Oleh: Dr H Sukron Ma’mun Yusuf MA – (Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Dai Indonesia Jakarta)
.هللا أكبر/ هللا أكبر/ هللا أكبر/ هللا أكبر/ هللا أكبر/ هللا أكبر/ هللا أكبر/ هللا أكبر/ هللا أكبر
إ َّن الحمد هلل، نحمده ونستعينه، ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ باهلل من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يَ ْهِدِه هللاُ فال ُم ِض َّل
له، ومن يُ ْضِل ْل فال هاد َي له، وأشهد أ ْن ال إله إال هللا وحده ال شريك له وال مثيل له وال نِدَّ له، وأشهدُ أ َّن محمداً عبده
ر
ورسوله وصفيّه وخليله، أرسله هللا بشيراً ونذيراً وداعياً إلى هللا بإذنه وسراجاً َو َّهاجاً وقمراً منيراً. بلغ ال
سالة وأدى األمانة
.ونصح األمة وجاهد في هللا حق جهاده
اللهم صل على محمد وعلى آله وأزواجه وأصحابه األخيار رضوان هللا عليهم ومن دعا بدعوته وسلك سلو َكه واتبع سنتَه
. إلى يوِم الدين
م
أما بعد فيا عباد هللا، أوصي نفسي وإيّاكم بتقوى هللا العظيم، وأحثّكم على طاعة هللا الكري
Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat Idul Adha rahimakumullah.
Segala puji serta syukur marilah sama-sama kita haturkan ke hadirat Allah SWT atas
segala limpahan nikmat dan karunia yang begitu besar dan tiada terkira. Salah satu nikmat
Allah yang saat ini kita dapatkan adalah anugerah Hari Raya Idul Adha, yang dengannya kita bergembira
dan bersuka cita. Rasa syukur kepada Allah SWT telah kita tunjukkan dengan lantunan kalimat takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid.
Rasa syukur juga kita tunjukkan dengan hadirnya kita di tempat ini untuk mengagungkan Asma Allah, beribadah kepada-Nya
lewat ibadah sholat dan ibadah kurban.
Allah SWT berfirman di dalam Al Quran Surat al-Kautsar ayat (2):
ر
فَ َص ِّل ِل َربِّ َك َواْن َح
“Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”
Ya Allah, ya Tuhan kami, limpahkanlah sholawat dan salam kepada Nabi akhir zaman,
yang menjadi panutan umat, yaitu Nabi Muhammad SAW, nabi yang berdakwah tak pernah kenal lelah, mendidik dengan sangat apik dan membangun akhlak mulia untuk hidup sentosa.
Semoga sholawat dan salam juga terlimpah untuk ahli bait dan kerabat, sahabat serta umat yang taat di atas jalan syariat untuk hidup yang bermartabat dan selamat hidup di dunia dan akhirat.
Marilah kita berusaha untuk meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan takwa
yang sungguh-sungguh dan terus memeliharanya sampai akhir hayat, dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat (102):
يَا أَيُّ َها الَّ ِذي َن آ َمنُوا اتَّقُوا ََّّللاَ َح َّق تُقَاتِ ِه َوَال تَ ُموتُ َّن إَِّال َوأَْنتُ ْم ُم ْسِل ُمو َن
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
Masyiral muslimin jama’ah sholat Idul Adha rahimakumullah.
Salah satu kewajiban orang tua terhadap keluarga adalah melindungi, menjaga, dan memelihara anggota keluarganya dari segala macam perbuatan buruk yang akan mengakibatkan mereka mendapatkan murka Allah dan siksa-Nya. Sebagaimana firman Allah
SWT yang terdapat di dalam Surat at-Tahrim ayat (6):
يَا أَيُّ َها الَّ ِذي َن آ َمنُوا قُوا أَْنفُ َس ُكْم َوأَ ْهِلي ُكْم نَا ًرا َوقُودُ َها النَّا ُس َواْل ِح َجا َرةُ َعلَ ْي َها َمَالئِ َكة ِغ َال ظ ِشدَاد َال يَ ْع ُصو َن ََّّللاَ َما أَ َمَر ُه ْم
َن
َويَ ْفعَلُو َن َما يُ ْؤ َمُرو
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras,
dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Melalui ayat ini Allah SWT mengingatkan kita semua untuk sungguh-sungguh dalam menjaga anggota keluarga dari segala macam perbuatan buruk yang akan mengakibatkan mereka masuk ke dalam neraka.
Untuk mencegah anak-anak kita dari melakukan perbuatanperbuatan buruk maka cara yang harus ditempuh adalah melalui jalur pendidikan.
Pendidikan juga merupakan cara yang ditempuh dalam rangka mempersiapkan generasi yang tangguh,
yakni generasi yang kuat dan tidak mudah mengeluh. Kokoh bagaikan batu karang yang tidak mudah goyah menghadapi berbagai macam rintangan. Mandiri di atas kaki sendiri, tidak
bergantung kepada yang lain.
Dalam hal mempersiapkan generasi pengganti, Allah SWT mengingatkan kita di dalam surat an-Nisa ayat (9) sebagai berikut:
َوْليَ ْخ َش الَّ ِذي َن لَ ْو تَ َر ُكوا ِم ْن َخْلِف ِهْم ذُ ِّريَّةً ِضعَافًا َخافُوا َعلَ ْي ِهْم فَْليَتَّقُوا ََّّللاَ َوْليَقُولُوا قَ ْوًال َسِديدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang
mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar.”
Berkaitan dengan mempersiapkan generasi yang tangguh, Rasulullah dalam salah satu sabdanya menerangkan tentang keutamaan dari seorang mukmin yang kuat, sebagaimana sabdanya:
َع ْن أَبِ ْي ُه َرْي َرةَ َر ِض َي هللاُ َعْنهُ قَا َل: قَا َل َر ُسْو ُل هللاِ َصلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم : اَْلـ ُمْؤ ِم ُن اْلقَـ ِو ُّي َخـْي ر َوأَ َح ُّب إِلَـى هللاِ ِم َن
ر
اْلـ ُمْؤ ِم ِن ال َّض ِعْي ِف، َوفِـ ْي ُكـ ّل َخـْيـ
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, ‘Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR Muslim)
Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat Idul Adha rahimakumullah.
Al-Qur’an merupakan panduan kehidupan bagi setiap muslim. Ia adalah satu dari dua pusaka yang ditinggalkan oleh Rasulullah untuk umatnya. Beliau menjamin siapa pun
yang berpegang teguh kepada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu al Quran dan al Hadits.
Dalam hal pendidikan keluarga, maka al Quran telah memberikan panduan yang lengkap berikut contoh-contohnya dari para nabi yang dikisahkan di dalam al Qur’an. Salah satunya adalah kisah Nabi Ibrahim AS bersama keluarganya.
Baik, marilah kita tengok bagaimana Nabi Ibrahim mempersiapkan generasi yang tangguh.
Pertama, mencari pasangan hidup yang memiliki kualitas agama.
Tahapan membentuk generasi tangguh diawali dari pencarian pasangan hidup. Dalam
psikologi disebutkan bahwa salah satu yang mempengaruhi kepribadian seorang anak adalah faktor genetika atau gen (keturunan). Itulah makanya dalam memilih pasangan hidup, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita untuk mendahulukan agama calon pasangan dibandingkan dengan kriteria lainnya.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
َي
َع ْن أَبِي ُه َرْي َرةَ َر ِض
َل
ََّّللاُ َعْنهُ، َع ْن النَّبِ ّيِ َصلَّى ََّّللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم قَا
يَ
تُْن َك ُح اْل َمْرأَةُ ِال ْربَع : ِل َماِل َها، َوِل َح َسبِ َها، َو َج َماِل َها، َوِلِدينِ َها. فَا ْظفَ ْر بِذَا ِت الِدّي ِن تَ ِربَ ْت
دَا َك
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda: Wanita itu dinikahi
karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR Bukari)
Begitu pula halnya dengan Nabi Ibrahim, beliau pun sangat memperhatikan calon pendamping bagi dirinya. Makanya dia memilih Sarah, seorang wanita yang beriman pada masanya. Sarah sendiri adalah anak dari paman Nabi Ibrahim.
Ada tiga hal yang membuat Nabi Ibrahim mencintai Sarah, yaitu, pertama, karena agamanya (saat itu hanya ada tiga orang yang beriman, yaitu Ibrahim, Luth dan Sarah).
Kedua, karena Sarah adalah kerabatnya. Ketiga, karena kecantikannya.
Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang anak yang saleh, yaitu Ishak,
meskipun kelahiran Ishak butuh waktu yang lama sebagai ujian bagi Nabi Ibrahim dan Siti Sarah.
