• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

MADILOG VS GUBERNUR MENYAN : Republik atau Kerajaan Gaib?

M.Yamin Nasution by M.Yamin Nasution
July 6, 2025
in Aya Aya Wae, Feature
0
MADILOG VS GUBERNUR MENYAN : Republik atau Kerajaan Gaib?
Share on FacebookShare on Twitter
Muhammad Yamin Nasution

Oleh M Yamin Nasution, S.H.- Pemerhati Hukum

Membaca Ulang Tan Malaka dalam Melawan Kekuasaan yang Bersandar pada Mistik dan Takhayul

“Bila Tan Malaka masih hidup hari ini, mungkin ia tidak akan mati oleh peluru kolonial, tapi karena sesak napas melihat republik ini diselimuti kembali oleh asap menyan kekuasaan. Satu abad setelah kita meneriakkan merdeka, kita justru tersesat pada pemujaan-pemujaan kuno yang dulu ditumbangkan oleh revolusi”.

Kang Dedy Mulyadi (KDM), Gubernur di Tanah Pasundan kini tampak lebih sibuk menata energi aura leluhur daripada menata jalan rusak atau nasib petani. Ia tidak hanya menjalankan pemerintahan, tapi memanggul beban simbolisme spiritual yang bercampur animisme, klenik, dan romantisisme mitologis. Ia lebih sering berbicara tentang karuhun dan petunjuk gaib daripada data kemiskinan atau rencana industrialisasi hijau. Dan publik, entah mabuk, malu atau bodoh, masih menyebutnya pemimpin era baru. Padahal tidak memiliki ciri abad 21 melainkan abad 12.

Dalam kerangka pikir Tan Malaka, pemimpin seperti itu bukanlah negarawan, melainkan residu dukun dalam pakaian republik. Ia adalah manifestasi dari cara berpikir yang oleh Tan disebut sebagai logika mistika: sebuah warisan berpikir pra-ilmiah yang memabukkan kesadaran, membungkam kritik, dan mengganti argumen dengan aura.

Dalam Madilog, Tan Malaka menulis tegas:

 “Bangsa yang masih berpikir dengan cara mistik tidak akan mampu berdiri sebagai bangsa yang merdeka. Mereka hanya akan menjadi objek sejarah, bukan subjeknya.”1

Menyan dan aura bukan fondasi negara. Pesan dan pikiran, itulah yang membangun republik. Negara ini didirikan bukan oleh para petapa atau cenayang, melainkan oleh para pemikir dan pejuang rasional: mereka yang memimpikan masyarakat yang bebas dari penindasan, bukan yang tunduk pada supranaturalisme politik.

Tan mengingatkan kita bahwa kekuasaan yang membungkus dirinya dengan simbol gaib adalah bentuk baru dari kolonialisme mental. Ia mengkritik keras para elite yang menggunakan mistik, dogma, atau “wahyu” untuk menjauhkan rakyat dari pertanyaan kritis. Baginya, semua bentuk pengultusan kekuasaan adalah musuh utama kemerdekaan berpikir.

Hari ini, ketika seorang gubernur menggunakan istilah “energi tanah Sunda”, melakukan ritual pembukaan dengan sesajen, dan membangun narasi supranatural di forum-forum resmi, kita seolah menyaksikan transformasi republik menjadi kerajaan gaib. Negara tidak lagi dijalankan berdasarkan prinsip keterbukaan, rasionalitas, dan akuntabilitas publik, tetapi oleh getaran alam dan tafsir metafisis personal.

Bila dibiarkan, cara berpikir ini akan:

  • Membius rakyat dengan romantisisme masa lalu,
  • Menjadikan kebijakan sebagai konsekuensi tafsir mistik, bukan hasil analisis rasional,
  • Mewujudkan kekuasaan yang kebal terhadap kritik, karena diselimuti aura suci.

