• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

fusilat by fusilat
July 15, 2026
in Feature, Spiritual
0
“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kawan Nazar

Pada masa-masa awal perkembangan Islam, perdebatan mengenai qadā’ dan qadar bukanlah semata-mata persoalan metafisika yang berkutat pada hubungan Tuhan dengan manusia. Di baliknya tersimpan pergulatan politik yang sangat nyata. Teologi menjadi arena perebutan legitimasi, sementara tafsir atas kehendak Tuhan berubah menjadi instrumen untuk mempertahankan, atau justru menggugat, kekuasaan.

Dalam konteks inilah ungkapan “Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”—“tidak ada ketetapan takdir yang dapat dijadikan alasan atas tindakan manusia”—muncul sebagai simbol penolakan terhadap penggunaan konsep takdir untuk membenarkan kekuasaan politik.

Fragmen Sejarah: Konfrontasi Muhammad ibn al-Hanafiyyah

Sejumlah riwayat dalam literatur teologi Islam awal mengisahkan sebuah episode yang terjadi setelah perjanjian damai (ṣulḥ) antara Hasan bin Ali dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dalam salah satu riwayat tersebut, Mu’awiyah dikisahkan berpidato di Damaskus dan menyatakan bahwa terbunuhnya Ali bin Abi Thalib serta beralihnya kekhalifahan ke tangannya merupakan kehendak dan ketetapan Allah.

Melalui narasi seperti itu, kekuasaan memperoleh legitimasi teologis. Jika kemenangan politik merupakan takdir Tuhan, maka setiap bentuk penolakan terhadap penguasa dapat dipandang sebagai penolakan terhadap kehendak Ilahi sendiri.

Riwayat kemudian menyebut bahwa Muhammad ibn al-Hanafiyyah, putra Ali bin Abi Thalib dari Khawlah binti Ja’far, membantah klaim tersebut dengan ungkapan:

“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara.”

Bagi Ibn al-Hanafiyyah, pembunuhan Ali maupun perebutan kekuasaan bukanlah skenario suci yang harus diterima sebagai ketetapan Tuhan, melainkan konsekuensi dari pilihan, ambisi, dan tindakan manusia yang harus dipertanggungjawabkan secara moral.

Memang, autentisitas riwayat ini masih diperdebatkan oleh para sejarawan. Sebagian menilai sanad maupun konstruksi historisnya tidak cukup kuat, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai representasi memori politik kelompok oposisi pada masa awal Islam. Namun, terlepas dari perdebatan tersebut, kisah ini tetap memiliki makna intelektual yang besar. Ia mencerminkan lahirnya sebuah cara berpikir yang menolak penggunaan doktrin takdir sebagai alat legitimasi kekuasaan.

Gagasan semacam ini kemudian berkembang dalam pemikiran Ma’bad al-Juhani dan Ghaylan al-Dimashqi, dua tokoh yang sering dikaitkan dengan lahirnya Qadariyah, sebelum memperoleh formulasi filosofis yang lebih sistematis dalam mazhab Mu’tazilah.

Evolusi Pemikiran: Dari Qadariyah Menuju Mu’tazilah

Dalam tradisi Qadariyah, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki kebebasan memilih. Karena manusia bebas, maka ia layak menerima pahala maupun hukuman. Tidak ada alasan untuk menyalahkan takdir atas setiap kejahatan yang dilakukan.

Pemikiran ini mencapai bentuk paling matang dalam teologi Mu’tazilah melalui prinsip al-‘Adl (Keadilan Tuhan). Menurut mereka, keadilan Ilahi mengharuskan manusia memiliki kebebasan yang nyata (free will). Bila seluruh tindakan manusia telah ditentukan secara mutlak oleh Tuhan sebagaimana diajarkan Jabariyah, maka konsep pahala, dosa, surga, neraka, bahkan tanggung jawab moral akan kehilangan dasar rasionalnya.

Dengan kata lain, Tuhan yang Mahaadil tidak mungkin menghukum manusia atas sesuatu yang sama sekali tidak pernah dipilihnya.

