• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Politik

Nasib Presiden RI – Korban Dari System Yg Buruk

Ali Syarief by Ali Syarief
May 7, 2026
in Politik, Tokoh/Figur
0
Nasib Presiden RI – Korban Dari System Yg Buruk
Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu pola yang terus berulang dalam sejarah politik Indonesia: pemimpin datang silih berganti, tetapi sistem yang melingkupinya tetap menghasilkan krisis yang sama. Seolah republik ini tidak pernah benar-benar berhasil membangun tata politik yang sehat, melainkan hanya mengganti wajah di pucuk kekuasaan.

Bung Karno pernah mengingatkan, “Dalam sistem yang buruk, pemimpin yang baik adalah korban sistem.” Kalimat itu bukan sekadar refleksi pribadi, melainkan semacam diagnosis terhadap watak politik Indonesia yang hingga hari ini terasa relevan.

Soekarno membangun republik ini dengan fondasi ideologis yang kuat. Ia mempersatukan bangsa yang tercerai-berai oleh kolonialisme dan menjadikan Indonesia memiliki martabat di panggung dunia. Tetapi pada akhirnya ia digulingkan oleh pertarungan kekuasaan yang brutal, konflik ideologi, dan permainan elite negara. Sang proklamator justru tersingkir dari republik yang ia dirikan.

Lalu muncul Soeharto dengan janji stabilitas. Pada awalnya ia dipandang berhasil memulihkan ekonomi dan menghadirkan ketertiban. Namun kekuasaan yang terlalu lama tanpa kontrol melahirkan otoritarianisme. Negara berubah menjadi instrumen kekuasaan pribadi dan keluarga. Ketika krisis datang, sistem yang dibangun dengan sentralisasi ekstrem itu runtuh bersama figur yang menopangnya.

Era reformasi melahirkan B. J. Habibie, sosok transisional yang membuka kebebasan pers dan demokrasi. Tetapi ia justru ditolak oleh kekuatan politik yang sebelumnya menopang kekuasaan Orde Baru. Reformasi ternyata tidak otomatis melahirkan kedewasaan politik.

Kemudian lahirlah ironi berikutnya: Abdurrahman Wahid dipilih dari partai dengan suara relatif kecil. Ia menjadi presiden lebih karena kompromi politik elite dibanding dominasi elektoral. Gus Dur diangkat oleh koalisi yang menginginkan keseimbangan kekuasaan pasca-reformasi. Namun tak lama kemudian, ia pula dijatuhkan oleh kekuatan yang dulu memilihnya. Demokrasi saat itu memperlihatkan wajah transaksionalnya secara telanjang: dukungan politik bisa berubah menjadi pisau kapan saja.

Megawati Soekarnoputri kemudian naik menggantikan Gus Dur melalui konfigurasi politik parlemen. Di era itu, legitimasi kekuasaan masih sangat ditentukan oleh kompromi elite, bukan semata kehendak rakyat.

Lalu hadir Susilo Bambang Yudhoyono sebagai simbol demokrasi elektoral modern. Ia dipilih langsung oleh rakyat dan berhasil menjaga stabilitas relatif panjang. Namun pemerintahannya memperlihatkan sisi lain demokrasi Indonesia: kebebasan politik sering berubah menjadi delegitimasi tanpa henti. Presiden dipilih langsung, tetapi juga terus-menerus dihantam oleh polarisasi politik dan serangan opini.

Kemudian datang Joko Widodo dengan citra pemimpin sederhana dari luar lingkar elite lama. Pada awalnya ia dipandang sebagai antitesis politik oligarki. Namun menjelang akhir kekuasaannya, kritik justru membesar: pelemahan institusi demokrasi, perubahan aturan yang dianggap melayani kepentingan kekuasaan, hingga menguatnya politik keluarga dan dinasti.

Kini tongkat estafet berada di tangan Prabowo Subianto. Tetapi banyak yang melihat pemerintahannya sebagai kelanjutan dari era Jokowi, bukan koreksi terhadapnya. Bahkan muncul kekhawatiran baru: menguatnya nuansa militeristik dalam tata kelola negara. Penempatan figur berlatar belakang militer di berbagai sektor strategis, pendekatan keamanan yang semakin dominan, hingga menguatnya kultur komando dalam politik menjadi sinyal yang memunculkan kecemasan sebagian kalangan.

Kekhawatiran itu tentu belum menjadi kesimpulan final. Namun sejarah Indonesia membuat publik sulit mengabaikan trauma masa lalu. Bangsa ini pernah mengalami bagaimana militer bukan hanya menjadi alat pertahanan negara, tetapi juga pemain utama politik dan ekonomi.

Persoalannya sesungguhnya bukan sekadar siapa presidennya. Republik ini tampak belum berhasil membangun sistem yang mampu membatasi kekuasaan secara sehat. Akibatnya, setiap pemimpin berpotensi terseret oleh arus sistem: yang idealis bisa dijatuhkan, yang populer bisa tergoda memperpanjang pengaruh, dan yang kuat bisa berubah semakin otoriter.

Indonesia akhirnya seperti terjebak dalam siklus tanpa akhir: mengganti orang, tetapi gagal memperbaiki struktur. Demokrasi berjalan, pemilu tetap digelar, tetapi oligarki, kompromi elite, dan pragmatisme kekuasaan terus menjadi fondasi utama politik nasional.

Dan mungkin di situlah letak tragedi terbesar republik ini: bukan karena kekurangan pemimpin, melainkan karena sistemnya terlalu sering mengubah pemimpin menjadi bagian dari masalah yang sama.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

“Ade Armando Cari Jalan Damai ke JK, Grace Natalie Malah Ditolak PSI?”: Dua Loyalis Politik Kini Dihantam Persoalan Hukum

Next Post

MBG SEBAGAI STRATEGI GEOEKONOMI PRABOWO

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Revolusi Bermula dari Film!
Feature

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026
Feature

NEGARA, SEPIRING NASI, DAN RASA CURIGA

May 13, 2026
Pesta Babi, Saat Oligarki Ngga Mau Disebut Babi
Feature

Pesta Babi, Saat Oligarki Ngga Mau Disebut Babi

May 13, 2026
Next Post

MBG SEBAGAI STRATEGI GEOEKONOMI PRABOWO

Korupsi dan Kerusakan Moral di Direktorat Imigrasi Indonesia: Ketika Patnal Menjadi Pelindung Pelaku Kejahatan

Korupsi dan Kerusakan Moral di Direktorat Imigrasi Indonesia: Ketika Patnal Menjadi Pelindung Pelaku Kejahatan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Revolusi Bermula dari Film!

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...