• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

MENGAPA KITA BUTUH DISRUPTIVE BUREAUCRAT

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
May 29, 2025
in Birokrasi, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Dalam dunia birokrasi yang kaku, lamban, dan penuh tata cara formal yang sering kali mematikan semangat perubahan, sosok disruptive bureaucrat muncul seperti badai yang membelah kesunyian. Mereka tidak datang untuk sekadar menjalankan aturan, tetapi untuk mengubahnya dari dalam. Mereka tidak menunggu sistem berubah, tetapi justru memaksa sistem menyesuaikan diri dengan kebutuhan rakyat. Di Indonesia, figur-figur seperti Dedi Mulyadi dan Tri Rismaharini telah menjadi ikon dari jenis birokrat seperti ini. Mereka menunjukkan bahwa di tengah stagnasi dan kerumitan birokrasi, perubahan radikal dari dalam bukan hanya mungkin, tetapi juga sangat dibutuhkan.

Apa Itu Disruptive Bureaucrat?

Istilah disruptive bureaucrat menggabungkan dua kutub yang tampaknya bertolak belakang: birokrasi yang identik dengan stabilitas, proseduralisme, dan hierarki; dengan disruption yang konotasinya adalah gangguan, pelanggaran norma, dan inovasi radikal. Namun, justru pada ketegangan itulah lahir kekuatan pembaruan. Disruptive bureaucrat adalah birokrat atau pejabat publik yang melakukan pembaruan radikal terhadap sistem kerja birokrasi—baik melalui pendekatan personal, reformasi struktural, maupun pemanfaatan teknologi dan komunikasi—untuk mengejar hasil nyata bagi kepentingan rakyat.

Mereka tidak puas dengan rutinitas. Mereka menolak menjadi pengikut buta aturan-aturan yang tidak lagi relevan. Mereka memotong jalur yang tidak perlu, mengintervensi langsung ke lapangan, dan sering kali berbenturan dengan norma institusional. Dalam banyak kasus, mereka juga menjadi musuh di dalam birokrasi sendiri, karena cara kerja mereka mengguncang kenyamanan para penjaga status quo.

Dedi Mulyadi: Birokrat yang Menyatu dengan Warga

Salah satu sosok yang mencerminkan semangat disruptive bureaucrat adalah Kang Dedi Mulyadi, mantan Bupati Purwakarta dan kini Gubernur Jawa Barat. Gaya kepemimpinan Dedi sering kali dianggap tidak lazim. Ia menyapa rakyatnya dengan mengenakan pakaian tradisional Sunda, memimpin ritual budaya yang dianggap remeh oleh birokrasi modern, dan lebih sering ditemui berjalan kaki menyusuri gang-gang desa ketimbang duduk di belakang meja.

Namun esensi dari pendekatan Dedi bukanlah pada simbolisme, melainkan cara ia menyatukan diri dengan warga. Ia pernah berkata, “Saya tidak ingin menjadi pemimpin yang berbicara di podium, saya ingin menjadi bagian dari warga yang merasakan penderitaan mereka.” Ucapan ini bukan basa-basi. Dalam banyak kesempatan, ia turun langsung membantu warga yang rumahnya roboh, mengantar anak-anak ke sekolah, bahkan memediasi persoalan rumah tangga warga tanpa birokrasi panjang.

Dedi Mulyadi menunjukkan bahwa birokrasi tidak harus berjarak. Ia mendobrak pemisahan antara struktur formal negara dan kehidupan nyata rakyat. Dalam sistem yang kerap melayani dokumen lebih daripada manusia, pendekatan seperti ini adalah bentuk disrupsi yang menantang.

Tri Rismaharini: Emosi, Aksi, dan Transformasi

Contoh lain datang dari Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya dua periode yang kemudian menjadi Menteri Sosial. Risma dikenal luas karena gaya komunikasinya yang blak-blakan, emosional, bahkan dianggap temperamental. Namun di balik ekspresinya yang penuh gejolak, ada semangat disruptive bureaucrat yang kuat: keinginan untuk mengubah birokrasi dari struktur yang pasif menjadi mesin pelayanan yang responsif dan efektif.

Risma pernah mengamuk saat mendapati ada anak-anak jalanan yang terlantar di ibukota. Ia tidak memanggil rapat dulu, tidak menyusun kajian teknokratik dulu, tapi langsung membawa anak-anak itu ke tempat perlindungan, menghubungi dinas-dinas terkait, dan membuat sistem layanan sosial terpadu yang lebih manusiawi. Ia berkata, “Saya tidak mau anak-anak itu jadi korban. Kalau negara tidak hadir, apa gunanya kita ini pejabat?”

Langkah-langkah Risma selama di Surabaya juga sarat dengan inovasi: dari membangun taman kota yang inklusif, membenahi pendidikan, sampai menata sistem perizinan usaha. Ia tidak menunggu perubahan dari pusat. Ia mengubah dari daerah, dan keberhasilannya membuat banyak kota lain meniru.

Mengapa Indonesia Membutuhkan Disruptive Bureaucrat

Indonesia adalah negara dengan birokrasi besar, tetapi dengan tantangan pembangunan yang tak kunjung terselesaikan: kemiskinan struktural, kesenjangan sosial, tata kelola publik yang buruk, dan korupsi. Dalam situasi seperti ini, model birokrasi yang hanya melestarikan status quo justru memperpanjang penderitaan rakyat.

Sementara itu, pendekatan disruptive menjadi jalan keluar untuk membongkar sumbatan-sumbatan sistemik yang sudah mengakar. Kita butuh pejabat yang tidak takut dimusuhi kolega karena menolak kompromi yang membusuk. Kita butuh birokrat yang berani melangkah sebelum regulasi turun, selama hal itu demi kepentingan rakyat. Kita butuh figur yang membalikkan logika birokrasi dari “mengikuti prosedur dulu, baru melayani” menjadi “melayani dulu, sambil memperbaiki prosedur.”

Dalam pendekatan ini, disruption bukan berarti anarki, tetapi keberanian moral dan politik untuk mempercepat keadilan sosial. Ia adalah bentuk loyalitas tertinggi kepada rakyat, meski kadang harus melanggar kenyamanan institusional.

Tantangan dan Bahaya Disruptive Bureaucrat

Namun, disruptive bureaucrat bukan tanpa risiko. Ketika semangat pembaruan tidak diimbangi dengan akuntabilitas dan sistem nilai yang kuat, disrupsi dapat berubah menjadi pembenaran bagi otoritarianisme. Ketika figur kuat merasa dirinya satu-satunya agen perubahan, maka ia bisa melampaui batas etis dan hukum demi hasil yang ia anggap “baik”. Di sinilah letak bahaya terbesarnya: perubahan tanpa kontrol.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo dapat menjadi contoh nyata bagaimana semangat disruption bisa menjelma menjadi masalah baru. Jokowi sendiri sering digambarkan sebagai figur rakyat biasa yang memotong jalur birokrasi. Ia merintis banyak proyek infrastruktur, menyederhanakan perizinan, dan mengedepankan akselerasi pembangunan.

Namun dalam prosesnya, justru terjadi pelemahan terhadap lembaga-lembaga pengawasan seperti KPK, pengabaian terhadap partisipasi publik dalam UU Cipta Kerja, dan penggunaan aparatur negara untuk konsolidasi politik. Percepatan pembangunan dijadikan pembenaran untuk melangkahi mekanisme demokrasi. Disrupsi yang tidak dibarengi dengan pembatasan kekuasaan justru menjadi ilusi pembaruan.

Kita menyaksikan bagaimana retorika disruptive digunakan untuk menggilas oposisi, menyederhanakan proses legislasi secara tergesa-gesa, dan membentuk koalisi politik yang terlalu besar untuk dikritik. Apa yang semula merupakan niat baik—membangun lebih cepat, melayani lebih langsung—telah menjelma menjadi struktur kekuasaan yang sulit dikoreksi.

Penutup: Disrupsi yang Berakar pada Etika

Maka, kebutuhan Indonesia terhadap disruptive bureaucrat bukan sekadar pada gaya atau keberanian mereka, tetapi pada nilai yang mereka junjung. Dedi Mulyadi dan Risma menunjukkan bahwa disrupsi birokrasi bisa tetap manusiawi, empatik, dan bersandar pada keadilan sosial. Disrupsi bukan untuk pencitraan, bukan pula untuk menumpuk kekuasaan, tetapi untuk membalikkan struktur yang tidak adil.

Disrupsi sejati adalah yang memecah kebekuan demi rakyat, bukan demi penguasa. Kita butuh lebih banyak birokrat yang berani keluar dari barisan jika barisan itu mengarah pada ketimpangan. Tapi mereka juga harus punya kompas moral yang jelas: bahwa semua perubahan, sekacau apapun, harus berpihak pada keadilan.

Kalau tidak, kita hanya berpindah dari birokrasi yang lamban ke otoritarianisme yang cepat tapi sewenang-wenang. Dan itu bukan kemajuan, melainkan regresi yang dibungkus modernitas. Indonesia butuh disruptive bureaucrat yang etis, bukan sekadar efektif.===

Bekasi, 28 Mei 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Barcode untuk Ijazah: Mencegah Skandal, Menjaga Martabat

Next Post

Pesawat Pengangkut Jamaah Haji di Yaman Dibom Israel

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?
Feature

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua
Feature

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan
Birokrasi

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Next Post
Pesawat Pengangkut Jamaah Haji di Yaman Dibom Israel

Pesawat Pengangkut Jamaah Haji di Yaman Dibom Israel

Laporan PDIP Terhadap Budi Arie: Manuver Politik yang Patut Diapresiasi oleh Pemerhati Penegakan Hukum

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Birokrasi

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

by Karyudi Sutajah Putra
June 12, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.--Pengadilan Militer II-08 Jakarta akhirnya menjatuhkan vonis terhadap empat personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah terbukti melakukan penyiraman...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Per 1 September 2023 Pertamina Naikkan Semua Harga BBM Non Subsidi

Kenaikan BBM dan Momentum Kerakusan

June 12, 2026

REVOLUSI KEDUA DAN UJIAN MORAL PARA VETERAN

June 12, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...