FusilatNews – Pagi ini, seorang pengusaha hotel di daerah menyampaikan kegelisahannya. “Itu pidato Presiden, hati-hati! Apa yang dipidatokan akan menjadi aturan dan pedoman aparat di bawahnya,” katanya dengan nada cemas. Ia mengeluhkan bahwa tahun ini usahanya akan menghadapi kesulitan besar karena anggaran belanja perjalanan akan dikurangi habis-habisan. Lebih lanjut, ia berkata, “Dengar suara rakyat, Pak! Jangan dengar dari Mayor Teddi,” ujarnya dengan kesal.
Sebagai seorang warga yang kerap menyimak pidato Presiden, Mang Aah pun turut merasa heran. Baginya, pidato Presiden belakangan ini lebih menyerupai curhatan pribadi ketimbang sebuah arahan kebijakan yang strategis. “Ngomongin hal yang nggak ada urgensinya, Pak! Kami ini butuh solusi, bukan keluhan!” ucap Mang Aah sambil menghela napas panjang.
Fenomena pidato yang cenderung berisi keluhan dan pembelaan diri ini bukanlah hal baru. Sejak beberapa waktu terakhir, publik kerap disuguhi narasi yang lebih bersifat subjektif dan emosional. Alih-alih menyampaikan kebijakan yang berorientasi pada perbaikan ekonomi, pendidikan, atau kesejahteraan sosial, pidato tersebut malah kerap berisi pembenaran terhadap kebijakan yang kontroversial, serta sindiran kepada pihak-pihak tertentu yang berbeda pandangan.
Seorang kepala negara seharusnya memahami bahwa setiap kata yang diucapkannya memiliki konsekuensi besar. Tidak hanya sebatas retorika, tetapi juga akan menjadi pegangan bagi aparat di berbagai tingkatan. Jika yang dipidatokan lebih banyak soal keluh kesah pribadi, maka bisa jadi kebijakan yang lahir pun akan jauh dari kepentingan rakyat banyak.
Dalam kasus pengusaha hotel tadi, ia menyadari betul bahwa pemangkasan anggaran perjalanan dinas akan berdampak langsung pada sektor perhotelan dan pariwisata secara keseluruhan. Namun, alih-alih menjelaskan strategi untuk mengatasi dampak kebijakan tersebut, Presiden justru lebih sibuk membicarakan hal-hal yang jauh dari substansi. “Kami ini rakyat, Pak! Hidup kami bukan eksperimen kebijakan yang coba-coba!” serunya.
Mengapa pidato seorang kepala negara kini terasa lebih personal ketimbang profesional? Apakah ini strategi politik untuk menarik simpati, atau justru sebuah refleksi dari kepanikan menghadapi berbagai persoalan yang kian kompleks? Mang Aah dan banyak warga lainnya tentu berharap bahwa pidato seorang Presiden tetap berpijak pada solusi nyata, bukan sekadar keluh kesah yang tidak berujung pada tindakan konkret.
Bagi rakyat kecil seperti Mang Aah, satu hal yang ia inginkan dari pemimpin adalah kejelasan arah dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. “Pak Presiden, pidatomu jangan curhat-curhatan terus. Kami ini butuh kepastian, bukan keluhan!” ujar Mang Aah sembari menyeruput kopi paginya dengan perasaan gundah.






















