Fusilatnews – Dalam berbakti kepada ibunda tercintanya, ternyata Willy Abdullah Fujiwara terinspirasi kisah Salman Al Farisi.
Salman Al Farisi adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang menonjol. Salman Al Farisi punya kisah heroik dan menarik terkait pengabdiannya kepada sang ibu.
Alkisah, dikutip dari berbagai sumber, Salman Al Farisi adalah seorang sahabat Rasulullah yang memiliki keterbatasan ekonomi. Padahal, ia ingin sekali membahagiakan ibunya. Bersama ibunya, Salman Al Farisi tinggal di Kota Madinah, Arab Saudi.
Sementara sang ibu ingin sekali untuk menunaikan ibadah haji sebagai penyempurna dari rukun Islamnya, di mana haji adalah rukun Islam ke lima yang untuk menunaikannya harus pergi ke Baitullah atau Ka’bah atau Masjidil Haram di Kota Mekkah, juga Arab Saudi.
Ternyata, tak hanya keterbatasan ekonomi yang menjadi tantangan Salman Al Farisi untuk memberangkatkan ibunya ke Tanah Suci, karena di sisi lain sang ibu tidak mampu untuk berjalan guna menunaikan ibadah haji.
Untuk membahagiakan ibu yang sangat disayanginya, Salman Al Farisi berusaha keras untuk bisa menuruti keinginan perempuan yang telah melahirkan dan dan mengasuhnya itu. Akhirnya, dengan keterbatasan biaya, Salman berangkat bersama ibunya yang sangat ingin pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.
Sepanjang perjalanan menuju Baitullah, Salman Al
Farisi menggendong perempuan tua itu di pundaknya. Hal itu ia lakukan sebagai bukti baktinya.
Sengatan terik matahari di siang hari dan sergapan udara dingin di malam hari tak dihiraukan oleh Salman. Sesampainya mereka di Kota Mekkah, betapa bahagianya Salman karena bisa mengabulkan keinginan ibunya untuk menunaikan ibadah haji serta berjumpa dengan Rasulullah SAW.
Ketika berjumpa
Nabi Muhammad SAW, Salman pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku telah menjadi anak yang berbakti kepada orang tua? Aku telah menggendong ibuku di pundakku sepanjang perjalanan Madinah sampai Mekkah?”
Lalu, seketika Nabi Muhammad SAW menangis sembari bersabda, “Wahai Saudaraku, engkau sungguh anak yang luar biasa, engkau benar-benar anak saleh. Tapi maaf (sambil tetap menangis), apa pun yang kamu lakukan di dunia ini untuk membahagiakan orang tuamu, apa pun usaha kerasmu untuk menyenangkan orang tuamu, tidak akan pernah bisa membalas jasa mereka yang telah membesarkanmu.”
Sekali lagi, kisah Salman Al Farisi menginspirasi Willy Abdullah Fujiwara. Sepulangnya dari Jepang ke Jakarta, terbersit dalam benaknya untuk memberangkatkan ibunya, Ny Dasimah Mokodongan pergi haji ke Mekkah dari tanah kelahirannya di Kotamobagu, Sulawesi Utara.
Kalau oleh-oleh seperti barang atau cindera mata dari Jepang, mungkin bisa membahagiakan ibunya. Tapi cuma sesaat. Willy pun berpikir bagaimana bisa memberikan sesuatu yang bisa membahagiakan ibunya sepanjang hayat. Niat Willy memberangkatkan haji ibunya pun kian bulat.
Di pihak lain, Ny Dasimah memang sudah lama ingin berhaji, karena usianya pun tak muda lagi. Tapi ia punya keterbatasan ekonomi, sehingga tidak mampu membiayai perjalanannya berhaji.
Willy akhirnya memberangkatkan ibunya pergi haji ke Mekkah tahun 1986. Sebenarnya ia pun ingin berangkat haji bersama ibunya, tapi karena dananya belum cukup maka ibunya sendiri saja yang ia berangkatkan haji.
Willy tidak menggendong ibunya secara langsung menuju Baitullah seperti Salman Al Farisi. Namun, Willy “menggendong” ibunya dengan pesawat terbang yang telah ia bayar tiketnya pergi-pulang bersama rombongan haji ibunya.
Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, meskipun sudah berhasil menghajikan ibunya, namun Willy tak merasa sudah membalas jasa ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkannya seorang diri.
Willy pun terus berbakti kepada ibunya. Antara lain dengan mengajaknya tinggal bersama dirinya dan keluarganya di Jakarta.
Baru pada 1991, Willy berangkat haji sendiri setelah punya cukup biaya. Saat itu kebetulan Haji Akbar di mana Presiden Soeharto bersama keluarganya juga menunaikan ibadah haji.
Segala urusan haji Willy pun Allah SWT mudahkan. Ada seorang sahabat yang ikut membantunya yang kebetulan bersama-sama berangkat haji.
Melalui biro haji ternama waktu itu, Tiga Utama, Willy berangkat dengan ONH Plus bersama sejumlah pejabat dan orang terkenal di Indonesia. Antara lain artis Yati Octavia dan dai sejuta umat KH Zainuddin MZ.
Ada kisah menarik saat Willy melaksanakan prosesi atau ritual rukun haji. Saat wukuf di Arafah, ternyata ia bersama KH Zainuddin MZ yang ikut membimbingnya. Termasuk menyarankan berdoa di Jabal Nur sehingga ibu jari tangan kanannya yang sebelumnya sakit karena cantengan langsung sembuh dan kembali seperti sediakala. Ada mukjizat di sana.
Kejadian menarik lainnya, usai semua ritual rukun haji dilaksanakan dan rombongan haji bersiap pulang ke Indonesia, ternyata pesawatnya mengalami “delay” atau keterlambatan.
Di bandar udara, mereka sempat kelaparan. Willy pun sempat membentuk semacam panitia kecil untuk mengajukan komplain kepada PT Garuda Indonesia yang kemudian diberi kompensasi makanan.
Namun tak disangka dan tak dinyana, ternyata kelompok terbang Willy dan rombongan mendapat pesawat pengganti berupa pesawat yang baru tiba seusai mengantarkan rombongan Pak Harto kembali ke Tanah Air. Willy dan panitia kecil lainnya pun mendapat “seat” atau kursi di kelas VVIP di lantai dua yang baru saja digunakan Presiden Soeharto dan rombongan yang tentu saja jauh lebih longgar dan nyaman.
Baru pada 2007, Willy memberangkatkan istri tercintanya, Nancy Mokodangan pergi haji.
Mengapa berhajinya sendiri-sendiri, mulai dari ibunya, kemudian dirinya dan terakhir istrinya, menurut Willy, semua itu terjadi karena keterbatasan biaya.
Tiga tahun setelah berhaji, Willy melaksanakan ibadah umrah tahun 1994. Perjalanan umrah Willy juga Allah permudah. Ia bisa ke Masjidil Aqsa di Jerusalem, Palestina, meskipun saat itu dalam penjagaan ketat tentara Israel. Willy mendapatkan tiket umroh plus dari salah seorang pengurus Persada.
Tahun 2014, Willy umrah lagi. Perjalanan itu bertepatan dengan acara pertukaran pemuda Indonesia-Arab Saudi. Pesertanya 40 orang dari berbagai ormas kepemudaan di Indonesia, ada yang ke Riyadh, Mekkah atau Jeddah. Ini adalah program Akbar Tandjung, Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu.
Sebab itu, Willy bisa umrah bersama-sama sejumlah tokoh asal Indonesia seperti Din Syamsuddin yang kelak menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Slamet Effendy Yusuf yang kelak menjadi Anggota DPR RI, dan Ferry Mursyidan Baldan yang kelak menjadi Anggota DPR RI serta Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN). Kedua nama terakhir sudah meninggal dunia.
Tahun 2016, Willy umrah lagi. Kali ini bersama istri tercinta, Nancy Mokodangan. Usai umrah, Willy dan istri lanjut wisata ke Turkiye.
Tahun 2017, Willy Umrah lagi. Kali ini tidak hanya beserta istri, tapi juga bersama anak bungsunya, Fandy.
Alhasil, perjalanan spiritual haji dan umrah Willy Abdullah Fujiwara pun menjadikan ia semakin “tawadu” atau rendah hati dan semakin menghamba kepada Allah SWT.
Ia menyadari, manusia lahir dalam kondisi telanjang, mati pun telanjang. Setelah lahir dikenakan pakaian, setelah mati dibalutkan kain kafan.
Artinya, manusia ketika lahir tidak membawa materi apa pun. Ketika meninggal dunia pun tak membawa properti apa pun. Kecuali selembar kain kafan.
Pengalaman Spiritual
Selain perjalanan spiritual, Willy Abdullah Fujiwara juga merasakan pengalaman spiritual.
Hal itu terjadi saat ia mengalami sakit syaraf kejepit di pinggulnya. Berbulan-bulan ia tak bisa melakukan aktivitas apa-apa, hanya bisa berbaring di tempat tidur.
Ia pun dibawa keluarganya berobat secara medis ke rumah sakit dan juga secara alternatif ke ahli urut syaraf.
Ia juga sudah konsultasi dengan dokter ahli syaraf Prof Dr Satianegara, Kepala RS Pantai Indah Kapuk dan RS Pertamina.
Selama menjalani pengobatan, Willy tak henti-hentinya berdoa kepada Allah SWT memohon kesembuhan.
Dokter ahli syaraf pun sudah menjadwalkan untuk operasi. Namun kemungkinan sembuhnya 50:50. Artinya, 50 persen kemungkinan sembuh, dan 50 persen kemungkinan lumpuh total. Klaim asuransi pun sudah disiapkan dengan estimasi biaya ratusan juta rupiah.
Willy pun menimbang-nimbang. Nah, saat menimbang-nimbang itulah mukjizat datang.
Sebagai seksi akomodasi sebuah acara, Willy pun harus hadir di sebuah hotel bintang lima di Jakarta tempat acara itu digelar. Ia mendapat fasilitas kamar, kolam renang dan sauna. Dengan dipapah, ia pun mencoba berenang dan dilanjutkan bersauna. Betapa kagetnya dia, setelah renang yang dibantu dengan pelampung dan sauna itu tiba-tiba ia mulai bisa berjalan.
Keesokan harinya, terapi itu pun dilanjutkan, dan ternyata setelah tiga kali ia tidak hanya bisa berjalan tetapi juga mengemudikan mobil sendiri saat pulang.
Di situlah mukjizat terjadi. Dokter ahli syaraf kemudian menyatakan Willy tak perlu operasi. Klaim asuransi pun tak jadi diajukan. Alhamdulillah hingga kini Willy sehat walafiat. Ada hikmah di balik rasa sakitnya. Sakit yang membawa nikmat.
Demikianlah. Willy Abdullah Fujiwara pun menyadari semua itu kehendak Tuhan. Sebab itu, dalam usianya yang hampir menginjak 80 tahun, Willy senantiasa bersyukur. Ia pun mulai meninggalkan hal-hal duniawi.
Semua harta miliknya sudah ia wariskan kepada keempat anaknya. Ia juga mulai membatasi pergaulannya. Willy hanya fokus pada urusan akhirat. Urusan dunia sekadarnya saja untuk menopang kehidupannya.
Kini, Willy sudah merasa siap menghadap Sang Khalik.

























