JAKARTA-Fusilatnews — Sekretaris Jenderal Partai Golkar M Sarmuji menilai munculnya kembali diskusi mengenai sejarah panjang Golkar sebagai “reinkarnasi kitab sejarah yang hilang”. Pernyataan itu merespons inisiatif Arif Rosyid, mantan Ketua Umum PB HMI, yang selama ini kerap mempertanyakan akar historis dan landasan filosofis partai beringin.
Di tengah kesibukan penanganan musibah banjir di Sumatera Utara, yang membuat DPP Golkar di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia menurunkan 150 relawan dan bantuan senilai Rp53 miliar melalui Posko Golkar Sumut, Sarmuji menyebut bahwa dinamika politik kerap melahirkan pihak yang hasad dan menganggap diskusi semacam ini tidak pada tempatnya.
Diskusi yang digelar di Markas DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, pada 8 Desember 2025 malam itu mengangkat tema “Ngopi dan Diskusi Kitab Golkar: Sejarah yang Hilang, Akal Pemikiran, dan Dinamika”. Pembahasan berpusat pada karya David Reeve “Golkar: Sejarah yang Hilang”, sebuah kajian yang menelusuri kelahiran Golkar sebagai entitas apolitis berbasis gabungan keahlian, berakar pada Sekber Kosgoro, MKGR, dan Soksi. Model meritokrasi yang dibangun sejak kelahiran itulah, kata para panelis, yang membuat Golkar mampu bertahan dan harus diviralkan kembali sebagai jawaban atas tantangan zaman.
Dalam forum itu, Arif Rosyid tampil sebagai panelis utama bersama sejarawan JJ Rizal, yang dikenal sebagai figur kritis terhadap Golkar. Biasanya peluncuran gagasan atau karya Arif digelar di markas DPP AMPI, Jalan Surabaya, Menteng, namun kali ini diskusi dipusatkan di kantor DPP Golkar.
Sejumlah tokoh terlihat hadir, antara lain anggota DPR dari Fraksi Golkar Zulfikar Arse dan Dave Laxono, Musfihin Dahlan, Burhanudin Aritonang, Prof Endin Nasrudin, Hapy Bone, Arman, serta Sofa.
Laporan: Mahdi


























