FusilatNews – Dalam salah satu pidatonya di Kongres IV Tunas Indonesia Raya (Tidar), Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan yang mengandung dimensi kebijaksanaan:
“Tadi terima kasih, ada yang sebut Prabowo dua periode. Saya kira, saya mau koreksi. Kader-kadernya muda, saya mau koreksi saudara-saudara. Please, tolong jangan sebut seperti itu. Kita belum satu tahun menjalankan amanah.”
Pernyataan ini terasa sederhana, tapi justru di sanalah letak kebijaksanaan itu. Di tengah budaya politik yang terburu-buru dan penuh kalkulasi kuasa, seorang Presiden memilih untuk menahan diri. Ia tidak larut dalam euforia “dua periode”, dan lebih memilih menundukkan ambisi demi menjalankan amanah yang belum genap setahun.
Politik Bukan Ajang Lomba Cepat, Tapi Jalan Panjang Kebijaksanaan
Sikap Prabowo ini, jika konsisten, menempatkannya sejajar dengan beberapa negarawan besar dunia yang juga memahami bahwa kekuasaan adalah alat, bukan tujuan.
Nelson Mandela, misalnya, setelah puluhan tahun dipenjara dan kemudian terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan, hanya menjabat satu periode meski sangat mungkin memperpanjang kekuasaan. Ia memilih mundur setelah lima tahun demi menjaga stabilitas demokrasi muda di negaranya. Dalam keputusannya itu, Mandela menyadari bahwa warisan terbaik bukanlah kekuasaan yang terus digenggam, melainkan contoh keteladanan dalam menyerahkan kekuasaan.
Lee Kuan Yew, pendiri Singapura modern, juga memahami pentingnya transisi dan regenerasi dalam kekuasaan. Ia tidak menunggu sampai rakyat bosan atau kondisi memaksa, tapi memilih menyerahkan kepemimpinan saat momentum tepat telah tiba. Bahkan setelah tak lagi menjadi Perdana Menteri, ia tetap memberi kontribusi sebagai mentor dan pembimbing pemerintahan baru.
Prabowo, meskipun belum terbukti sejauh itu, tampaknya menyadari bahwa terlalu cepat bicara soal periode kedua justru akan menggerus kepercayaan publik. Kebijaksanaan dalam politik sering kali diuji bukan pada saat memegang kuasa, melainkan ketika harus memilih menahan atau menggunakannya.
Gibran dan Politik Timing
Dalam konteks ini, kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi elemen sensitif. Banyak yang menilai ia tengah dipersiapkan—oleh Jokowi atau bahkan dirinya sendiri—untuk menjadi calon presiden di masa depan. Tapi Prabowo tampaknya masih ewuh pakewuh, enggan meluncurkan narasi besar tentang estafet kekuasaan sebelum waktunya.
Mungkin ia belajar dari tokoh-tokoh besar tadi, bahwa waktu memiliki peran penting dalam sejarah. Kepemimpinan yang terburu-buru mencalonkan penerus sering kali berujung pada resistensi dan konflik. Sebaliknya, memberi ruang bagi proses alamiah politik akan jauh lebih diterima publik, dan lebih berumur panjang.
Kesimpulan: Menunda Ambisi, Menata Amanah
Pernyataan Prabowo bukan hanya gestur retoris. Jika diikuti dengan langkah nyata dalam mengedepankan kerja, etika, dan hasil di atas popularitas, maka itu adalah wujud dari kebijaksanaan sejati. Seperti Mandela yang menahan diri di tengah popularitas, atau Lee Kuan Yew yang tahu kapan harus mundur, Prabowo pun sedang diuji: apakah ia akan menjadi pemimpin biasa yang hanya ingin dua periode, atau menjadi negarawan yang mendahulukan kualitas dari pada kuantitas kekuasaan.
Di tengah hiruk-pikuk politik yang makin transaksional, sikap seperti ini bisa menjadi embun sejuk. Tapi hanya waktu yang akan membuktikan: apakah pernyataan itu akan menjadi fondasi kepemimpinan bijak, atau sekadar sandiwara sementara.






















