Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Jakarta, Fusilatnews – Salah satu manifestasi dari rasa cinta umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW adalah dengan banyak membaca selawat.
“Pertama adalah banyak-banyak membaca sholawat. Kedua adalah dengan menjaga peninggalannya, yakni kitab suci Al Quran dan Al Hadits,” kata Ustadz
Maulana Bashil Arsalan SPdI yang lebih populer dengan sebutan Kiai Jaka Cinta.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, kata Kiai Jaka Cinta,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR Malik, Al Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, dan Ibnu Hazm).
Hal itu disampaikan Kiai Jaka Cinta saat menjadi penceramah dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Musholla At Taubah, Peninggaran, Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, Sabtu (19/10/2024) malam.
Hadir dalam acara itu Ketua Dewan Kemakmuran Musholla (DKM) At Taubah H Mochamad Subekto, Wakil Ketua RW 09 Kelurahan Kebayoran Lama Utara (KLU) Ustadz Tarsono SAg, dan sejumlah Ketua RT di lingkungan RW 09 KLU seperti Ketua RT 04 Ustadz Mukarobin, Ketua RT 05 Ahmad Mujio, Ketua RT 06 Siswanto, dan Ketua RT 07 Suwandi.
Tampil sebagai qari atau pembaca ayat-ayat suci Al Quran adalah Ustadz Muhammad Sahidun SQ MA, dilanjutkan dengan pembacaan selawat Nariyah oleh sesepuh masyarakat Madura di Jakarta H Hora Rizal.
Adapun salah satu hikmah dari diadakannya acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, kata Kiai Jaka Cinta adalah untuk menambah kecintaan umat kepada Rasulullah. “Dengan mengadakan acara Maulid ini maka cinta kita kepada Rasulullah SAW akan bertambah,” jelasnya.
Menurut Kiai Jaka Cinta, ada tiga fase Maulid Nabi. Fase pertama adalah saat “nur” Muhammad diciptakan Allah SAW dan dititipkan ke Nabi Adam AS hingga Nabi Ismail AS, lalu ke Abdul Muthalib dan terakhir ke Abdullah, kakek dan ayah Nabi Muhammad SAW sebelum Nabi dilahirkan.
“Dengan adanya ‘nur’ Muhammad dalam diri Abdullah dan kemudian dikandung Siti Aminah, maka ayah dan ibu Nabi Muhammad SAW itu kemudian menjadi hamba yang mulia,” tutur Kiai Jaka Cinta.
Penciptaan “nur” Muhammad yang berasal dari “Nur” Allah SWT itulah, kata Kiai Jaka Cinta, yang menyebabkan Allah menciptakan dunia beserta seluruh isinya ini.
Ia lalu mengutip Hadits Qudsi yang berbunyi, “Seandainya tidak ada Engkau (Muhammad) maka Aku (Allah) tidak akan menciptakan alam semesta.”
Fase kedua, kata Kiai Jaka Cinta, adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW itu sendiri pada 12 Rabiul Awal. Banyak literatur menyebut, Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun Gajah atau tepatnya 22 April 571 Masehi.
Adapun fase ketiga, kata Kiai Jaka Cinta, adalah diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah dalam usia 40 tahun yang kemudian menjadi “uswatun hasanah” atau suri teladan yang baik.
“Allah tidak menyebut salat Nabi sebagai teladan, atau zakat Nabi sebagai teladan, atau puasa Nabi sebagai teladan. Tapi Allah menyebut seluruh ucapan dan tindakan Nabi adalah sebagai ‘uswatun hasanah’,’ tandasnya.
Sementara itu, dalam pidatonya mewakili Ketua RW 09 KLU H Anas Karim Rivai, Ustadz Tarsono SAg mengajak semua warga untuk menjaga suasana kondusif menjelang pelantikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dilangsungkan hari ini, Ahad (20/10/2024) oleh MPR di Senayan, Jakarta.
Ustadz Tarsono juga mengajak seluruh warganya agar menggunakan hak pilih pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta yang akan digelar pada 27 November mendatang.
“Beda pilihan enggak apa-apa, itulah demokrasi. Yang penting kita tetap menjaga kerukunan. Satu lagi, kami juga minta agar sebagai warga negara yang baik, kita menggunakan hak pilih dalam Pilkada. Jangan golput. Kasihan Panitia Pilkada yang telah bekerja keras,” katanya.























