Jakarta-Fusilatnews – Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di tiga provinsi di Pulau Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, 25-30 November 2025, merupakan karma atas perbuatan manusia yang serakah. Manusia membabat hutan dan menggali tambang samau mereka. Karma itu sebagai peringatan agar manusia sadar.
Demikian pandangan mantan anggota Komisi IV DPR RI, yang membidangi masalah kehutanan, I Made Urip saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (6/12/2025).
Alam yang kini sedang murka di Sumatera, kata MU, panggilan akrab I Made Urip, sedang menyembuhkan diri dari luka-luka akibat keserakahan manusia yang melakukan alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit dan menggali tanah untuk membuka tambang secara tak terkendali. Alam pun sedang mencari keseimbangan baru.
“Karena keserakahan manusia melukai alam, kini giliran alam melukai manusia. Ada hukum timbal-balik, sebab-akibat, kausalitas atau hukum karma di sana. Itulah cara alam menyembuhkan luka-lukanya dan mencari keseimbangan baru,” jelas MU, anggota DPR RI dari PDI Perjuangan selama lima periode berturut-turut, yakni 1999-2004, 2004-2009, 2009-2014, 2014-2019 dan 2019-2024 dari daerah pemilihan Bali. 
Sayangnya, kata MU, yang terkena dampak dari amuk alam itu bukan mereka yang membabat hutan dan menggali tanah, tapi justru rakyat yang tak berdosa.
“Sebab itu, para pelaku pembalakan liar (illegal logging) dan penambangan liar (illegal mining) harus dimintai pertanggungjawanan secara hukum, baik perdata maupun pidana,” pintanya.
Mantan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP ini pun mendesak semua pihak agar transparan dan tidak ada yang menutup-nutupi fakta hukum di balik bencana alam di tiga provinsi di Sumatera ini yang boleh disebut sebagai tragedi kemanusiaan jika dilihat dari jumlah korban.
Di sisi lain, MU mendesak agar para pemegang izin-izin hak pengelolaan hutan, perkebunan dan tambang yang terbukti nakal dicabut. “Pun dilakukan evaluasi menyeluruh, serta moratorium izin HPH, perkebunan dan tambang selama evaluasi berjalan,” sarannya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Jumat (6/12/2025) sore, jumlah korban akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumut dan Sumbar mencapai 867 orang meninggal dunia, 521 orang masih hilang, dan 4.200 orang luka-luka. “Segera tetapkan bencana di Sumatera ini sebagai bencana nasional,” pintanya lagi.
MU yang beragama Hindu itu pun memandang bencana alam dari kacamata agamanya, di mana bencana alam itu terjadi akibat ketidakharmonisan hubungan antara alam semesta atau Bhuana Agung dan manusia atau Bhuana Alit.
Menurut pandangan Hindu, kata MU, bencana alam seperti banjir, tanah longsor, atau gempa bumi adalah akibat dari hukum karma dan ketidakseimbangan alam (ketidakseimbangan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit) yang disebabkan oleh perilaku manusia yang merusak harmonisasi dengan alam, termasuk pelanggaran terhadap hukum alam universal dan minimnya ruang terbuka hijau, bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan cerminan teguran agar kembali menjaga keharmonisan.
“Bencana adalah buah dari perbuatan (karma) manusia di masa lalu, baik secara individu maupun kolektif, yang melanggar keseimbangan alam.
Ada hukum alam universal yang dilanggar,” sesalnya.
Ya, jelas MU, ada hukum alam universal yang mengatur keteraturan semesta. “Ketika manusia melanggar hukum ini melalui eksploitasi alam, ketidakseimbangan terjadi dan memicu bencana,” tegasnya.
Menurut MU, keseimbangan antara alam semesta (Bhuana Agung) dan manusia (Bhuana Alit) sangat penting. “Kerusakan pada satu pihak akan mempengaruhi pihak lain, sehingga bencana adalah tanda bahwa keseimbangan ini terganggu,” tukasnya.
MU lalu memaparkan konsep Tri Hita Karana, yakni filosofi yang menekankan tiga jalan menuju kebahagiaan manusia, yakni keharmonisan dengan Tuhan, keharmonisan dengan sesama manusia, dan keharmonisan dengan alam semesta.
“Bencana terjadi ketika aspek hubungan dengan alam dan sesama terabaikan,” tutur sosok low profile ini.
Intinya, kata MU, bencana alam adalah teguran agar manusia menjadi sadar dan mengubah perilakunya. Jika tidak, katanya, bukan tidak mungkin bencana alam serupa akan terjadi di wilayah-wilayah lain di Indonesia, termasuk Pulau Bali yang akhir-akhir ini kerap dilanda banjir besar.


























