Oleh: Entang Sastaatmadja
Menteri BUMN Erick Thohir resmi mengganti Direktur Utama Perum Bulog, Mayjen TNI Novi Helmy Prasetya. Keputusan itu tertuang dalam SK Menteri BUMN Nomor: SK-179/MBU/06/2025 tertanggal 30 Juni 2025. Posisinya kini diisi oleh Prihasto Setyanto, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan Pertanian, yang ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Dirut Bulog.
Pengangkatan sekaligus menjadi penutup masa tugas Bung Novi Helmy sebagai nakhoda Bulog. Ia akan kembali melanjutkan pengabdiannya di institusi asalnya—TNI AD. Lulusan Akmil 1993 dari kecabangan Infanteri ini dikenal sebagai prajurit elite Kopassus, dan pernah menjabat sebagai Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI sebelum dipercaya menakhodai Bulog.
Meski hanya empat bulan menjabat, kehadiran Bung Novi di pucuk pimpinan Bulog menandai babak baru yang cukup berani. Untuk pertama kalinya, Bulog dipimpin oleh seorang perwira tinggi aktif. Pro dan kontra pun bermunculan. Wajar, itulah dinamika demokrasi. Ada yang menilai ini langkah strategis, ada pula yang menyayangkan keterlibatan militer dalam BUMN.
Namun, di luar polemik regulasi, kita patut mengapresiasi nilai-nilai yang dibawa Bung Novi ke tubuh Bulog. Kita tahu, seorang perwira TNI dibesarkan dalam kultur disiplin, struktur, serta kepemimpinan yang tegas. Kombinasi itu menjadi modal penting dalam mengelola organisasi logistik sebesar Bulog.
TNI, secara alamiah, terlatih dalam manajemen krisis, pengelolaan sumber daya, hingga menghadapi tekanan—kemampuan yang sangat relevan bagi Bulog, terutama dalam tugas strategis menyerap gabah petani di tengah ketatnya dinamika pangan nasional.
Pemerintah menargetkan penyerapan 3 juta ton setara beras tanpa opsi impor mulai 2025. Dari total itu, Bulog hanya diberi porsi menyerap 900 ribu ton. Angka ini memang tidak berat bagi Bulog yang kini didukung SDM dan pendanaan memadai. Tapi tantangan sebenarnya justru terletak pada Perpadi yang harus menyerap sisanya: 2,1 juta ton. Di sinilah peran koordinatif Bulog menjadi krusial.
Dalam waktu singkat, Bung Novi menunjukkan orientasi kerja yang strategis dan lugas. Dengan pengalaman sebagai penguasa teritorial, ia diharapkan mampu membangun sinergi yang kuat antarpemangku kepentingan. Bahwa penyerapan gabah masih rendah, bisa jadi karena jadwal tanam yang mundur. Ketika produksi belum siap, maka tak ada yang bisa diserap, meskipun infrastruktur Bulog sudah siaga.
Perlu dicatat, Bulog bukan lembaga amatiran. Selama 36 tahun sebagai Lembaga Otonom Pemerintah dan 22 tahun sebagai BUMN, mereka terbukti piawai mengelola stok beras nasional. Penambahan direktur khusus pengadaan bahkan semakin memperkuat struktur eksekusinya.
Kita berharap, kepemimpinan Bung Novi membawa energi baru bagi Bulog—menguatkan posisinya sebagai lembaga pangan strategis yang tak hanya tangguh di atas kertas, tapi juga gesit di lapangan.
Kini, saat tongkat estafet diserahkan kepada Plt Dirut, Prihasto Setyanto, kita hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada Bung Novi. Jejak singkatmu adalah pelajaran panjang tentang ketegasan, pengabdian, dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab besar demi kedaulatan pangan bangsa.
Selamat kembali ke barak, Bung Jenderal. Empat bulan itu cukup untuk menorehkan sejarah.
(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Oleh: Entang Sastaatmadja