Sebagai respons terhadap perdebatan tersebut, mazhab Asy’ariyah kemudian menawarkan teori kasb (perolehan). Dalam konsep ini, Allah menciptakan seluruh perbuatan, sedangkan manusia “mengakuisisi” atau “memperoleh” perbuatan tersebut sehingga tetap bertanggung jawab atas tindakannya.

Teori kasb selama berabad-abad menjadi fondasi teologi Sunni arus utama karena dipandang mampu menjaga keseimbangan antara kemahakuasaan Tuhan dan tanggung jawab manusia.

Namun demikian, para pemikir Mu’tazilah maupun sejumlah filsuf dan intelektual modern menganggap teori tersebut masih menyisakan persoalan filosofis. Jika penciptaan tindakan sepenuhnya tetap berada pada Tuhan, sejauh mana kebebasan manusia benar-benar bersifat riil? Pertanyaan itu terus menjadi salah satu perdebatan paling mendasar dalam filsafat Islam hingga hari ini.

Dari sudut pandang sejarah politik, tidak sedikit akademisi yang melihat bahwa teologi Asy’ariyah berkembang lebih akomodatif terhadap stabilitas negara, sedangkan tradisi Qadariyah dan Mu’tazilah lebih sering tampil sebagai kritik terhadap absolutisme kekuasaan. Tentu saja, penilaian ini bersifat interpretatif dan tidak sepenuhnya menggambarkan seluruh kompleksitas sejarah masing-masing mazhab.

Relevansi Kontemporer

Apa yang membuat ungkapan “Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara” tetap relevan bukan semata-mata soal benar atau tidaknya setiap detail riwayat sejarahnya. Yang jauh lebih penting adalah pesan intelektual yang dikandungnya.

Ia mengingatkan bahwa agama tidak boleh dijadikan instrumen untuk menghapus tanggung jawab manusia.

Setiap penguasa harus mempertanggungjawabkan kebijakannya sebagai hasil pilihan politik, bukan berlindung di balik dalih “kehendak Tuhan”. Demikian pula setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, bukan menjadikan takdir sebagai alasan untuk membenarkan kesalahan.

Sejarah menunjukkan bahwa teologi dapat menjadi dua hal sekaligus: tameng bagi kekuasaan dan senjata bagi perlawanan. Ketika agama dipakai untuk membungkam kritik, lahirlah keberanian untuk menafsirkan ulang agama demi membela keadilan.

Pada akhirnya, “Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara” bukan sekadar slogan teologis. Ia adalah deklarasi tentang kebebasan moral manusia. Sebuah penegasan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa tidak pernah dapat dijadikan legitimasi bagi kezaliman manusia. Justru karena Tuhan Mahaadil, setiap manusia—termasuk penguasa—akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap keputusan dan setiap tindakan yang lahir dari kehendaknya sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Yang Terusir dan Mengusir

Next Post

KOSMAK Desak Prabowo Copot Jaksa Agung

fusilat

fusilat

Related Posts

DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau
Bencana

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026
Simalakama Teddy Wijaya
Feature

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Negara yang Kehilangan Kompas
Birokrasi

Negara yang Kehilangan Kompas

July 14, 2026
Next Post
Komposisi Pansel KPK Didominasi unsur Pemerintah, Menarik Perhatian Jaksa Agung

KOSMAK Desak Prabowo Copot Jaksa Agung

DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

LDC Desak Menteri Komdigi Susun Kode Etik Advokasi Digital, Ableism Dinilai Kian Masif

July 15, 2026
DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026
Komposisi Pansel KPK Didominasi unsur Pemerintah, Menarik Perhatian Jaksa Agung

KOSMAK Desak Prabowo Copot Jaksa Agung

July 15, 2026
“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

July 15, 2026
Simalakama Teddy Wijaya

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Negara yang Kehilangan Kompas

Negara yang Kehilangan Kompas

July 14, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

LDC Desak Menteri Komdigi Susun Kode Etik Advokasi Digital, Ableism Dinilai Kian Masif

July 15, 2026
DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...