Fusilatnews- Angka 72 persen — bahkan dalam beberapa survei mencapai 71,4 % hingga 74,8 % — yang menyatakan puas terhadap kinerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi pilihan angka yang menggelisahkan. Pilihan angka ini seakan menghianati akal sehat dan nurani kita semua — karena bukankah seluruh rakyat Indonesia menyaksikan dengan mata sendiri?
Saksikanlah. Kita punya wapres yang, jika kita menilai dengan ukuran kepemimpinan dan kompetensi yang selama ini dijadikan standar, tampak sekali kekurangannya:
- Dalam pidato atau berbicara di depan publik, ia terlihat gagap — bukan hanya sekali atau dua kali, namun tampak serangkaian momen yang menunjukkan bahwa komunikasi publiknya belum matang.
- Dari sisi intelektual, jika ukuran kita adalah kemahiran dalam berpikir kritis, argumentasi yang tajam, kemampuan menganalisa yang jelas — maka Wapres ini bisa dikatakan memiliki intelektual di bawah rata-rata dalam bingkai ekspektasi publik terhadap jabatan sebesar itu.
- Leadershipnya? Jika kita bandingkan dengan pendahulu-pendahulu yang duduk di posisi wakil presiden atau pemimpin negara lain, maka kepemimpinan beliau sama sekali tidak memadai. Bukan hanya soal visi, tetapi soal eksekusi, pengaruh, kesiapan menghadapi krisis, dan kredibilitas.
- Bahkan sekarang soal latar belakang pendidikannya menjadi bahan perdebatan — ada keyakinan publik bahwa beliau hanya memiliki ijazah SMP, atau setidak-nya pendidikan formalnya tidak sebagaimana yang umum dipersyaratkan untuk jabatan sebesar itu. Jika fakta ini benar, maka hal ini menjadi kecemasan serius bagi legitimitas jabatan yang diembannya.
Jika beliau berada dalam lingkungan wakil presiden RI yang selama ini kita kenal — para figur yang punya pengalaman birokrasi, pemerintahan, atau politik matang — maka Gibran akan tampak seperti sampah, dalam arti: figur yang tidak pantas, tidak dalam level yang bisa dibandingkan secara adil.
Jika beliau berada di lingkungan anak muda — generasi yang produktif, inovatif, berprestasi dan punya latar belakang pendidikan yang kuat — maka ia tampak tak punya prestasi apa-apa real yang bisa mengangkat dirinya ke level setara teman-sebayanya; latar belakang pendidikan yang “amburadul” (kalau memang demikian) membuat jarak antara ekspektasi dan kenyataan makin lebar.
Jika beliau berada di lingkungan pengusaha — yang notabene diukur berdasarkan bisnis, manajemen, inovasi, efisiensi, profit dan reputasi — maka Gibran hanya nampak sebagai anak presiden yang kebetulan saja pengusaha; bukan pengusaha yang secara independen menoreh prestasi gemilang atau mendunia. Citra “anak presiden” ini mengaburkan garis antara meritokrasi dan nepotisme — dan itulah yang menimbulkan kecurigaan publik.
Maka ketika kita mendengar angka survei seperti 72 % puas — atau lebih tinggi menurut survei terkini — muncul pertanyaan besar: Apakah angka ini realistis, ataukah angka ini pembenaran bagi status quo? Apakah angka ini mencerminkan efektivitas nyata, ataukah sekadar citra yang dikelola?
Kepada akal sehat kita: Apakah wajar bahwa figur yang kita nilai memiliki kelemahan sedemikian besar kemudian mendapatkan skor kepuasan publik yang tinggi? Apakah nurani kita tenang menerima bahwa standar kepemimpinan kini sekadar “cukup puas” padahal ekspektasi rakyat terhadap wakil presiden jauh lebih tinggi?
Tantangan ke depan: Jika pemerintahan ini bersandar pada angka-angka kepuasan yang tinggi, namun di baliknya terdapat banyak kekhawatiran (ekonomi belum stabil, harga pokok masih tinggi, lapangan kerja masih kurang) — maka ketidakpuasan laten itu bisa menjadi bom waktu bagi legitimasi dan keberlanjutan pemerintahan.


























