• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ketika Demokrasi Kehilangan Nurani: Keadilan Tak Bisa Dimenangkan oleh Suara Terbanyak

fusilat by fusilat
December 6, 2025
in Feature, Politik
0
Ketika Demokrasi Kehilangan Nurani: Keadilan Tak Bisa Dimenangkan oleh Suara Terbanyak
Share on FacebookShare on Twitter

Optic Macca
Sore, October 16, 2025

Hati nurani adalah mayoritas sejati—kelompok dari jiwa-jiwa yang masih sehat.

Andai mereka benar-benar argumentatif, mestinya mereka paham bahwa demokrasi hanya berarti menerima suara terbanyak. Namun suara terbanyak bukanlah kebenaran, dan demokrasi bukan alat untuk memvoting keadilan. Sebab keadilan bukan milik mayoritas; ia adalah hak setiap manusia. Ia lahir dari nurani yang bersih—dari hati yang mampu membedakan antara benar dan hanya sekadar menang. Demokrasi tanpa keadilan hanyalah kekuasaan yang memakai topeng moralitas.

Jean-Jacques Rousseau pernah menulis bahwa “kehendak umum” (volonté générale) bukanlah kehendak mayoritas, melainkan arah bagi kebaikan bersama. Namun dalam praktiknya, kehendak mayoritas kerap disulap menjadi kehendak umum, dan di sanalah demokrasi mulai tersesat. Alexis de Tocqueville telah lama mengingatkan bahaya itu: the tyranny of the majority. Ketika suara terbanyak dianggap selalu benar, demokrasi berubah menjadi bentuk baru dari penindasan—halus, legal, tetapi tetap menyakitkan bagi kebenaran.

Di Timur, Imam Al-Ghazali menyampaikan hal serupa dengan cara lebih lembut dan spiritual: kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut, tetapi oleh cahaya ilmu dan ketulusan hati. Al-haqq la yu’raf bi al-rijal, walakin al-rijal yu’rafu bi al-haqq—kebenaran tidak diukur dari siapa yang paling banyak diikuti, melainkan dari apa yang hakiki. Maka ketika manusia menjadikan suara terbanyak sebagai ukuran kebenaran, mereka sedang menukar nurani dengan statistik dan mengganti hikmah dengan popularitas.

Sebut saja “mereka” itu sebagai kaum liberalisme tanpa etika—adik kandung para sekularis, sepupu kaum orientalis—yang memuja kebebasan tetapi lupa pada tanggung jawab moral. Kebebasan dijadikan berhala baru, sesuatu yang disembah tanpa arah kebajikan. Ada pula para pecandu teks orientalisme, yang melihat bangsanya sendiri dengan kacamata asing. Mereka percaya kemajuan hadir dari meniru Barat, padahal Barat sendiri sedang limbung ketika nilai spiritual digantikan pasar dan citra.

Dan ada pula kaum sekularis yang yakin moral publik bisa tegak tanpa fondasi iman. Mereka meyakini manusia sanggup membuat moralitasnya sendiri, padahal manusialah makhluk paling rapuh dalam menahan syahwat kekuasaan. Bagi mereka, agama harus diusir dari ruang publik demi rasionalitas. Yang tak mereka sadari: ketika agama diasingkan, yang masuk bukan kebebasan—melainkan kehampaan.

Keadilan sejati tidak lahir dari ideologi, tidak juga dari teori politik. Ia tumbuh dari kesadaran terdalam bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang sama berharganya. Dalam kesadaran itu, tidak ada yang benar karena banyak, dan tidak ada yang salah karena sedikit. Demokrasi seharusnya menjaga keseimbangan antara akal dan moral, antara suara dan nurani. Tanpa itu, ia hanya menjadi ritual lima tahunan: gaduh, penuh janji, tetapi miskin makna.

Kita sedang hidup pada masa ketika kebenaran mudah dibungkam atas nama mayoritas. Ketika seseorang membela yang lemah, ia dituduh anti-demokrasi. Ketika minoritas menuntut haknya, mereka dianggap mengganggu ketertiban. Padahal demokrasi sejati justru diukur dari keberaniannya melindungi yang lemah dari tirani yang kuat.

Rousseau menulis bahwa manusia dilahirkan merdeka, tetapi di mana-mana ia terbelenggu. Hari ini, belenggu itu bukan lagi raja atau tiran, melainkan keseragaman berpikir yang membunuh kejujuran. Al-Ghazali mengingatkan bahwa manusia bisa menjadi lebih sesat dari binatang bila akalnya tak dibimbing hati. Inilah tragedi demokrasi modern: kita memuja kebebasan, tapi enggan mencari kebenaran. Kita memekik hak, tapi diam ketika bicara tentang tanggung jawab.

Mungkin yang kita butuhkan bukan demokrasi yang ramai, melainkan demokrasi yang berjiwa. Demokrasi yang tidak hanya menghitung suara, tapi menimbang nurani. Yang memberi hak berbicara, namun juga mengajarkan kewajiban untuk mendengar. Yang mengandalkan logika, tetapi menyalakan empati.

Bangsa yang besar bukan ditentukan oleh berapa banyak mulut yang bersuara, tapi oleh seberapa dalam mereka menyimak. Dan mungkin inilah saatnya berhenti bersembunyi di balik jargon “suara rakyat suara Tuhan.” Sebab demokrasi sejati bukanlah paduan suara yang nyaring, melainkan komitmen pada kejujuran, tanggung jawab, dan cinta pada kebenaran.

Pada akhirnya, suara terbanyak bisa saja memenangkan pemilu—bahkan yang cacat konstitusi sekali pun. Tetapi tanpa keadilan, suara itu akan selamanya kalah di hadapan sejarah… dan di hadapan Tuhan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

MU: Bencana Alam, Karma yang Mestinya Menyadarkan Manusia

Next Post

Akar Kemakmuran Sebuah Bangsa: Kepastian Hukum dan Martabat Keadilan

fusilat

fusilat

Related Posts

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?
Feature

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua
Feature

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor
Politik

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Next Post
ETIKA HUKUM : Ahli ‘akal-akalan’ Hukum

Akar Kemakmuran Sebuah Bangsa: Kepastian Hukum dan Martabat Keadilan

Family Gathering YAPTI Resmi Digelar, Subu Tegaskan Arahan Ketua Yayasan

Family Gathering YAPTI Resmi Digelar, Subu Tegaskan Arahan Ketua Yayasan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Birokrasi

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

by Karyudi Sutajah Putra
June 12, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.--Pengadilan Militer II-08 Jakarta akhirnya menjatuhkan vonis terhadap empat personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah terbukti melakukan penyiraman...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Per 1 September 2023 Pertamina Naikkan Semua Harga BBM Non Subsidi

Kenaikan BBM dan Momentum Kerakusan

June 12, 2026

REVOLUSI KEDUA DAN UJIAN MORAL PARA VETERAN

June 12, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist