Oleh M Yamin Nasution – Pemerhati Hukum
“Durch ein neues Gesetz be stimmt wird, wie ein älteres Gesetz verstanden warden soll”
Hukum baru menentukan bagaimana hukum yang lebih tua di fahami

Dalam konsep hukum, pemahaman berlaku surut pada hukum kuno, akan melahirkan sebuah hukum memiliki fondasi hukum lebih sempurna dimasa depan.
Hal tersebut berlaku sama dan sangat penting dalam kehidupan diri peribadi serta kehidupan bernegara. Dan sejarah masa lalu akan menentukan dan menjadi tolak ukur masa depan.
Sejarawan Nasional, Djoko Suryo mengutip pernyataan ahli asing mengatakan: Hidup dalam kehidupan terbagi kita, masa lalu, kini, dan masa yang datang. Secara ruang dan waktu ketiga kehidupan tersebut terpisah, namun, apa yang dilakukan saat ini dan yang akan datang satu kesatuan secara psikologis, dan di sebut sejarah.
Secara nasional tertulis bahwa; Pada 1595, bangsa Belanda mengirim ekspedisi penjelajahan samudera ke dunia Timur dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Mereka berhasil mendarat di Banten pada 27 Juni 1596. Kedatangan orang Belanda ke nusantara merupakan bagian upaya bangsa Eropa berlomba-lomba mencari daerah penghasil rempah-rempah setelah jatuhnya Konstantinopel ke bangsa Turki Utsmani. Awalnya, kedatangan mereka disambut hangat oleh sultan dan masyarakatnya. Namun, tabiat buruk dan sikap tidak menghormati masyarakat setempat yang ditunjukkan oleh para awak kapal akhirnya membuat Cornelis de Houtman dan seluruh awak kapalnya diusir dari Banten. [Sumber : https://museum.kemdikbud.go.id/koleksi/profile/foto+kedatangan+belanda+15951596_58568 di kutip, rabu 28 februari 2024, Jam 09.05 WIB]
Demikian juga di akui oleh sejarawan dan penulis nasional dan asing, seperti buku Batavia, dan lainnya juga berpendapat sama. Bahkan disebutkan Belanda datang ke Indonesia membawa peti berisi rempah, namun tujuan ke Indonesia mencari rempah. Bila diperhatikan keterangan tersebut secara nalar bertentangan, (Sumber : https://tirto.id/sejarah-kedatangan-bangsa-belanda-ke-indonesia-latar-belakang-gjtz).
Latar Belakang Pelayaran
Disebutkan, bahwa selama berabad-abad secara umum diketahui oleh bangsa Eropa, tanah India Timur, kaya dan subur sehingga memicu keinginan untuk berdagang di pulau ini. Baik bangsa Fenisia (sekarang Libanon dan Suriah), Persia, Mekadonia, Yunani, Romawi, Pedagang Aleksandria (Mesir), Byzantium (Konstantinopel), Cina, Arab, dan Italia, masing-masing mengarahkan perdagangan ke daerah ini.
Portugis muncul dengan cara sendiri dan dianggap baru oleh bangsa lain, keberhasilan Portugis masuk Indonesia benar-benar membuat semua pihak kagum. Portugis berhasil menundukkan bangsa Arab, akan tetapi tidak mampu sepenuhnya mengatasi kaum Muslimin.
Namun, Belanda menguasai lebih cepat, disetiap tempat yang didatangi dengan berdagang, Belanda mendirikan kekuasaanya, termasuk Hindia Belanda.
Mahalnya Peta Laut dan Strategi Belanda
Catatan sejarawan mengatakan bahwa Cornelis de Houtman adalah seorang yang paling berjasa dalam menunjukkan jalan menuju selat sunda, bahkan disebut-sebut sebagai pemimpin misi pelayaran. Benarkah demikian?
17 April 1592, Corneliz Claesz berpidato pada saat pertemuan dengan Jendral negara Belanda dan mengatakan bahwa dirinya telah di pimpin oleh Pendeta Peter Plancius, sebuah manajemen yang di biayai oleh Bartholomeo de Lasso, seorang Kosmografer dan ahli navigasi maritim Raja Spanyol.
Mereka memiliki dua puluh lima peta laut pribadi, berikut keterangan tingkat kedalaman dasar laut, peraiaran dangkal, tingkat suhu pada setiap musim, dermaga dan pelabuhan, semua yang terletak di pesisir laut, derajat garis lintang, jarak dan arah mata angin.
Selain itu disampaikan pula tentang rahasia para pelaut Hindia Timur dan Barat, Afrika, Cina, dan rahasia pelaut negara-negara sejenisnya. Keterangan tentang konsep kebiasaan dan etika masyarakat setempat, serta keterangan tentang jenis buah-buahan dan komoditas pedagang.
Namun, Portugis sangat merahasiakan perihal peta ini, dan memberikan hukuman mati bagi pelaku yang menjual peta ke negara lain.
Melalui Pendeta Peter Plancius, maka beberapa pedagang dari Amsterdam mengirim seseorang untuk belajar tentang perdangangan di Hindia Timur ke Lisabon, Portugal dengan konsep keagamaan.
Tahun yang sama, 1592 pendakwah sekaligus pekerja dengan misi berbeda (dalam bahasa teologis Remonstrantie) bertemu di Portugal dan bersepekat untuk mencari dan mengambil informasi rahasia, selain peta, juga tentang catatan-catatn orang India Timur dan Malaka (Moluck).
