• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

MBG SEBAGAI STRATEGI GEOEKONOMI PRABOWO

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
May 7, 2026
in Economy, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Seorang teman bertanya, apakah Indonesia akan terpuruk bila keadaan di Selat Hormuz terus memburuk?
Saya menjawab: Indonesia akan survive, asal rakyat Indonesia siap memasuki mode ekonomi survival. Tetapi jawaban itu belum lengkap. Dalam pikiran Prabowo, survival tidak cukup berarti bertahan dari krisis. Survival harus diubah menjadi konsolidasi kekuatan nasional. Dan salah satu pintu masuknya adalah pangan.

Di sinilah kebijakan Makan Bergizi Gratis atau MBG perlu dibaca secara lebih dalam. MBG bukan sekadar program gizi. Bukan pula hanya program sosial untuk mengatasi stunting. Ia adalah strategi geoekonomi dua lapis.
Pada lapis bawah, MBG adalah instrumen ekonomi survival. Ia dirancang untuk memperkuat daya tahan rakyat agar Indonesia tidak mudah jatuh ketika dunia diguncang perang, sanksi, krisis energi, lonjakan harga pangan, dan fragmentasi rantai pasok global.

Pada lapis atas, MBG adalah instrumen konsolidasi ekonomi pangan. Melalui permintaan pangan yang besar, rutin, dan tersebar, negara berusaha menata ulang rantai pasok pangan Indonesia agar lebih efisien, terhubung, dan bergerak sebagai ekonomi jaringan.

Dengan kata lain, MBG bukan hanya tentang anak-anak makan siang. MBG adalah cara negara menciptakan pasar pangan yang terstruktur. Ia adalah jalan untuk menghubungkan ladang, kandang, kolam, laut, koperasi, pasar lokal, dapur, dan sekolah ke dalam satu sistem yang lebih tertib.
Inilah makna strategisnya.

Dunia hari ini sedang bergerak menuju multipolaritas. Tetapi transisi itu tidak berlangsung damai dan rapi. Dunia lama yang dipimpin Barat belum sepenuhnya runtuh. Dunia baru yang berpusat pada banyak kekuatan belum sepenuhnya stabil. Di antara keduanya muncul konflik, sanksi, perang dagang, perang teknologi, krisis energi, dan perebutan jalur logistik.

Dalam situasi seperti ini, pangan tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan domestik biasa. Pangan adalah bagian dari geopolitik. Bila Selat Hormuz terganggu, harga minyak dapat naik. Bila harga minyak naik, harga pupuk dan logistik ikut naik. Bila pupuk dan logistik naik, harga pangan terdorong naik. Bila harga pangan naik, rakyat kecil paling dulu terpukul. Maka krisis yang tampaknya jauh di Timur Tengah dapat menjelma menjadi krisis di dapur rumah tangga Indonesia.

Itulah sebabnya ekonomi survival menjadi penting.

Namun ekonomi survival bukan ekonomi panik. Bukan ekonomi perang yang tertutup, militeristik, dan serba dikendalikan negara. Yang dimaksud adalah kemampuan bangsa untuk bertahan ketika tekanan eksternal datang. Negara tetap terbuka, tetapi tidak telanjang. Tetap berdagang, tetapi tidak tergantung pada satu jalur. Tetap menerima investasi, tetapi tidak kehilangan kendali atas sektor strategis. Tetap menjadi bagian dari ekonomi dunia, tetapi memiliki bantalan domestik.

Cina, Rusia, dan Iran memberi pelajaran penting. Tiga negara itu berbeda sistem politik dan kapasitas ekonominya, tetapi sama-sama menunjukkan bahwa tekanan eksternal tidak selalu membuat sebuah bangsa bertekuk lutut. Dalam kondisi tertentu, tekanan justru memaksa transformasi. Rusia memperkuat substitusi impor dan jaringan dagang alternatif. Iran, setelah lama berada di bawah sanksi, mengembangkan kapasitas bertahan dalam energi, pangan, industri pertahanan, dan ekonomi domestik. Cina menghadapi tekanan teknologi dan perdagangan dengan mempercepat kemandirian industri strategis dan penguatan pasar dalam negeri.

