Jakarta – Fusilatnews – Kesaksian Dramatis Vera Simanjuntak dalam sidang pembunuhan berencana terhadap Brigadir J dengan Terdakwa Ferdi Sambo dan isterinya Putri Candrawati yang berlangsung Selasa 1/11/ 2022 kemarin di Pengadilan Negeri Jaksel, mengungkapkan cerita dramatis dalam pembicaraan telephone pada tengah malam 21 Juni,
Setelah melakukan pembicaraan telephon tengah malam dengan pacarnya Brigadir J, saksi Vera Simanjuntak merasa ada yang tidak beres dengan diri Brigadir J. dan puncaknya pada pembicaraan terakhir 7 Juli sehari sebelum Brigadir J dieksekusi mati oleh Bharada Richard Elizer atas perintah Ferdi Sambo di Duren Tiga 46, Jakarta Selatan (Jaksel), Jumat 8/7/2022.
Pada tengah malam 21 Juni, Brigadir J meneleponnya dari Jakarta. Awalnya pembicaraan norma-normal saja. “Almarhum (Brigadir) nanya, saya lagi dimana,” kata Vera. Pertanyaan umum itu, Vera jawab dengan biasa, bahwa ia sedang berada di rumah.
“Lalu saya tanya, Abang enggak dinas,” kata Vera. Brigadir J menjawab pada saat itu dirinya yang sedang tak dinas. Obrolan menjadi tidak biasa setelah Brigadir J menceritakan dirinya sedang dalam masalah.
Bujukan Vera tak membuat Brigadir J terus terang. Kata Vera, justeru Brigadir J membuat situasi sentimental dengan menyampaikan akan menghadapi masalah itu seorang diri. “Nggak lah dik. Biarlah aku sendiri yang menanggung semua ini,” kata J dalam cerita Vera.
Vera mengatakan, Brigadir J pun malah membuat situasi pembicaraan menjadi dramatis karena meminta kekasihnya itu mencari calon suami pengganti. “Kenapa kau masih menunggu abang dik?” tanya Brigadir J kepada Vera.
Vera mengaku heran dengan pertanyaan tersebut. Tetapi Vera merespons dengan sabar. “Saya masih nunggu abang,” jawab Vera. Akan tetapi, jawaban tersebut juga tak membuat Brigadir J semangat.
“Abang sedang ada masalah dik,” kata Vera menirukan ucapan kekasinya saat itu. selanjutnya Vera bertanya balik tentang masalah brigadir J.
Menurut Vera, selama berpacaran dengan Brigadir J, tak pernah menceritakan masalah yang krusial. Namun pada 21 Juni malam itu, Brigadir J seperti hendak menceritakan masalah besar, kata Vera, Brigadir J mengurungkan menceritakan masalahnya
“Dia bilang, abang ada masalah. Tapi enggak bisa cerita masalah ini. Baik ke mamak, baik ke bapak, ke Reza (adik Brigadir J), Kak Yuli, atau ke adik,” kata Brigadir J yang tiru Vera.
“Saya bilang, masalah apa Bang. Ceritalah. Jangan dipendam sendiri,” kata Vera, , Vera.
Rupanya pembicaraan dua sejoli itu mengarah pada situasi dramatis, menciptakan rasa penasaran bagi Vera. tapi Vera menahan diri untuk tidak memaksa Brigadir J untuk menceritakan lebih dalam.
“Kenapa kau masih menunggu abang dik?” tanya Brigadir J kepada Vera.
“Saya masih nunggu abang,” jawab Vera sambil terkejut heran. Tapi jawaban itu juga tak membuat Brigadir J semangat
“Bukalah hatimu buat laki-laki lain. Nikah, punya anak kalian. Bahagia. Kalau abang, sendiri dik,” kata Brigadir J.
Permintaan Brigadir J kepada kekasihnya untuk menikah dengan lelaki lain sangat mengejutkan Vera.
“Saya bilang, ‘nggak mau. Aku mau mau menikahnya sama abang’,” ujar Vera.
“Abang sudah enggak sayang sama adik lagi?” tanya Vera. menguji cinta Brigadir J
“Dadaku sesak dik. Aku mau tidur saja,” kata J.
