Oleh: Nazaruddin
Pendahuluan: Antara Keris dan Kitab Suci
Sejarah Islam di Jawa merupakan narasi yang penuh kompleksitas: bukan hanya kisah dakwah yang damai, melainkan juga arena perebutan kuasa, benturan ideologi, dan proses akulturasi budaya. Salah satu episode paling menentukan adalah konflik antara Arya Penangsang dari Jipang dan Joko Tingkir dari Pajang. Pertarungan ini tidak bisa dipahami sebatas perebutan tahta Kesultanan Demak, melainkan sebagai titik balik historis yang menandai pergeseran orientasi Islam di Jawa.
Kemenangan Joko Tingkir bukan sekadar suksesi politik, tetapi juga simbol kemenangan visi Islam pedalaman yang sinkretik dan akomodatif, menggantikan dominasi Islam pesisir yang bercorak puritan dan legalistik.
Awal Mula Konflik: Buntut Krisis Dinasti Demak
Kisah ini berakar dari krisis dinasti pasca wafatnya Sultan Trenggana. Arya Penangsang, putra Pangeran Sekar Seda Lepen (Raden Mas Kikin), menilai tahta Demak seharusnya jatuh ke tangannya. Namun pembunuhan ayahnya atas perintah Sunan Prawoto memicu dendam yang membara. Dengan restu gurunya, Sunan Kudus, Arya Penangsang melancarkan aksi balas dendam dengan membunuh Sunan Prawoto.
Meski klaim nasabnya kuat, tindakan keras ini justru meruntuhkan legitimasi politiknya. Banyak bangsawan dan ulama yang lebih menginginkan stabilitas, merasa khawatir terhadap gaya kepemimpinannya yang tanpa kompromi.
Sebaliknya, Joko Tingkir (kelak bergelar Sultan Hadiwijaya), menantu Sultan Trenggana, muncul sebagai figur tandingan. Berbeda dengan Arya Penangsang yang mengandalkan garis keturunan dan kekuatan militer Jipang, Joko Tingkir menumbuhkan basis kekuatan dari pedalaman Pajang. Ia mendapat dukungan moral dan spiritual dari Sunan Kalijaga serta jejaring wali lainnya, yang lebih mengedepankan pendekatan politik moderat dan akomodatif.
Analisis Kekuatan: Politik Pesisir vs Strategi Pedalaman
Kekalahan Arya Penangsang tidak bisa dipahami hanya sebagai kelemahan militer semata. Ia merupakan konsekuensi dari perbedaan mendasar antara pola politik pesisir dan pedalaman.
1. Pola Politik dan Dukungan Keagamaan
- Arya Penangsang dan Islam Pesisir
Islam pesisir, berpusat di pelabuhan seperti Demak, Tuban, dan Gresik, bercorak lebih legalistik dan puritan. Interaksi langsung dengan pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan Gujarat membuatnya berpegang teguh pada syariat. Sunan Kudus adalah simbol corak ini. Namun pendekatan yang kaku sulit berkompromi dengan tradisi pra-Islam di pedalaman. Tindakan-tindakan keras Arya Penangsang—termasuk pembunuhan Sunan Prawoto dan Pangeran Hadiri—semakin mengisolasinya secara politik. - Joko Tingkir dan Islam Pedalaman
Sebaliknya, Islam pedalaman bersifat sinkretik, sufistik, dan berpusat pada keraton. Sunan Kalijaga adalah patron spiritual Joko Tingkir, simbol akulturasi yang memasukkan nilai Islam ke dalam wayang, gamelan, dan kosmologi Jawa. Strategi Joko Tingkir pun lebih politis ketimbang militeristik: ia mendelegasikan pertempuran kepada pengikut setia seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Panjawi, serta Danang Sutawijaya.
2. Kemenangan Strategis
Kemenangan Joko Tingkir dibangun melalui aliansi yang cerdas antara elite pedalaman, dengan patronase spiritual sebagai penguat legitimasi. Kekalahan Arya Penangsang pun sarat makna simbolik. Menurut babad, ia terluka oleh tombak Kyai Plered milik Sutawijaya hingga ususnya terburai. Berkat kesaktiannya, ia mampu melilitkan usus tersebut pada warangka keris Kyai Setan Kober. Namun saat hendak mencabut keris itu, ususnya sendiri terpotong dan menyebabkan kematiannya. Kisah ini menjadi alegori bahwa kekuatan yang semata-mata bertumpu pada kesaktian justru dapat berbalik menghancurkan diri sendiri.
Transformasi Visi Keislaman di Jawa
Kemenangan Joko Tingkir menandai lebih dari sekadar lahirnya Kesultanan Pajang. Ia memulai proses transformasi wajah Islam Jawa yang kemudian dilanjutkan oleh Kesultanan Mataram. Dari pesisir yang kosmopolitan, pusat kekuasaan bergeser ke pedalaman yang agraris dan feodal.
- Sentralisasi Keraton
Keraton menjadi pusat politik sekaligus spiritual. Raja dipandang sebagai Khalifatullah, pemimpin duniawi dan rohani sekaligus. - Akulturasi Sufistik
Islam dipraktikkan secara akomodatif, berbaur dengan tradisi lokal. Ritual slametan, ziarah makam, serta kesenian bernuansa Islam berkembang luas. - Pergeseran Patronase
Peran wali pesisir yang relatif independen beralih kepada ulama yang berada dalam lingkar patronase keraton pedalaman.
Penutup: Visi Joko Tingkir sebagai Identitas Islam Jawa
Konflik Arya Penangsang dan Joko Tingkir adalah episode formatif dalam sejarah Islam di Jawa. Kekalahan Arya Penangsang menandai surutnya Islam pesisir yang legalistik, sementara kemenangan Joko Tingkir mempertegas dominasi Islam pedalaman yang sinkretik, sufistik, dan akomodatif terhadap tradisi Jawa.
Islam Jawa kemudian tampil bukan semata sebagai ajaran normatif, tetapi sebagai laku budaya yang menyatu dengan struktur sosial masyarakat agraris. Dari sinilah lahir wajah Islam Jawa yang hingga kini tetap dikenali: lembut, akomodatif, namun tetap mengakar pada spiritualitas yang mendalam.

Oleh: Nazaruddin






















