“Jatuh sendiri, temannya kan di belakang. Itu murni kecelakaan,” ujar Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar M. Syahduddi, saat ditemui di Polda Metro Jaya, Rabu
Jakarta – Fusilatnews – Kesimpulan Polres Metro Jakarta Barat penyebab siswa kelas IX SMPN 132 Cengkareng, Jakarta Barat yang jatuh dari lantai empat sekolahnya dan meninggal lantara terpeleset kemudian meluncur lewat lubang jendela ruang kelas yang menganga.
“Jatuh sendiri, temannya kan di belakang. Itu murni kecelakaan,” ujar Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar M. Syahduddi, saat ditemui di Polda Metro Jaya, Rabu (11/10)
Dimas, nama sapaan murid itu, diketahui jatuh terempas ke jalan di permukiman belakang sekolahnya itu saat masuk waktu istirahat pada pukul 09.45 WIB, Senin, 9 Oktober 2023. Dia bersama teman-temannya masuk ke sebuah kelas di lantai 4 sambil makan, lalu menaiki jendela kelas.
Menurut keterangan saksi, kata Syahduddi, Dimas hendak merokok saat di kelas tersebut. Dia sempat menaiki sebuah kursi untuk menggapai jendela itu tapi nahas kakinya tidak berpijak tepat di bagian bangunan sekolah. “Dari bangku itu dia lompat, kepeleset,” tuturnya.
Syahduddi juga memastikan bahwa Dimas tidak mengalami perundungan oleh rekan-rekannya sebelum terjatuh. Keterangan itu juga didapatkan dari kesaksian teman-teman korban yang menyaksikan.
Kapolsek Cengkareng Komisaris Hasoloan Situmorang mengatakan murid jatuh itu mengalami luka parah di bagian kepala hingga darahnya berceceran. Hasoloan mengatakan, korban dilakukan visum et repertum di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Sebelumnya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta transparansi dalam kasus tewasnya pelajar SMPN 132 Cengkareng, Jakarta Barat, akibat terjatuh dari lantai empat gedung sekolah tersebut.
Ketua KPAI Ai Maryati Solihah menyatakan, transparansi jika ditemukannya kelalaian tersebut perlu diberitahukan kepada publik agar dijadikan pembelajaran.
“Kalau saya menemukan bukti-bukti adanya kelalaian, ini harus tetap disampaikan sebagai pembelajaran publik,” kata Maryati di Jakarta pada Selasa ( 10/10 ).
Menurut Maryati mekanisme belajar- mengajar di sekolah korban harus dievaluasi, termasuk pengawasan saat jam istirahat pelajar.
“Kemudian bagaimana pengawasan ketika istirahat? Karena semua sekolah memang istirahat pada jam itu,” katanya.
“Ini juga apakah perlu ada reformasi di dalam sekolah. Bahwa kalau di saat istirahat pun ada piket, tetap anak-anak ini dipantau,” katanya.
Maryati juga meminta perhatian pihak sekolah terhadap sarana dan prasarana sekolah, menyusul fakta yang ditemukan bahwa korban terjatuh dari jendela tanpa teralis dan kaca.
“Kembali pada sarana dan prasarana yang harus segera ditangani karena memang di situlah sektor penting pendidikan,” katanya.
Maryati menekankan sarana dan prasarana sekolah harus mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.
“Sekecil apapun sarana-prasarana harus mencegah peristiwa yang tidak kita inginkan dan sudah kesanggupan dan kesiapan untuk segera mengantisipasi,” kata Maryati.