Nabi Ibrahim juga memiliki istri yang lain, yaitu Siti Hajar, seorang wanita salehah, penyabar dan kuat. Wanita yang sangat bertawakal kepada Allah.
Dari pernikahan dengan Siti Hajar, lahirlah putra yang saleh bernama Ismail, beriman, santun dan sangat berbakti kepada ayah bundanya.
Kedua, memilih lingkungan yang mendukung pertumbuhan fisik, intelektual, psikologis dan spiritual.
Di antara alasan mengapa Nabi Ibrahim memilih Mekah sebagai tempat dia menempatkan Siti Hajar dan Ismail adalah karena Mekah merupakan sebuah tempat yang masih bersih dan suci, belum terkontaminasi oleh berbagai macam pemikiran dan kebudayaan. Dan pastinya adalah di sana belum ada praktik kemusyrikan, keadaan yang sangat berbeda dengan di Mesir, tempat tinggal asalnya, meskipun daerah ini subur dan sudah ramai dengan manusia, namun umumnya masyarakat Mesir saat itu adalah sebagai penyembah berhala.
Dengan memindahkan anak dan keturunannya dari tempat tersebut, maka dia ingin menyelamatkan mereka dari perilaku syirik, di samping karena memang Allah sendiri yang mengarahkan Nabi Ibrahim untuk menempatkan anak dan keturunannya di Mekah.
Allah SWT berfirman di dalam surat Ibrahim ayat (37):
َّص
َربَّنَا إِنِّي أَ ْس َكْن ُت ِم ْن ذُ ِّريَّتِي بِ َوا د َغْي ِر ِذي َز ْرع ِعْندَ بَ ْيتِ َك اْل ُم َح َّرِم َربَّنَا ِليُِقي ُموا ال
َالةَ فَا ْجعَ ْل أَ ْفئِدَةً ِم َن النَّا ِس تَ ْهِوي
إِلَ ْي ِهْم َوا ْر ُزْق ُهْم ِم َن الثَّ َمَرا ِت لَعَلَّ ُهْم يَ ْش ُكُرو َن
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
Melalui ayat ini, kita para orang tua hendaknya juga betul-betul memperhatikan lingkungan sebelum menentukan tempat tinggal. Pilihlah tempat tinggal yang dekat dengan masjid agar anak gemar untuk melakukan sholat, dekat dengan majelis taklim agar anak gemar menuntut ilmu agama dan dekat dengan komunitas-komunitas yang peduli kesehatan, kebersihan dan pendidikan agar anak gemar berolah raga dan belajar.
Faktor lingkungan tempat tinggal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik, intelektual, psikologis dan spiritual anak-anak kita.
Ma’asyiral muslimin jama’ah sholat Idul Adha rahimakumullah.
Ketiga, membangun suasana dialog yang demokratis.
Nabi Ibrahim adalah sosok ayah yang demokratis dalam mendidik putranya, dengan mengedepankan dialog humanis dan egaliter. Tidak mentang-mentang ia memiliki kekuatan dan kekuasaan lalu dia bersikap sewenang-wenang. Dia selalu memberikan ruang tumbuhnya dialog yang harmonis dan setara.
Hal ini, misalnya, dia lakukan ketika Allah SWT memerintahnya untuk menyembelih putra kesayangannya sebagai kurban. Lalu, dia terlebih dahulu meminta pendapat putranya, sebagaimana tercantum di dalam firman Allah SWT Surat
al-Shafat ayat (102):
قَ
فَلَ َّما بَلَ َغ َمعَهُ ال َّس ْع َي قَا َل يَا بُنَ َّي إِنِّي أَ َر ٰى فِي اْل َمنَاِم أَنِّي أَ ْذبَ ُح َك فَاْن ُظ ْر َماذَا تَ َر ٰىۚ
ا َل يَا أَبَ ِت ا ْفعَ ْل َما تُ ْؤ َمُرۖ َستَ ِجدُنِي إِ ْن َشا َء
ِ
ََّّللاُ ِم َن ال َّصاب
ِري َن
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”
Ia (Ismail) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Sikap demokratis semacam ini dapat memberikan pengaruh positif pada anak, di antaranya dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan dihargai. Ayah yang bijaksana adalah ayah yang tidak memaksakan kehendaknya pada anak-anak. Anak-anak dilibatkan dalam mengambil keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan anak. Berapa banyak kita saksikan di tengah masyarakat kita oleh karena orang tua sering memaksakan pendapatnya pada anakanaknya akibatnya anak-anak mengalami tekanan bathin yang akhirnya menjadi tidak peduli terhadap permasalahan yang dihadapi, hingga orang tua pun tidak lagi dihargai.
Keempat, membangun kebersamaan dalam aktifitas dakwah.
Sebagai kepala keluarga, Nabi Ibrahim sukses membangun amal jamai (aktifitas bersama) dengan istri dan anak-anaknya. Inilah rumah tangga dakwah, di mana setiap anggotanya terlibat dalam aktifitas dakwah. Bahkan beliau mampu mendelegasikan tugas-tugas sebagai seorang ayah kepada istrinya, Siti Hajar, tatkala dia harus memenuhi perintah Tuhannya untuk melanjutkan dakwah ke Palestina.
Dalam kurun waktu yang tidak sebentar ketiadaan sosok ayah tidak menjadikan rumah tangganya berjalan timpang, bahkan Siti Hajar sebagai wanita yang kuat dan cerdas mampu untuk mengambil peran ayah dalam rumah tangganya, sehingga Ismail tumbuh dan berkembang secara baik.
Dalam aktifitas dakwah Nabi Ibrahim tidak hanya melibatkan istri, akan tetapi juga anak-anaknya.
Ismail, misalnya, selalu dilibatkan dalam berbagai aktifitas dakwah, antara lain ikut serta dalam merenovasi Kabah.
Allah SWT berfirman di dalam Surat al-Baqarah ayat (127):
ْ
َوإِ ْذ يَ ْرفَ ُع إِ ْب َرا ِهي ُم اْلقَ َوا ِعدَ ِم َن اْلبَ ْي ِت َوإِ ْس َما ِعي ُل َربَّنَا تَقَبَّ ْل ِمنَّاۖ إِنَّ َك أَن
َت ال َّسِمي ُع اْلعَِلي ُم
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Ismail juga ikut serta membersihkan rumah ibadah, agar manusia dapat beri’tikaf di dalamnya, ruku’ dan sujud. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Surat al-Baqarah ayat (125):
“Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.”
Kelima, dahsyatnya kekuatan doa.
Nabi Ibrahim termasuk salah satu nabi yang doa-doanya banyak diabadikan di dalam al-Qur’an.
Doa merupakan senjata bagi orang beriman, begitu kutipan dari sabda Nabi Muhammad SAW.
Di dalam doa ada keyakinan, juga tawakal yang dengannya seseorang optimis akan terwujudnya keinginan, cita-cita dan harapan.
Di samping itu, manusia di dalam hidupnya pasti akan mendapati berbagai macam problem. Ada kalanya problem itu bisa diselesaikan dengan cara-cara rasional, namun tidak dapat dipungkiri ada problem yang hanya bisa diselesaikan lewat cara-cara yang irasional. Pada saat itulah manusia membutuhkan
Yang Maha Kuat, dan doa adalah salah satu cara terhubungnya seseorang kepada Yang Maha Kuat tersebut.
Di antara doa-doa Nabi Ibrahim yang berhubungan dengan kepentingan bagi anak dan keturunannya yaitu doa memohon untuk dikaruniai keturunan (QS 37: 100), doa agar keturunannya terhindar dari kemusyrikan (QS 14: 35), doa memohon agar keturunannya menjadi ahli sholat (QS 14: 41-42), doa agar dijadikan negeri tempat tinggalnya aman dan berkecukupan (QS 2: 126), dan lain sebagainya.
Tentu bagi kita, ini adalah sebuah contoh. Bagaimana tidak? Beliau (Nabi Ibrahim) seorang Nabi yang sangat dekat dengan Allah SWT,
saking dekatnya dia diberi gelar kholilullah (teman/kekasih Allah), masih memanjatkan doa-doa kepada Allah SWT.
Nah, kita yang bukan siapa-siapa mengapa tidak mau berdoa kepada Allah SWT?
Demikianlah strategi, cara dan pendekatan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dalam
mempersiapkan generasi tangguh, yang patut kita tiru agar generasi kita di masa yang akan datang memiliki mental seperti Nabi Ismail dan Ishak. Insya Allah.
Oleh: Dr H Sukron Ma’mun Yusuf MA – (Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Dai Indonesia Jakarta)




