Indonesia tentu tidak perlu menjadi Rusia, Iran, atau Cina. Jalan Indonesia berbeda. Indonesia adalah negara kepulauan, terbuka, demokratis, dan hidup dalam tradisi bebas-aktif. Tetapi pelajaran besarnya tetap relevan: bangsa yang ingin bertahan tidak cukup hanya percaya kepada pasar global. Ia harus memperkuat dirinya dari dalam.

Dalam kerangka itulah MBG memperoleh arti baru.

Pada lapis bawah, MBG membangun ketahanan manusia. Anak-anak yang kurang gizi adalah titik lemah bangsa. Rakyat yang rapuh pangan mudah terguncang oleh inflasi. Keluarga miskin yang terlalu sensitif terhadap harga beras, telur, minyak, dan sayur akan segera jatuh ketika harga pangan naik. Karena itu, memberi makan bergizi bukan sekadar tindakan belas kasih negara. Ia adalah investasi ketahanan sosial.

Tetapi Prabowo tampaknya melihat lebih jauh. Tubuh rakyat yang kuat adalah fondasi negara yang kuat. Kalau rakyat lapar, negara rapuh. Kalau gizi buruk meluas, produktivitas rendah. Kalau pangan mahal, legitimasi politik terancam. Maka MBG bekerja sebagai jaring pengaman strategis: menjaga kelompok rentan tetap memiliki akses pangan bergizi ketika dunia semakin tidak pasti.

Namun lapisan bawah ini hanya separuh cerita.

Lapisan atasnya justru lebih menentukan: MBG sebagai alat konsolidasi ekonomi pangan nasional.

Selama ini ekonomi pangan Indonesia terlalu terfragmentasi. Petani kecil menanam sendiri-sendiri. Peternak kecil menghadapi harga pakan yang tidak stabil. Nelayan berhadapan dengan tengkulak. Pedagang pasar bekerja dalam jaringan informal. Koperasi sering lemah. Logistik mahal. Data produksi tidak akurat. Harga di petani rendah, harga di konsumen tinggi. Negara sering masuk hanya ketika harga sudah melonjak atau ketika impor harus diputuskan.

Struktur seperti ini membuat pangan Indonesia tidak efisien. Lebih jauh lagi, struktur ini membuat Indonesia rentan.

MBG dapat menjadi instrumen untuk mengubah struktur itu karena ia menciptakan permintaan yang sangat besar, rutin, dan dapat diprediksi. Setiap hari dapur MBG membutuhkan beras, telur, ikan, ayam, sayur, buah, tempe, tahu, bumbu, air bersih, tenaga masak, kendaraan distribusi, dan sistem pengawasan. Permintaan sebesar ini tidak boleh dibiarkan menjadi proyek belanja biasa. Ia harus digunakan sebagai jangkar konsolidasi.

Inilah yang disebut demand anchor: permintaan besar yang dipakai negara untuk membentuk ulang pasar.

Bila dapur MBG membeli pangan dari produsen lokal, koperasi desa, BUMDes, peternak, nelayan, penggilingan padi, dan UMKM pangan, maka petani kecil tidak lagi sepenuhnya tergantung pada pasar yang liar. Mereka memiliki pembeli yang pasti. Mereka dapat merencanakan produksi. Mereka tahu standar mutu yang dibutuhkan.
Mereka memiliki alasan untuk memperbaiki kapasitas. Dari kepastian permintaan, lahir efisiensi.

Tetapi efisiensi yang dimaksud bukan efisiensi korporasi besar yang menyingkirkan rakyat kecil. Efisiensi yang dibayangkan adalah efisiensi ekonomi jaringan. Dalam ekonomi jaringan, produsen kecil tetap hidup, tetapi mereka tidak bekerja sendiri-sendiri. Mereka terhubung melalui koperasi, sistem data, jadwal pasok, standar mutu, logistik bersama, dan pembayaran yang cepat.

