Fusilatnews – Jika ditarik ke ukuran yang lebih jujur—ukuran harian—potret konsumsi daging masyarakat Indonesia justru makin mengecil. Di tingkat rumah tangga, konsumsi daging sapi rata-rata hanya sekitar 8,3 gram per hari per kapita. Angka ini nyaris simbolik: tak sampai satu potong kecil daging rendang. Padahal, berbagai rekomendasi gizi—baik dari FAO maupun Kementerian Kesehatan—menyebut kebutuhan protein hewani ideal berada jauh di atas itu, dengan konsumsi daging merah yang disarankan bisa mencapai 40–70 gram per hari per orang, bergantung usia dan aktivitas.
Ketimpangan ini bukan sekadar soal selera makan, melainkan cermin dari struktur ekonomi pangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) berulang kali menunjukkan bahwa daging sapi masih menjadi komoditas mahal bagi mayoritas rumah tangga. Harga yang fluktuatif, ketergantungan pada impor, serta distribusi yang timpang membuat daging sapi lebih sering hadir sebagai “menu perayaan” ketimbang konsumsi harian. Di banyak keluarga, daging baru muncul saat Lebaran, hajatan, atau ketika ada rezeki lebih.
Dampaknya terasa langsung pada kualitas gizi. Indonesia memang tidak kekurangan kalori, tetapi masih menghadapi persoalan protein hewani. Konsumsi protein masyarakat lebih banyak ditopang oleh sumber nabati dan unggas, sementara daging merah tertinggal jauh. Kondisi ini ikut menjelaskan paradoks gizi nasional: di satu sisi angka stunting masih tinggi, di sisi lain obesitas meningkat—dua masalah yang berangkat dari pola konsumsi yang timpang dan tidak beragam.
Lebih jauh, rendahnya konsumsi daging sapi juga mengungkap kegagalan kebijakan pangan yang terlalu lama berkutat pada stabilisasi harga jangka pendek, tanpa membangun ekosistem produksi yang berkelanjutan. Program swasembada daging kerap berganti nama dan arah, namun hasilnya nyaris tak mengubah kenyataan di meja makan rakyat. Produksi dalam negeri tertinggal, sementara impor menjadi katup darurat yang justru menekan peternak lokal.
Maka, angka 8,3 gram itu bukan sekadar statistik. Ia adalah penanda jarak antara anjuran gizi dan realitas sosial, antara narasi pembangunan dan pengalaman sehari-hari warga. Selama daging masih diperlakukan sebagai barang mewah, bukan kebutuhan gizi, selama itu pula kualitas konsumsi masyarakat akan berjalan di tempat—kecil dalam angka, besar dalam konsekuensi.






















