• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Health

Satu Dekade Pemerintahan Jokowi Dituding Tidak Serius Menangani Permasalahan Stunting

Redaktur Senior 03 by Redaktur Senior 03
October 20, 2024
in Health
0
Satu Dekade Pemerintahan Jokowi Dituding Tidak Serius Menangani Permasalahan Stunting
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta  – Fusiĺatnews  –  Target pemerintah menurunkan angka prevalensi stunting menjadi 14 persen pada 2024 menguap seiring berakhirnya pemerintahan Presiden Jokowi. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia yang dilakukan Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting per Juni 2023 tercatat sebesar 21,5 persen. Angka itu masih belum memenuhi standar WHO di bawah 20 persen

“Dengan prevalensi 21 persen itu, Indonesia masih berada di deretan lima besar negara dengan stunting tertinggi di Asia Tenggara,” kata peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Betta Anugrah, kepada Tempo, Kamis, 17 Oktober 2024.

Menurut Betta, meski prevalensi stunting menurun dalam satu dekade pemerintahan Jokowi, jumlahnya cenderung lamban. Sejak 2014 hingga 2024, rata-rata penurunan prevalensi stunting hanya sebesar 1,2 persen. “Di tahun 2024 ini bahkan sangat rendah, 0,1 persen,” ujar Betta.

Betta menilai penyebab rendahnya rata-rata penurunan prevalensi stunting karena penggunaan anggaran yang tidak tepat. Dia mengatakan penanganan stunting di banyak daerah bersifat insidentil dan tanpa audit data yang konsisten.

Dia mengatakan sebagian besar anggaran penanganan stunting digunakan untuk membereskan masalah di hilir. Padahal, kata dia, stunting merupakan persoalan yang disebabkan oleh banyak faktor, kemiskinan ekstrem, hingga akses yang sulit terhadap pelayanan kesehatan.

Riset terbaru kami menunjukkan bahwa daerah dengan prevalensi stunting merupakan daerah yang belum terakses terhadap pelayanan kesehatan yang memadai. Ini diperparah dengan tingginya angka kemiskinan di daerah tersebut,” katanya.

Betta mencontohkan apa yang terjadi di Nusa Tenggara Timur. Di provinsi tersebut, hanya Kota Kupang yang prevelensi stuntingnya di bawah 30 persen. “Kalau angka rata-rata yang kami peroleh itu 37 persen. Ini sangat tinggi sekali dan penyelesaiannya di sektor hulu sangat minim,” kata Betta.

Menurut Betta, selama ini pemerintah telah melibatkan banyak kementerian hingga pemerintah daerah dalam mengurusi masalah stunting. Dalam Tim Percepatan Penanganan Stunting yang berada di bawah koordinasi Wakil Presiden, terdapat 21 kementerian/lembaga yang terlibat.

Selain itu, intervensi kebijakan juga dilakukan oleh pemerintah daerah sebagai garda terdepan untuk menangani stunting. Akan tetapi, kata Betta, pemerintah daerah cenderung bergerak ketika angka survei oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan ada lonjakan kejadian stunting.

“Setelah ada survei, baru semuanya bergerak, sehingga tidak ada perencanaan anggaran yang konsisten untuk stunting oleh pemerintah daerah dan sifatnya sangat bergantung pada anggaran dari kementerian,” katanya.

Betta juga melihat ketidakseriusan dalam eksekusi anggaran di daerah. Dia mengatakan anggaran untuk stunting malah lebih besar digunakan untuk kegiatan pemerintah dan seremonial. “Harusnya anggaran tersebut langsung dieksekusi oleh tim teknis, menyasar ke akar persoalan. Tapi selama ini yang terjadi malah digunakan untuk rapat-rapat, pertemuan-pertemuan yang boros anggaran,” kata Betta.

Direktur Eksekutif Yayasan Kesehatan Perempuan, Nanda Dwinta Sari, mengatakan kebijakan pencegahan stunting dalam 10 tahun terakhir belum menyentuh akar persoalan. Nanda melihat belum ada penyelesaian yang konkret terhadap akar permasalah stunting, salah satunya adalah pencegahan perkawinan anak. Sebab, kata dia, pemicu stunting tidak hanya soal akses terhadap makanan sehat.

“Perkawinan anak juga menyumbang terhadap bayi stunting, jadi harus banyak pihak memberikan perhatian dan termasuk kesadaran masyarakat sendiri,” katanya.

Daerah dengan angka perkawinan tertinggi juga menjadi lokus dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPA) menyatakan angka perkawinan anak di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat berada di atas rata-rata angka nasional yang sebesar 6,29 persen.