Koperasi menjadi penting di sini. Koperasi dapat menjadi agregator antara dapur MBG dan produsen kecil. Petani kecil tidak mungkin satu per satu memasok dapur dalam jumlah besar dengan standar yang sama. Mereka memerlukan lembaga yang mengumpulkan produk, menjaga kualitas, menyusun jadwal pasokan, mengatur penyimpanan, menyediakan modal kerja, dan menegosiasikan harga.

Tetapi koperasi harus sungguh-sungguh menjadi koperasi. Bukan papan nama. Bukan kedok broker. Bukan alat elite lokal untuk mengambil margin. Bila koperasi hanya menjadi bendera formal, MBG akan berubah menjadi proyek rente. Nama rakyat dipakai, tetapi keuntungan diambil oleh perantara.

Karena itu, konsolidasi pangan melalui MBG harus disertai transparansi. Publik perlu tahu dapur membeli dari siapa, dengan harga berapa, dalam volume berapa, standar gizinya apa, siapa pemasoknya, siapa pengelolanya, dan bagaimana mekanisme pengaduannya. Tanpa transparansi, MBG akan menjadi kotak hitam anggaran.

Selain koperasi, menu lokal juga menentukan. Indonesia bukan negara dengan satu ekologi pangan. Di pesisir, ikan seharusnya menjadi sumber protein utama. Di wilayah peternakan, telur dan ayam lebih mudah diserap. Di daerah tertentu, jagung, sagu, singkong, ubi, pisang, dan kacang-kacangan dapat menjadi bagian penting dari menu bergizi. Standar gizi boleh nasional, tetapi bahan pangan harus mengikuti ekologi lokal.

Ini bukan soal romantisme lokal. Ini soal kedaulatan. Negara yang pola makannya terlalu tergantung pada gandum impor, susu impor, pangan ultra-proses, dan bahan global akan rentan terhadap krisis. Sebaliknya, negara yang mampu menghubungkan konsumsi rakyat dengan produksi lokal akan lebih tahan.

Dengan cara itu, MBG dapat membentuk ulang hubungan antara tubuh rakyat dan tanah tempat mereka hidup. Anak-anak makan makanan bergizi. Petani lokal mendapat pasar. Nelayan mendapat kepastian serapan. Peternak kecil memperoleh permintaan rutin. Koperasi tumbuh. Pasar lokal bergerak. Uang negara berputar di daerah.
Di titik ini, MBG menjadi lebih dari program sosial. Ia menjadi mesin konsolidasi.

Tetapi mesin ini hanya bekerja jika desainnya tepat. Jika pengadaan terlalu tersentralisasi, MBG akan melahirkan oligopoli pangan baru. Jika dapur hanya menjadi perpanjangan industri katering besar, ekonomi lokal tidak akan bergerak. Jika standar administrasi terlalu berat, petani kecil dan UMKM akan tersingkir. Jika pembayaran lambat, produsen kecil akan kembali bergantung pada tengkulak. Jika menu diseragamkan, produksi lokal tidak terserap. Jika pengawasan lemah, kualitas makanan turun.

Maka keberhasilan MBG tidak boleh diukur hanya dari jumlah porsi. Ukuran yang lebih penting adalah berapa persen bahan pangan berasal dari produksi lokal; berapa banyak petani, nelayan, peternak, koperasi, dan UMKM masuk dalam rantai pasok; berapa cepat pembayaran dilakukan; berapa pendapatan produsen lokal meningkat; berapa biaya logistik turun; berapa kualitas gizi membaik; dan berapa kuat data pangan lokal terbentuk.
Inilah cara membaca MBG sebagai strategi geoekonomi.

Geoekonomi berarti negara memakai instrumen ekonomi untuk tujuan strategis. Dalam kasus MBG, negara memakai belanja gizi untuk membangun ketahanan pangan, mengonsolidasikan rantai pasok, memperkuat ekonomi rakyat, dan memperbesar daya tahan nasional dalam dunia multipolar.

