Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Seperti dengan Susilo Bambang Yudhoyono, hubungan Megawati Soekarnoputri dengan Joko Widodo pun retak. Ini terjadi setelah Ketua Umum PDI Perjuangan yang juga Presiden ke-5 RI itu merasa dikhianati oleh Presiden ke-7 RI itu di Pemilu 2024 lalu, seperti SBY mengkhianati Megawati di Pemilu 2004.
Ibarat gelas, jika sudah retak, maka tak bisa dibuat utuh kembali. Apalagi kalau sudah pecah: ambyar!
PDI Perjuangan pun terkena dampaknya, karena Megawati adalah ketua umum. Salah satunya adalah Kongres VI PDIP yang selalu mundur. Disinyalir, Megawati takut Jokowi ikut bermain di dalam Kongres sehingga skenario yang sudah dia susun bisa berantakan.
Dengan dalih ada Pemilu dan Pilkada, Kongres VI PDIP yang semula dijadwalkan akan digelar pada 2024 lalu diundur menjadi April 2025. Namun kini diundur lagi menjadi entah kapan, yang penting masih di tahun ini. Semua terserah Megawati.
Elite-elite PDIP membantah penundaan Kongres VI PDIP karena sang sekretaris jenderal, Hasto Kristiyanto masuk penjara.
Bendahara Umum PDIP Olly Dondokambey menyatakan, Kongres tertunda karena PDIP sedang melakukan pembenahan internal.
Elite-elite PDIP menyatakan, grass roots atau massa di akar rumput masih mendukung Megawati untuk kembali memimpin partai berlambang kepala banteng dalam lingkaran itu. Hal itu tercermin dari pandangan para Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di seluruh Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP di Jakarta beberapa waktu lalu.
Kongres VI, kata Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat, Ahad (1/6/2025), dengan demikian tinggal mengukuhkan Megawati sebagai Ketua Umum PDIP Periode 2025-2030.
Pertanyaannya, kalau memang grass roots sudah fixed mendukung Megawati, mengapa Kongres harus mundur-mundur?
Disinyinyalir Megawati mengalami dua ketakutan sekaligus.
Pertama, putri Bung Karno itu takut dukungan dari grass roots yang diwakili DPC dan DPD selaku pemilik suara dalam Kongres ibarat balon bahkan gelembung buih di lautan yang mudah pecah. Megawati takut pemilik suara digembosi.
Kedua, istri mendiang Taufiq Kiemas itu takut ada intervensi dari eksternal, terutama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengganggu jalannya Kongres. Megawati ingin ada jaminan dari Prabowo bahwa pemerintahannya, dan juga TNI/Polri tidak mengganggu jalannya Kongres. Maklum, Megawati punya pengalaman traumatis dengan pemerintah, TNI dan Polri yang puncaknya adalah Tragedi 27 Juli 1996 di Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro No 50 Menteng, Jakarta Pusat.
Megawati juga ingin ada jaminan dari Prabowo bahwa Jokowi tidak ikut bermain di dalam Kongres. Maklum, di belakang Prabowo ada Jokowi.
Apalagi Jokowi adalah tipikal Raja Jawa yang di permukaan tampak ramah tapi di dalam ada rasa marah.
Pemecatan Jokowi dari PDIP bisa jadi membuat wong Solo itu menyimpan dendam kepada Megawati.
Ditambah lagi, pengaruh Jokowi dalam pemerintahan Prabowo masih cukup kuat. Pertama karena putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka menjadi Wakil Presiden RI. Kedua, karena terpilihnya Prabowo-Gibran berkat dukungan all out Jokowi, sehingga Prabowo pun menurut atau sendika dhawuh apa kata Jokowi.
Ditambah lagi dan lagi, Jokowi disinyalir pernah berupaya merebut PDIP dari tangan Megawati.

























