cipta Kerja yang Lahirkan Kekacauan Lapangan Kerja

UU Cipta Kerja (UU 1/2020) janji kemudahan berusaha, tapi implementasi 2025 babak belur: Mahkamah Konstitusi (MK) revisi 21 pasal via putusan 168/PUU-XXI/2023, menghidupkan kembali UU 13/2003 untuk lindungi PKWT, PHK, dan outsourcing. Tarif PPh badan turun ke 20% (2025), tapi protes buruh membanjiri jalan—kenaikan UMP ditolak di 15 provinsi, outsourcing tak terkendali (data KSPI 2025: 2 juta pekerja terdampak).

Klaster ketenagakerjaan memicu mogok massal (seratus ribu buruh di Jabodetabek, Oktober 2025), sementara relaksasi izin lingkungan merusak ribuan hektare hutan. Ini bukan Omnibus Law; ini undang-undang kekacauan yang untungkan korporasi tapi merampas hak buruh. Jokowi sebut ini “solusi”, tapi realitas lapangan bilang ini bencana.

Kereta Api Cepat: Janji Tanpa APBN, Realitas Utang Jumbo Bebani Negara

Janji business-to-business (B2B) murni sejak 2015 pupus: utang KCIC Rp 116 triliun (US$7,27 miliar, kurs 2025), bunga 3,1-3,2% tenor 45 tahun, ditanggung via PMN APBN dan China Development Bank (laporan BPK 2025). Menkeu saat transisi tolak lunasi—”lucu kalau untung ke swasta, tapi kalau rugi ke APBN”—tapi Istana cari skema perpanjangan ke Surabaya. Whoosh beroperasi sejak 2023, tapi defisit operasional Rp 80 triliun/tahun (proyeksi KCIC 2025). Bohong awal: “tak pakai APBN”. Realitas: rakyat bayar via pajak untuk beban utang 60 tahun ke depan.

IKN: Investor Asing dan Non-Utang? Semua Omong Kosong Belaka

Dijanjikan Rp 466 triliun non-utang (20% APBN, 80% swasta), realitas 2025: Rp 41 triliun dari 23 investor domestik, asing minim—hanya 5 (Singapura, China, Australia, Rusia, Jepang) Rp 1,15 triliun di groundbreaking ke-8 (OKI data Oktober 2025). Bahlil Lahadalia akui infrastruktur klaster I belum 100%, investor asing “belum ada antrean” meski Jokowi klaim sudah pada ngantri. Progres fisik 48% (BP IKN 2025), dana APBN bocor via PMN BUMN Rp 20 triliun. Publik sebut “investor 472 itu bohong!”. IKN bukan visi; ia monumen kegagalan Jokowi, di mana rakyat Kalimantan jadi korban janji elite Jakarta—kota mati dengan biaya tak terkira.

Family Office: Nol Besar, Keserakahan Elite Tanpa Fondasi

Inisiatif terbaru Luhut sejak 2024, janji tarik US$11,7 triliun dana ultra-orang kaya global via Bali dengan pembebasan pajak. Target operasi Februari 2025, tapi Oktober ini masih persiapan, dan ditolak Menkeu Purbaya (dia bilang tak alihkan APBN kesitu), Luhut kejar restu Prabowo. Tim DEN-Airlangga kerja 6 bulan, tapi infrastruktur legal, regulasi, dan ekosistemnya nol besar (kritik Celios & ICW 2025: rawan money laundering , Indonesia tak punya prakondisi seperti Singapura). Luhut klaim “US$500 miliar”, tapi realitas: pesta pajak untuk si kaya, sementara PPh menengah naik 12%. Ini tambahan daftar kebohongan akhir rezim Jokowi.

Kesimpulan: Warisan Busuk yang Harus Diakhiri

Pemerintahan Jokowi membanggakan “infrastruktur megah”, tapi dibangun di atas tumpukan kebohongan demi kebohongan—meninggalkan rakyat dalam himpitan utang Rp 8.500 triliun (2025), kerusakan lingkungan ireversibel, dan ketidakpercayaan mendalam. Era berganti ke Prabowo-Gibran, tapi publik tak boleh tertipu lagi. Kebangkrutan intelektual ini bukan kegagalan tak disengaja, melainkan pilihan sadar. Saatnya menuntut akuntabilitas penuh, bukan kecelik dan tertipu narasi kosong. Indonesia layak menjadi lebih baik!

(Malika’s Insight, 30 Oktober 2025. Sumber: BPS, KLHK, Kemenkeu, BPK, MK, USGS, OECD, WWF, Greenpeace, ICW, Celios, dan data resmi terkini hingga Oktober 2025).

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Analisis Pendapat Damai Hari Lubis: “Prabowo dan Dilema Kehadiran di Projo”

Next Post

Bagaimana Menembus Pasar Jepang?

fusilat

fusilat

Related Posts

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?
Feature

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026
Next Post
Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Bagaimana Menembus Pasar Jepang?

Perjalanan Spiritual Willy Abdullah Fujiwara

Perjalanan Spiritual Willy Abdullah Fujiwara

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...