Dengan demikian, tujuan Prabowo dalam MBG seharusnya tidak dibaca terlalu sempit. Mengatasi stunting memang penting. Memperbaiki gizi anak-anak sangat penting. Tetapi di balik itu ada agenda yang lebih besar: menata ekonomi pangan Indonesia agar tidak tercerai-berai, tidak terlalu tergantung impor, tidak sepenuhnya dikendalikan tengkulak dan oligopoli, serta lebih siap menghadapi dunia yang tidak pasti.

Jika dunia memasuki masa multipolar yang penuh kontradiksi, maka Indonesia tidak boleh hanya menyiapkan diplomasi. Indonesia juga harus menyiapkan dapur. Tidak cukup hanya memperkuat pertahanan. Indonesia harus memperkuat pangan. Tidak cukup hanya membangun infrastruktur besar. Indonesia harus membangun jaringan kecil yang bekerja setiap hari: koperasi, dapur, pasar, gudang, petani, nelayan, peternak, dan UMKM.

Survival bangsa tidak hanya ditentukan oleh kapal perang, cadangan devisa, atau pidato diplomatik. Survival bangsa juga ditentukan oleh apakah rakyat bisa makan, apakah anak-anak tumbuh sehat, apakah petani tetap menanam, apakah nelayan tetap melaut, apakah desa memiliki pendapatan, dan apakah negara memiliki jaringan pangan yang dapat diandalkan ketika dunia terguncang.

Maka, bila ditanya apa tujuan terdalam MBG, jawabannya begini: MBG adalah cara Prabowo memakai program gizi sebagai pintu masuk untuk konsolidasi ekonomi pangan nasional.

Pada lapis bawah, ia membangun ketahanan rakyat agar Indonesia tidak mudah jatuh oleh tekanan eksternal. Pada lapis atas, ia mengonsolidasikan sektor pangan agar lebih efisien, terhubung, dan berdaya saing melalui ekonomi jaringan.

Jika dua lapis ini berhasil dipadukan, MBG akan menjadi salah satu kebijakan paling strategis dalam pemerintahan Prabowo. Ia bukan hanya memberi makan anak-anak. Ia membangun daya tahan bangsa. Ia bukan hanya mengatasi stunting. Ia menata ulang pangan. Ia bukan hanya program sosial. Ia adalah strategi geoekonomi Indonesia di zaman multipolar.

BANDUNG, 7 Mei 2026

Penulis:
Pendiri Forum Aktivis Bandung
Anggota Komite Eksekutif KAMI
Presidium KAPPAK
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Nasib Presiden RI – Korban Dari System Yg Buruk

Next Post

Korupsi dan Kerusakan Moral di Direktorat Imigrasi Indonesia: Ketika Patnal Menjadi Pelindung Pelaku Kejahatan

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo
Birokrasi

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR
Birokrasi

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Feature

NEGARA, SEPIRING NASI, DAN RASA CURIGA

May 13, 2026
Next Post
Korupsi dan Kerusakan Moral di Direktorat Imigrasi Indonesia: Ketika Patnal Menjadi Pelindung Pelaku Kejahatan

Korupsi dan Kerusakan Moral di Direktorat Imigrasi Indonesia: Ketika Patnal Menjadi Pelindung Pelaku Kejahatan

Ketika TNI Menjadi “Supermen”: Mengurusi Segalanya, Kecuali Perang

Ketika TNI Menjadi "Supermen": Mengurusi Segalanya, Kecuali Perang

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

May 13, 2026
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026

NEGARA, SEPIRING NASI, DAN RASA CURIGA

May 13, 2026

​Ketika Negara Membuka Hulu Kerusakan ​(Refleksi tentang Moral Bangsa, Kebijakan Publik, dan Arah Peradaban Indonesia)

May 13, 2026
Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

May 13, 2026
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...