Fusilatnews – Sahabatku itu hidup dengan satu bekal paling sunyi namun paling kokoh: kepasrahan kepada kehendak Ilahi. Dari sanalah takdir menyingkapkan rahasianya, dan hidup pun menjelma rangkaian keajaiban—datang tanpa diminta, namun selalu tepat waktu.
Sebagaimana firman Allah: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Talaq: 3)
Kepasrahan bukanlah menyerah tanpa ikhtiar. Ia justru puncak dari usaha yang jujur, ketika tangan bekerja sepenuh daya dan hati beristirahat sepenuhnya pada Tuhan. Dalam kepasrahan, manusia berhenti memaksa semesta agar tunduk pada egonya, dan mulai menyelaraskan langkah dengan hikmah-Nya.
Allah mengingatkan: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Kita sering letih karena ingin mengendalikan segalanya. Kita resah karena menakar masa depan dengan kecemasan, bukan dengan iman. Padahal, ketenangan lahir bukan dari kepastian dunia, melainkan dari keyakinan kepada Yang Maha Mengatur.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Sahabatku mengajarkan tanpa banyak kata: hidup yang ditopang tawakal akan berjalan ringan, meski jalannya menanjak. Ketika rencana runtuh, ia tidak runtuh. Ketika doa tertunda, ia tidak putus asa. Ia percaya bahwa penundaan bukan penolakan, dan kesunyian Tuhan bukan ketiadaan kasih sayang.
Seperti nasihat Ibn ‘Athaillah As-Sakandari: “Istirahatkan dirimu dari mengatur; apa yang telah diurus oleh selainmu, jangan kau sibukkan dirimu dengannya.”
Nasihat ini bukan ajakan untuk pasif, melainkan undangan untuk jujur pada batas manusia. Ikhtiar adalah kewajiban, hasil adalah rahasia. Di titik inilah iman menemukan keindahannya: bekerja seakan segalanya bergantung pada kita, lalu berserah seakan segalanya telah diatur-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Kita pun diajak belajar menafsirkan hidup dengan lapang. Tidak setiap luka adalah hukuman; tidak setiap kehilangan adalah keburukan. Ada doa yang dijawab dengan kekuatan, bukan dengan apa yang diminta. Ada jalan yang dipersempit agar kita kembali menengadah.
“Dan boleh jadi Allah menjadikan pada yang demikian itu kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)
Pada akhirnya, kepasrahan adalah seni berdamai dengan ketetapan, tanpa mematikan harapan. Ia membuat kita teguh tanpa menjadi keras, lapang tanpa menjadi lalai. Dalam kepasrahan, kita belajar rendah hati: bahwa hidup ini bukan tentang menang atas dunia, melainkan tentang selamat di hadapan Tuhan.
Seperti kata Jalaluddin Rumi: “Ketika aku melepaskan apa yang kupikir seharusnya terjadi, aku menemukan apa yang memang ditakdirkan untukku.”
Maka, nasihat ini untuk kita semua: rawatlah ikhtiar dengan kesungguhan, dan rawatlah hati dengan tawakal. Jika langkahmu goyah, ingatlah bahwa ada tangan yang tak pernah lalai menggenggam semesta.
“Cukuplah Allah sebagai Penolong.” (QS. An-Nisa: 45)
Di sanalah keajaiban hidup bermula—bukan karena dunia berubah, tetapi karena hati telah pulang kepada-Nya.


























