TNI AU masih menyelidiki peristiwa tersebut, termasuk soal kemungkinan adanya prajurit yang menjadi korban, penyebab jatuhnya pesawat, serta kronologi peristiwa.Dua pesawat TNI AU yang jatuh itu diketahui masing-masing unit dengan nomor registrasi TT-3111 dan TT-3103.
Jakarta – Fusilatnews – Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, saat dihubungi di Jakarta, Kamis, membenarkan insiden jatuhnya dua pesawat TNI AU itu
Dua pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano TNI Angkatan Udara jatuh di Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS), tepatnya di Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis siang. Dua pesawat itu diperkirakan jatuh sekitar pukul 12.00 WIB.
.”Betul (di Pasuruan, red.) dan ada dua (pesawat tempur),” kata Marsekal Fadjar.
TNI AU masih menyelidiki peristiwa tersebut, termasuk soal kemungkinan adanya prajurit yang menjadi korban, penyebab jatuhnya pesawat, serta kronologi peristiwa.
Dua pesawat TNI AU yang jatuh itu diketahui masing-masing unit dengan nomor registrasi TT-3111 dan TT-3103.
Video jatuhnya pesawat tersebut juga beredar di media sosial. Dari gambar yang beredar di media sosial tampak api dan asap masih membubung tinggi dari pesawat.
Belum diketahui penyebab jatuhnya pesawat tersebut. Namun dari gambar dan video yang beredar, pesawat jenis tempur ini hancur menjadi beberapa bagian. Bahkan dalam sebuah video yang beredar pesawat tersebut sempat terbakar di bagian depan usai terjatuh di wilayah perkebunan milik petani setempat.
Mengutip dari laman tni-au.mil.id, pesawat dengan nomor TT-3103 ini merupakan jenis pesawat tempur taktis Super Tucano. Pesawat ini dibeli dari Brazil pada tahun 2012 di era kepemimpinan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, dan KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat.
Indonesia sendiri membeli pesawat taktis Super Tucano ini sebanyak 16 buah yang didatangkan dari Brasil secara bertahap. TNI AU membeli beberapa pesawat ini dengan tail nomor TT-3101, TT-3102, TT-3103 dan TT-3104.
Pada Januari 2013 pesawat ini didatangkan dari Brasil ke Pangkalan TNI AU Abdul Rahman Saleh Malang sebanyak empat buah dan seterusnya hingga mencapai 16 unit.
Pesawat ini digunakan sebagai pengganti Pesawat OV-10 Bronco Skadron Udara 21 Lanud Abdul Saleh Malang.
Pesawat yang di beli TNI AU adalah tipe EMB-314/A-29B (kursi ganda) berkemampuan serang antigerilya (counter insurgency), pengendali udara depan (forward air control), dukungan udara dekat (close air support), penyekatan dan pertahanan udara yang berkecepatan rendah sehingga dapat melakukan identifikasi musuh di medan perang.
Selain itu, Super Tucano mempunyai kemampuan tambahan sebagai pesawat latih dan fungsi pengawasan udara (air Surveillance).
Pesawat Super Tucano ini memiliki kemampuan terbang dari kecepatan rendah hingga kecepatan sedang.
Selain itu pesawat ini mampu mendukung operasi pertahanan udara terhadap pesawat black flight berukuran kecil dan berkecepatan rendah (helicopter, pesawat profiler dan pesawat tanpa awak
).
Namun berdasarkan informasi, Super Tucano ini sudah lama di grounded atau dilarang terbang karena sudah tidak memiliki kelayakan lagi.
Di cuplikan video lain juga tertulis pesawat dengan kode TT-3103 yang terlihat di ekor pesawat. Diduga pesawat yang jatuh merupakan tempur taktis (TT) Super Tucano milik Skuadron Udara 21 Malang. Belum diketahui bagaimana kronologi peristiwa itu terjadi, termasuk adanya korban jiwa dalam insiden itu.




