Tan Malaka menyebut fenomena semacam ini sebagai kesadaran palsu, yaitu kondisi ketika rakyat merasa bangga pada hal-hal yang justru menindas daya pikir mereka sendiri. Dalam istilahnya:

“Rakyat yang diajarkan takut kepada roh, tidak akan pernah bertanya kepada pemimpinnya.”2

Sebagai alternatif, Tan mengajukan Madilog, Materialisme, Dialektika, dan Logika, sebagai fondasi berpikir masyarakat merdeka. Di dalam Madilog, kekuasaan tidak bersandar pada wahyu, aura, atau supranatural, tetapi pada nalar kritis, pengalaman material rakyat, dan perubahan sosial yang ilmiah.

“Rakyat tidak dibebaskan dengan sesajen dan artefak budaya. Mereka dibebaskan dengan pikiran. Maka lawan segala kekuasaan yang menyihir rakyat dengan legenda, karena itu hanyalah cara lama dalam bentuk baru untuk mempertahankan kebodohan.”3

Negara, menurut Tan : bukan rumah ibadah atau situs pemujaan karuhun. Ia adalah alat untuk membebaskan manusia dari belenggu ekonomi, politik, dan kebodohan. Jika negara justru dijalankan seperti kuil gaib, maka ia telah gagal sebagai republik.

Negara ini dibangun dengan pesan, bukan dengan menyan.

Pemimpin yang baik tidak menjual “energi karuhun” atau “kekuatan aura”, tetapi menawarkan kebijakan berbasis data dan akal sehat. Di tengah tantangan perubahan iklim, krisis pangan, dan kemiskinan struktural, rakyat tidak butuh pembasuhan spiritual, mereka butuh air bersih, pangan cukup, dan pendidikan rasional.

Maka, bila hari ini Tan Malaka hidup, ia akan menulis kembali:

 “Kita tidak bisa membangun republik dengan menyembah batu, keris, atau getaran alam. Bangunlah negara dengan logika, data, dan tekad untuk melayani rakyat.”

Kesimpulan

Kita mungkin hidup dalam sistem demokrasi, tapi jika pemimpinnya bersandar pada mistik, rakyatnya tak bisa mengkritik, dan keputusan lahir dari tafsir spiritual, maka republik ini sejatinya telah tergelincir menjadi kerajaan gaib dengan parfum kedaulatan rakyat.

Maka mari kita tegakkan kembali pesan Tan Malaka:

“Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang berpikir.”

Tan menyebut sistem mistika dan kekuasaan spiritual sebagai bentuk “mistik kolonial” yang menggagalkan revolusi rakyat.

Dan karena itu, sekali lagi, negara tidak boleh dibangun dengan menyan, tapi dengan pesan.

Catatan Menyan:


  1. Tan Malaka, Madilog, Jakarta: Narasi, 2016, hlm. 7. ↩
  2. Ibid., hlm. 13–15. ↩
  3. Ibid., hlm. 29–33. ↩

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Aphelion: Ketika Bumi Menjauh dari Matahari dan Tubuh Kita Merasakannya

Next Post

Panggung Opera Biru Jokowi: “Saya Sehat”

M.Yamin Nasution

M.Yamin Nasution

Related Posts

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi
Feature

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

May 31, 2026
Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu
Feature

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

May 30, 2026
UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis
daerah

UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

May 30, 2026
Next Post
Panggung Opera Biru Jokowi: “Saya Sehat”

Panggung Opera Biru Jokowi: "Saya Sehat"

KEMANA ARAH KETAHANAN PANGAN KE DEPAN ?

Beras Jadi Senjata, Rakyat Jadi Korban: Saatnya Negara Sikat Mafia!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

May 31, 2026
Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

May 30, 2026
Distribusikan Hewan Kurban untuk Disabilitas, Gammara Inklusi Gandeng Kawan Netra dan Kuril Langit

Distribusikan Hewan Kurban untuk Disabilitas, Gammara Inklusi Gandeng Kawan Netra dan Kuril Langit

May 30, 2026
UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

May 30, 2026
Bolehkah Berkurban dengan Sayur-Mayur?

Sapi Kurban dari APBN: Sebuah Paradoks?

May 30, 2026
Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

May 31, 2026
Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

May 30, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...