• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Membongkar Pengebiran Politik Islam Orde Baru: Kisah Pembonsaian Parmusi

fusilat by fusilat
November 14, 2025
in Feature, Politik
0
Membongkar Pengebiran Politik Islam Orde Baru: Kisah Pembonsaian Parmusi
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nazaruddin

Era Orde Baru (Orba) di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto kerap dipuji sebagai masa stabilisasi politik dan ekonomi. Namun, stabilitas tersebut sejatinya berdiri di atas pondasi otoritarianisme dan rekayasa politik yang sistematis. Kisah Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) menjadi salah satu bukti paling terang tentang bagaimana rezim ini mengebiri kekuatan politik independen—khususnya dari kalangan Islam—demi memastikan kelanggengan kekuasaannya sendiri. Perlakuan terhadap Parmusi adalah studi kasus klasik tentang bagaimana negara mencampuri urusan organisasi rakyat untuk membentuk peta politik sesuai selera penguasa.


Pintu Tertutup bagi Integritas: Penyingkiran Tokoh-Tokoh Kunci

Ketika umat Islam berupaya mendirikan Parmusi sebagai penerus Masyumi—partai besar yang dibubarkan pada era Soekarno—muncul harapan baru bagi kebangkitan politik Islam. Namun, harapan itu cepat padam di hadapan intervensi penguasa. Presiden Soeharto secara tegas menolak pengesahan kepengurusan Parmusi apabila di dalamnya terdapat tokoh-tokoh berpengaruh dari eks-Masyumi seperti Mohammad Natsir, Prawoto Mangkusasmito, dan Syafrudin Prawiranegara.

Nama-nama ini memiliki rekam jejak panjang, integritas tinggi, serta basis massa yang kuat—terlalu independen bagi rezim yang ingin semua elemen politik berada dalam orbit kekuasaannya. Bahkan ketika diajukan sosok yang dinilai lebih moderat seperti Mohammad Roem, penolakan tetap datang dari Istana. Pesan rezim sangat gamblang: tidak boleh ada pemimpin politik Islam yang mandiri, berpengaruh, dan sulit dikendalikan.


Kudeta Halus: Menyelipkan “Orang Istana” ke Pucuk Kepemimpinan

Meski penuh tekanan, proses pendirian Parmusi tetap berjalan. Dalam muktamar, para pendiri dan perwakilan daerah memilih Djarnawi Hadikusumo sebagai Ketua Umum yang sah. Pemilihan ini mencerminkan aspirasi internal partai dan semangat untuk membangun kemandirian politik Islam.

Namun kemenangan itu hanya sekejap. Pemerintah segera menolak hasil muktamar tersebut dan menggunakan tekanan politik serta perangkat keamanan untuk membatalkannya. Langkah puncaknya terjadi ketika Presiden Soeharto menunjuk Mohammad Saleh Mintaredja sebagai Ketua Umum Parmusi yang “resmi” versi pemerintah. Mintaredja bukan tokoh sentral dari garis perjuangan Masyumi ataupun Parmusi, namun ia dikenal dekat dan patuh terhadap kepentingan Istana. Dengan demikian, rezim berhasil memastikan bahwa pucuk pimpinan Parmusi ditempati sosok yang lebih loyal kepada penguasa daripada kepada aspirasi umat dan kader partai.


Warisan Trauma: Pembonsaian Politik Islam

Intervensi keras terhadap Parmusi meninggalkan luka dan dampak jangka panjang bagi peta politik Islam di Indonesia. Dengan menyingkirkan tokoh-tokoh independen dan menggantinya dengan figur yang dikendalikan, Orde Baru menciptakan kekosongan kepemimpinan berintegritas di parlemen. Kekuatan politik Islam dipreteli sejak dari akar hingga pucuk.

Langkah berikutnya adalah fusi paksa partai-partai Islam ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 1973. PPP lahir bukan sebagai kekuatan politik yang solid, tetapi sebagai hasil kompromi paksa di bawah bayang-bayang kekuasaan. Dalam kondisi demikian, PPP tidak pernah benar-benar mampu menjadi oposisi efektif terhadap Golkar yang menjadi kendaraan utama Orde Baru.

Pengalaman pahit Parmusi menanamkan trauma politik mendalam. Banyak aktivis dan intelektual Islam kemudian menjauh dari politik praktis yang dianggap telah dimanipulasi sepenuhnya oleh negara. Energi perjuangan dialihkan ke ranah dakwah, pendidikan, dan gerakan sosial—wilayah yang dinilai lebih aman dari tekanan kekuasaan.


Melalui kasus Parmusi, sejarah Orde Baru menunjukkan bahwa stabilitas yang dibangga-banggakan bukanlah hasil kompetisi politik yang sehat, melainkan buah dari penjinakan sistematis dan pembonsaian terhadap kelompok-kelompok yang berpotensi menjadi penyeimbang kekuasaan. Parmusi bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi pengingat penting tentang bagaimana negara dapat memandulkan demokrasi ketika kekuasaan dibiarkan tanpa kontrol.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

BURUAN SAE: Dari Pekarangan ke Kedaulatan Pangan Kota

Next Post

Redenominasi Rupiah: Antara Manfaat Ekonomis dan Mudharat Sosial

fusilat

fusilat

Related Posts

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet
Feature

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026
Feature

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah
Feature

Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

June 8, 2026
Next Post
Redenominasi Rupiah: Antara Manfaat Ekonomis dan Mudharat Sosial

Redenominasi Rupiah: Antara Manfaat Ekonomis dan Mudharat Sosial

Membuka Kotak Pandora: Ambiguitas Historis Nahdlatul Ulama dalam Narasi Politik Indonesia (1957–2025)

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
News

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

by Karyudi Sutajah Putra
June 9, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-Banyak pihak, baik di eksekutif maupun legislatif, kini sedang ketar-ketir menunggu kelanjutan proses hukum dugaan tindak pidana korupsi...

Read more
Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

June 7, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

June 8, 2026
50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

June 8, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...