• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Mengapa Parpol-Parpol Diam Seribu Bahasa: Ijazah Palsu Jokowi dan Gibran

fusilat by fusilat
September 26, 2025
in Birokrasi, Crime, Feature
0
Mengapa Parpol-Parpol Diam Seribu Bahasa: Ijazah Palsu Jokowi dan Gibran
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Di negeri ini, hukum sering berjalan seperti boneka tanpa benang penggerak: terlihat bergerak, tapi sesungguhnya dikendalikan oleh kekuatan yang tak kasat mata. Ketika masalah ijazah palsu Jokowi muncul, DPR dan partai politik—yang seharusnya menegakkan hukum—memilih diam seribu bahasa. Seakan seluruh sistem mendadak tuli dan bisu.

Kini sejarah seakan mengulang diri. Isu serupa menyentuh anaknya, Gibran, dan diam tetap menjadi jawaban. Tidak ada yang berani berbicara. Tidak ada yang menggerakkan tangan untuk menekan tombol hukum. Di sinilah kita bisa membaca satu pola: politik di negeri ini bukan soal rakyat, melainkan soal bertahan hidup, melindungi diri sendiri, dan menjaga keluarga. Kekuasaan dan silsilah keluarga telah menjadi satu paket yang tak terpisahkan.

Maka wajar bila Jokowi kemudian dengan enteng menyatakan dukungan “Prabowo–Gibran dua periode.” Kalimat sederhana itu menyimpan logika yang brutal tapi jujur: anaknya akan menjadi benteng terakhir. Anak bukan sekadar pewaris politik, tapi pelindung hukum, perisai dari setiap ancaman yang mungkin mengarah pada ayahnya. Di negeri lain, seorang presiden mungkin mengandalkan penasihat atau sistem hukum; di sini, anak adalah hukum.

Di balik semua ini, bayangan persengkongkolan jahat tetap terlihat jelas bagi mereka yang mau membaca. Fakta yang seharusnya menjadi temuan publik lenyap begitu saja, seperti tinta yang dihapus dari dokumen resmi. Kebenaran yang seharusnya ditegakkan dibungkam dengan cara halus, tapi efektif—layaknya operasi senyap dalam dunia spionase. Kekuasaan, diam, dan keluarga membentuk segitiga saling melindungi, tanpa memperhatikan rakyat.

Jika kita menoleh ke dunia internasional, pola ini tidak asing. Di Amerika Serikat atau Eropa, isu moral dan legal seorang politisi akan menimbulkan badai media, pemeriksaan resmi, dan tekanan publik yang nyata. Di sini? Diam adalah senjata. Diam adalah hukum. Diam adalah kekuasaan itu sendiri. Rakyat bertanya, institusi hukum bungkam, dan anak menjadi perisai.

Lebih ironis lagi, diam seribu bahasa ini menandakan adanya kesepakatan tak resmi: persengkongkolan yang licik, jaringan kepentingan yang saling menutupi, semua demi menjaga citra, melindungi diri, dan memastikan kekuasaan tetap berada di tangan yang “benar” menurut mereka sendiri. Kekuasaan diwariskan bukan karena meritokrasi, tetapi karena sistem telah diset untuk melindungi keluarga. Anak menjadi alat, dan diam menjadi bahasa yang paling fasih dikuasai.

Negeri ini mengajarkan satu pelajaran pahit: ketika hukum, politik, dan keluarga menjadi satu paket, keadilan hanyalah bayangan. Anak bukan sekadar pewaris politik, tetapi perisai terakhir. Diam bukan sekadar sikap, tapi strategi. Ia lebih tajam dari pedang, lebih kokoh dari tembok, dan lebih mematikan daripada kritik yang tak terdengar.

Rakyat boleh menyaksikan, bertanya, dan menduga. Tapi kekuasaan tetap berjalan, anak tetap menjadi benteng, dan hukum tetap tergantung di udara—lihat tapi tak bisa menahan. Inilah politik di negeri ini: diam seribu bahasa bukan tanda ketidakmampuan, tetapi tanda kecerdikan jahat, bahasa yang paling fasih dikuasai mereka, bahasa yang menegaskan siapa yang benar-benar berkuasa.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Waspada Rekening Dormant: Dari 17 Menit hingga Rp 204 Miliar Raib

Next Post

Reformasi Pembahasan Anggaran: Suatu Keniscayaan

fusilat

fusilat

Related Posts

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang
Feature

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum
Crime

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus
Birokrasi

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Next Post

Reformasi Pembahasan Anggaran: Suatu Keniscayaan

PELAJARAN SEJARAH SOEHARTO DALAM SIKLUS WINDU: DARI SANCAYA KE ADI

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist