Fusilatnews – Pak Mohammad Said Didu mengajak kita tertawa bersama. Bukan karena beliau sedang tampil di panggung komedi, melainkan karena kita sedang menyimak Presiden Jokowi menjelaskan manfaat pembangunan MRT dan Kereta Cepat dengan gaya bak dosen ekonomi pembangunan yang sedang ujian lisan. Angka-angka meluncur deras dari mulutnya: efisiensi waktu sekian persen, penghematan bahan bakar sekian liter, dampak ekonomi sekian triliun rupiah. Lengkap, rapi, dan—katanya—ilmiah.
Namun, bagi publik yang terbiasa berpikir kritis, pidato itu justru terdengar seperti lawakan berkelas tinggi. Sebab, di balik angka-angka yang begitu indah itu, realitas di lapangan justru sebaliknya. MRT yang digadang-gadang akan mengurai kemacetan Jakarta, masih kalah jauh dari sepeda motor ojol yang melintas di gang-gang sempit. Penumpangnya tidak membludak seperti janji awal, malah sering lengang di luar jam sibuk. Sementara Kereta Cepat Jakarta–Bandung—yang konon menjadi simbol modernitas bangsa—lebih sering diperdebatkan tarifnya daripada dirasakan manfaatnya.
Mendengar Jokowi berbicara, seolah pembangunan infrastruktur itu telah menyulap Indonesia menjadi negara maju. Tapi Said Didu tahu betul bahwa narasi besar itu sekadar bungkus rapi dari proyek mercusuar yang lebih mementingkan simbol daripada kebutuhan rakyat. Beliau tidak sedang menyindir, hanya mengajak kita tertawa kecil—tertawa agar tidak menangis melihat bagaimana logika publik dikalahkan oleh logika kekuasaan.
Lucunya lagi, Jokowi menyebut bahwa keberadaan proyek-proyek itu akan meningkatkan produktivitas rakyat. Entah rakyat yang mana. Sebab yang meningkat justru utang negara, yang kini menumpuk seperti batu bata yang menyusun rel Kereta Cepat itu sendiri. Ironinya, rakyat yang tidak pernah ikut rapat soal pembiayaan kini ikut menanggung cicilan yang nilainya lebih cepat dari laju keretanya.
Maka, tawa Said Didu bukan tawa ejekan, melainkan tawa kesadaran. Tawa seorang teknokrat yang sudah terlalu sering melihat angka-angka dijadikan jimat untuk meninabobokan akal sehat bangsa. Ia tahu, pembangunan sejati bukanlah tentang seberapa cepat kereta melaju, tetapi seberapa jujur pemerintah melangkah.
Dan di situlah letak humornya: negeri ini sedang sibuk membangun kecepatan, padahal yang tertinggal adalah kebenaran.




