Tahun 1594, kurang lebih dua tahun mereka kembali ke Amsterdam, semua informasi yang dibutuhkan telah mencukupi, hanya tinggal mencari seseorang yang berpengalaman dalam bahasa Melayu.
Kembali ke 1592, seseorang tak disebutkan diawal, juga seorang pelaut, Jan Huygen van Linschoten kembali ketanah airnya Belanda (catatan tentang perjalanannya diterbitkan tiga tahun setelah itu). Menurut laporan bahwa Jan Huygen van Linschoten telah banyak memberikan informasi pada Maelson, Palu, Danus, dan lainnya.
Terlebih lagi Jan Huygen van Linschoten juga telah melakukan kontak dengan Pendeta Peter Plancius dan menyampaikan hal mengenai Navigasi ke Utara dan Hindia Timur.
Namun siapakah yang dikirim oleh pihak Amsterdam ke Lisabon Portugal dalam misi medapatkan informasi tentang peta laut dan masyarakat tanah Banten yang dianggap berharga? Sebuah Dokumen Resolusi tanggal 22 Desember 1594 menegaskan bahwa Cornelis Houtman menerima banding atas putusan konsulat Lisabon, dan saat resolusi tersebut dikeluarkan oleh Portugal, Houtman telah berada di Amsterdam pada bulan Agustus 1594.
Menurut perkumpulan Remonstrantie Belanda, Houtman telah kembali dari Lisabon pada awal 1594, dan 17 mei tahun yang sama Remonstrantie melakukan pertemuan kembali untuk membahas pelayaran ke Hindia (India-Indonesia) Timur, pemabahasan ini melibatkan pemilik kapal/perusahaan, Houtman, Plancius.
Dengan demikian tujuan awal adalah Penguasaan dagang dan Pendudukan wilayah, sedangkan misi keagamaan digunakan oleh kompeni tidak murni, melainkan cara untuk mendapatkan materialisme.
Tanggal Berlabuh di Banten, Nama Empat Kapal, dan Crew Kapal
Perusahaan India Timur telah ada sebelum Belanda masuk ke Banten, perusahaan tersebut bertempat di Amsterdam (dahulu, Amstelredam).
Namun siapa saja yang terlibat dalam perjalanan tersebut?
Tanggal 2 April 1595 adalah hari penting bagi dan bersejarah bagi Armada Belanda, untuk pertama kalinya berlayar dari Pantai Texel Belanda, menyusuri Tanjung Harapan menuju Hindia Timur.
Pelayaran ini memakan waktu selama 1,3 Tahun hingga sampai di untuk pertama kalinya di Banten, pada tanggal 23 Juni 1596, dengan banyak persoalan dan masalah selama di perjalanan.
Adapun Armada pertama terdiri dari tiga kapal dan satu kapal pesiar, yang dilengkapi oleh orang-orang khusus, di awaki hampir 250 orang.
Nama Kapal dan Petinggi Kapal
Adapun nama kapal dan jabatan-jabatan orang-orang yang didalamnya sebagai berikut:
| No | Nama Kapal | Nama Krew | Jabatan |
|
1 |
KAPAL MARITIUS | Jan Jansz.Moelenaer | Kapten Kapal (Schiper) |
| Vechter Willemsz | Rekan (Stuurlieden) | ||
| Claesz Janzs | Rekan (Stuurlieden) | ||
| Cornelis de Houtman | Komite (Kommies) ← | ||
| Barent Heynck | Komite (Komies) |
Pada gambar diatas nama Cornelis de Hotman yang selama ini disebut sebagai pemimpin kapal telah keliru di fahami dalam sejarah Indonesia.
| No | Nama Kapal | Nama Krew | Jabatan |
| Jan Dignumsz | Kapten | ||
| Pieter Dircks. Keyzer | Pilot Tinggi (Opperste Piloot) | ||
| 2 | KAPAL HOLLANDIA | Jacob Jansz | Stuurman |
| Gerrit van Bönnigen | Komite (Komies) | ||
| Cornelis Naso of Nassen | Komite | ||
| Frederik de Houtman | Onder Kommies |
Kami akan lanjutkan pada bagian berikutnya, tentang bagaimana Cornelis de Houtman hingga dapat disebut sebagai Pemimpin kapal, dimana kekeliruan tersebut, dari proses-proses selama di perjalanan.
Selain daripada itu, kenapa pihak Belanda di usir oleh pihak Banten, apakah sesuai dengan catatan-catatan kuno yang kami temukan.
Disklaimer:
Bahwa catatan ini berbeda dengan catatan sejarawan nasional, dan pada dasarnya penulis telah mengirim email kepada Kemendikbud, pada tanggal 28 februari 2024, jam 08:47 WIB, E-mail : [email protected] dengan judul : KEKELIRUAN CATATAN SEJARAH NASIONAL TENTANG KEDATANGAN BELANDA, dan memberitahukan bahwa, sejarah yang kita miliki keliru dan penulis bersedia menuliskan secara ilmiah sebagai peran warga negara.
Adapun arsip dan catatan yang kami gunakan adalah catatan yang juga digunakan oleh sejarawan Belanda seperti; Sandwijk, 1865, Julien Wolbers, J.K.J de Jonge, dan lainnya, sehingga keilmiahannya dapat di pertanggung jawabkan.























