Sepertinya Komnas HAM masuk angin lagi. Dari laporan awal terbaca, tak jelas operan bola hendak ditendang kemana. Coba perhatikan kalimat ini; “Sebaliknya, suporter yang awalnya turun ke lapangan itu hanya ingin memberikan semangat kepada para pemain yang baru saja menelan kekalahan. Hal itu dibuktikan oleh para pemain yang tidak mendapatkan luka atau perlakuan tidak mengenakkan dari supporter”.
Misi KomNas HAM pada tragedi Kanjuruhan itu, memastikan apa penyebab kematian 174 orang itu. Pintu tertutupkah? Bila penyebab kematian itu, karena pintu tertutup, se-stadion mati-pun tidak ada kaitannya dengannya. Begitu juga bila kematian itu akibat saling injak dan terinjak-injak, diantara penonton, bukan urusan KomNas HAM.
Jadi apa tugas KomNas HAM disana?
Choirul Anam berharap penemuan awal ini bisa jadi gambaran di awal bagi para korban dan masyarakat yang penasaran dengan hal tersebut. Ia justru mempertanyakan dalih aparat keamanan menembakan gas air mata ke tribune penonton.
Nah, inilah wilayah kerja KomNas HAM; mencari tahu apakah ada kekerasan yang dilakukan oleh aparat negara, Polisi dan Tentara, kepada para korban yang menyebabkan kematian tersebut!? Di wilayah inilah focus penyelidikannya.
Suporter Arema yang awalnya turun ke lapangan itu hanya ingin memberikan semangat kepada para pemain yang baru saja menelan kekalahan. Hal itu dibuktikan oleh para pemain yang tidak mendapatkan luka atau perlakuan tidak mengenakkan dari suporter. “Jadi ada constraint (batasan) waktu antara 15 sampai 20 menit pasca-wasit meniup peluit panjang, itu suasana masih terkendali, walaupun banyak suporter yang masuk ke lapangan.,” kata pria berusia 45 tahun. “Kalau ada yang bilang mereka mau menyerang pemain, kami sudah ketemu dengan para pemain dan para pemain ini bilang tidak ada kekerasan terhadap mereka.” “Para pemain tidak mendapat ancaman dan caci maki, mereka cuma bilang bahwa suporter memberikan semangat kepada para pemain. Ini pemain yang ngomong begitu ke kami,”
“Pertanyaannya sekarang, kalau dalam 15 sampai 20 menit itu situasinya masih kondusif, apakah diperlukan gas air mata yang membuat semua penonton panik? Harus kalau tata kelola keamanan baik, tidak akan terjadi peristiwa memilukan seperti ini,” ujarnya. “Jadi ini penting yang untuk meluruskan. Jangan sampai ada lagi yang bilang bahwa tindakan itu gara-gara suporter merangsek ke lapangan dan mengancam pemain,
tidak begitu”.


