Firasat Vera mulai muncul bahwa Brigadir J sedang dalam kondisi sakit jasmani. selanjutnya Vera bertanya kepada Brigadir J. “Abang sakit?,”
“Adik telepon Reza ya, buat antar obat buat abang,” kata Vera.menawarkan diri.
“Enggak usah dik. Aku tidur saja,” kata Brigadir J.
Cerita berlanjut pada komunikasi terakhir, 7 Juli 2022 malam, sekitar jam 8 malam
“Dia menelepon sekitar jam delapan malam,” Cerita Vera.
Setelah 4 kali panggilan telephone tak terjawab baru sekitar jam setengah sembilan panggilan baru bisa dijawab.
“Sekitar jam setengah sembilan (malam), dia telepon lagi. Dan saya baru dapat menjawab,” kata Vera.
Karena sambungan terputus-putus Brigadir J meminta tempat khusus untuk berbicara via telephon.
“Saya bilang waktu itu, ‘ada apa bang?” kata Vera.
Selanjutnya Vera mendengar suara nada tinggi dari mulut Brigadir J mengatakan “Kurang ajar orang ini,” kata Brigadir J kepada Vera.
“Kurang ajar bagaimana bang?” jawab Vera
Selanjutnya Brigadir J menceritakan tuduhan yang membuat Putri Candrawathi sakit. “Ibu (Putri Candrawathi) sakit, aku dituduh buat ibu sakit,” kata Brigadir J.
“Sakit apa?” tanya Vera. Brigadir J menjawab, tak tahu. Selanjutnya, Brigadir J menyampaikan dirinya diancam-ancam.
“Aku diancam. Berani ke atas, ku bunuh kau,” kata Vera menceritakan ucapan Brigadir J.
Vera mengaku semakin tak mengerti. Lalu bertanya. “Siapa yang ancam?” tanya Vera.
jawaban Brigadir J tentang istilah yang menurut Vera susah dimengerti . “Skuat, skuat di sini,” kata Brigadir J.
“Emang abang apain ibu? pukul ibu?” tanya Vera.
“Nggak lah dik,” jawab Brigadir J.
Vera lalu mengatakan kepada Brigadir J untuk tak perlu cemas dan ketakutan. “Kalau abang enggak salah, ya sudah jangan takut,” kata Vera.
Obrolan tentang itu pun berhenti. Setelah itu, Vera baru mengetahui tentang keberadaan Brigadir J yang sedang di Magelang, Jawa Tengah. Keesokan harinya, Jumat (8/7/2022),
Menurut Vera Brigadir J pun telepon kembali, tapi telepon itak terjawab langsung.
Menurut ingatan Vera empat kali panggilan tak terjawab di selulernya sejak pukul 16.10 WIB.
“Saya tidak angkat karena sedang dalam perjalanan untuk beli perlengkapan keluarga,” terang Vera.
sekitar pukul 16.31 WIB, Vera menelepon balik ke nomor ponsel Brigadir J. . “Terus dia angkat. Terus saya bilang, ada apa bang?” tanya Vera.
Brigadir J pun pada saat itu tampak sibuk dengan mengatakan nanti akan ditelepon kembali. “Nanti abang telepon lagi,” kata Vera meniru ucapan terakhir Brigadir J.
Selepas itu, sudah tak ada lagi komunikasi dengan Brigadir J. Pada sekitar pukul 22.00 WIB, Vera mendapatkan kabar dari salah satu calon adik iparnya bahwa Brigadir J sudah meninggal dunia.
“Adik mendiang, bernama Devi (Devianita Hutabarat) menelepon saya, sambil nangis-nangis bilang, ‘kak abang ditembak. abang ditembak kak’,” cerita Vera.
Vera mengaku tak percaya dengan kabar tersebut. “Ditembak bagaimana?” kata Vera. Namun, Devi tidak menuntaskan cerita.
Kabar Brigadir J meninggal dunia karena tembak-menembak Vera terima dari keluarga saat datang ke rumah duka.
Vera Simanjuntak tergabung bersama 11 saksi termasuk kedua orang tua Brigadir J, Samuel Hutabarat dan Rosti Simanjuntak. yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.
