Selain itu, Nanda mengatakan intervensi terhadap penanganan stunting sebenarnya bisa dilakukan melalui dana desa. Tetapi dia mengatakan inisiatif tersebut belum terlihat sehingga dana desa cenderung digunakan untuk hal-hal yang tidak produktif

“Alih-alih untuk membiayai sektor kesehatan, dana desa malah digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang tidak mendesak,” kata Nanda, melalui keterangan tertulis, Jumat, 18 Oktober 2024.

Respon Pemerintah

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui tidak terpenuhinya target penurunan stunting sebesar 14 persen karena masih terdapat alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran. Budi mengatakan hal tersebut sempat dikeluhkan Presiden Joko Widodo dalam rapat bersama Tim Percepatan Penanganan Stunting pada pertengahan Agustus 2023.

“Presiden Jokowi komplain terhadap penggunaan dana stunting, selama ini anggaran untuk penanganan kemiskinan ekstrem dan stunting sudah sangat besar. Sayangnya, alokasi anggaran itu ketika di-tagging, sebagian besar untuk rapat dan perjalanan dinas,” kata Budi dikutip dari siaran pers Kementerian Sekretaris Negara, Sabtu, 18 Oktober 2024.

Sebelumnya, Budi mengatakan mendapatkan tugas dari presiden terpilih Prabowo Subiano untuk menyelesaikan berbagai persoalan kesehatan, termasuk stunting. Dia mengatakan akan mengevaluasi penanganan stunting melalui perbaikan sistem kesehatan, mulai dari akses pelayanan kesehatan dan pemerataan tenaga medis.

“Tahun depan ini akan mulai dikejar segala ketertinggalan yang belum tercapai, termasuk stunting,” katanya, usai bertemu presiden terpilih Prabowo Subianto pada Senin, 14 Oktober 2024.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Agus Zainal Arifandari, mengakui proses eksekusi penanganan stunting sangat kompleks karena melibatkan lintas lembaga. Dia mengatakan hal lain yang menjadi kendala penanganan stunting adalah keterbatasan sumber daya di tiap lembaga.

“Keterbatasan sumber daya ini mempengaruhi kemampuan masing-masing lembaga dalam melaksanakan program secara efektif,” kata Zainal kepada Tempo melalui jawaban tertulis, Sabtu, 19 Oktober 2024.

Selain itu, kata Zainal, masing-masing lembaga punya fokus program yang berbeda. Hal inilah yang membuat koordinasi lintas lembaga menjadi kurang efektif. “Tantangan lainnya yakni pemetaan permasalahan di hulu, sehingga diketahui akar penyebabnya perlu dilakukan, agar pelaksanaan tidak sporadis,” katanya.

Zainal mengatakan Kementerian Sosial sebenarnya tidak mendapatkan tugas secara langsung dalam penanganan stunting. Kendati demikian, dia mengatakan sejumlah program bantuan sembako merupakan salah satu langkah yang diambil untuk mencegah stunting.

Meski telah memasukan stunting sebagai salah satu sasaran dalam pemberian bantuan sosial, Zainal mengatakan masih terdapat tantangan dalam merealisasikan penurunan stunting melalui Kemensos. Salah satunya yakni tidak adanya pengukuran dampak program Kemensos dalam mengurangi prevalensi stunting.

“Belum lagi soal akses ke daerah tertinggal, terdepan terluar serta keterbatasan sumber daya dalam melaksanakan edukasi terkait dengan stunting,” ujarnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Rumus Gula Kekuasaan: Mengapa Prabowo Perlu Banyak Pendukung dan Jokowi Kehilangan Kekuasaan

Next Post

Ketika Kiai Jaka Cinta Bicara Cinta Nabi

Redaktur Senior 03

Redaktur Senior 03

Related Posts

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema
Feature

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
Campak Mengganas Lagi: Alarm Kegagalan Imunisasi Pascapandemi
Health

Campak Mengganas Lagi: Alarm Kegagalan Imunisasi Pascapandemi

March 26, 2026
Obesitas, Sains, dan Mitos “Cukup Diet dan Olahraga”
Feature

Obesitas, Sains, dan Mitos “Cukup Diet dan Olahraga”

March 12, 2026
Next Post
Ketika Kiai Jaka Cinta Bicara Cinta Nabi

Ketika Kiai Jaka Cinta Bicara Cinta Nabi

Membuka Tirai Rumus Rahasia “Mengapa Prabowo Ingin Koalisi Besar?”

Membuka Tirai Rumus Rahasia "Mengapa Prabowo Ingin Koalisi Besar?"

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist