Kemarin, guru saya, seorang wartawan senior dari generasi yang pernah hidup di masa ketika idealisme masih diyakini dan dijunjung tinggi, membawa sesuatu yang aromanya tak lekang oleh waktu. Majalah Tempo, edisi 25 Mei–1 Juni 2025. Ia membukanya perlahan, seperti membuka kitab kenangan. Di halaman 62, kami berhenti. Di sana wajah Karlina Supelli menyapa, tak banyak berubah: mata yang bening, rambut perak yang mengalir, dan suara yang — dalam ingatan saya — selalu lebih mirip bisikan langit daripada seruan tanah.
Saya senang. Karena Karlina bukan hanya seorang tokoh, tetapi semacam lanskap: ada cakrawala di balik kata-katanya, ada musim gugur dalam diamnya, dan ada badai dalam lembutnya. Sudah lama saya mengikuti potongan-potongan videonya, dari seminar, wawancara, hingga diskusi terbuka. Tetapi dari Kang Tjetje — yang lebih tahu sisi manusiawi para manusia besar — saya mendengar sesuatu yang lebih hangat, lebih retak, lebih nyata.
Katanya, Karlina punya cara berjalan yang seperti tidak ingin menginjak bumi. Dan memang barangkali itu benar, karena ia bukan hanya berjalan di bumi, tetapi juga pernah menjelajah langit — secara literal. Ia seorang astronom. Tetapi langit yang ia bidik bukan hanya gugusan bintang, melainkan juga ruang batin manusia. Itulah mengapa ia juga menjadi filsuf.
Saya jadi ingat satu kalimatnya yang terpatri dalam kepala saya, “Jangan pernah menjadikan manusia sebagai alat.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, hampir klise, tetapi dari mulut Karlina Supelli, ia menjadi seperti mantera. Karena ia ucapkan bukan dari podium kekuasaan, melainkan dari kaki bukit penderitaan, tempat ia berdiri bersama mereka yang ditindas, mereka yang disingkirkan.
Dan di situlah Karlina menjadi berbeda. Ia tak pernah nyaman di kursi empuk intelektual. Ia memilih berjalan, atau duduk bersila, bersama korban kekerasan seksual, para ibu yang kehilangan anak karena peluru negara, atau orang Papua yang hilang dalam kabut kekuasaan. Ia menyelipkan filsafat dalam pelipis luka.
Di satu video, ia menjawab pertanyaan mahasiswa yang bertanya, “Mengapa kita harus peduli pada mereka yang jauh dari kita?” Karlina menjawab pelan, “Karena rasa sakit tak punya peta.” Jawaban yang tak hanya bijak, tapi juga indah. Ia menunjukkan bahwa etika bukan soal hukum, tetapi soal nurani.
Majalah Tempo itu ditutup kembali oleh Kang Tjetje. Ia bercerita bahwa Karlina pernah menjadi semacam rem spiritual di tengah gaduhnya reformasi. Ia tidak pernah keras, tapi selalu jelas. Ia tak pernah kasar, tapi selalu menyentuh.
Saya kemudian berpikir: barangkali Karlina Supelli bukan hanya seorang perempuan, filsuf, atau ilmuwan. Ia adalah sejenis kesunyian yang menolak tunduk. Ia bukan orator, tetapi nyala api kecil yang cukup untuk menerangi jalan gelap. Dan karena nyalanya tak membakar, ia jarang disadari. Tetapi mereka yang paham cahaya akan selalu mencarinya.
Karlina mengajarkan bahwa menjadi manusia bukan sekadar hidup, tetapi menghidupi. Dan dalam dunia yang makin bising ini, suara pelan seperti miliknya adalah yang justru paling kita butuhkan.
Karena, seperti langit malam yang sunyi, ia menyembunyikan bintang-bintang.
Catatan:
Berikut pokok-pokok penting pemikiran Karlina Supelli:
- Humanisme dan Martabat Manusia
Ia menekankan bahwa manusia harus dihormati sebagai tujuan, bukan alat. Pemikiran ini dipengaruhi oleh etika Kantian dan eksistensialisme. - Kritik terhadap Kekuasaan Otoriter
Karlina lantang mengkritik kekuasaan yang menindas, termasuk negara yang menggunakan rakyat sebagai alat mobilisasi politik. - Kesadaran Kritis dan Etika Publik
Ia mendorong masyarakat untuk berpikir kritis dan menuntut tanggung jawab moral dari para pemimpin, bukan sekadar kepatuhan hukum. - Pembelaan terhadap Kaum Perempuan
Sebagai feminis, ia membela hak perempuan dari kekerasan dan diskriminasi, dengan pendekatan yang filosofis dan inklusif. - Filsafat sebagai Sarana Pembebasan
Bagi Karlina, filsafat adalah jalan untuk merdeka dari dogma dan dominasi. Ia menekankan perlunya pendidikan filsafat bagi publik. - Perlawanan terhadap Kekerasan dan Ketidakadilan
Ia vokal menentang kekerasan negara dan memperjuangkan hak korban di berbagai konflik sosial-politik, dari Timor Leste hingga Papua. - Kebebasan Berpikir dan Otonomi Intelektual
Karlina menolak intelektual yang tunduk pada kuasa dan selalu mendorong pemikiran reflektif yang tidak tunduk pada pragmatisme. - Solidaritas dan Kepedulian Sosial
Etika baginya berakar pada kepedulian. Ia percaya bahwa penderitaan siapa pun, di mana pun, adalah urusan kita semua.


























