• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Bila Akal Sehat Bicara: Gibran Layak Dimakzulkan

Ali Syarief by Ali Syarief
July 3, 2025
in Birokrasi, Feature, Tokoh
0
Jokowi Ajarkan Moral Kemunafikan Kepada Gibran? – Learning By Doing

Dua-duanya bermasalah dengan soal pendidikan

Share on FacebookShare on Twitter

Akal sehat memang tidak berisik. Ia tidak memaki-maki di jalanan, tidak mencaci di media sosial, dan tak mengibarkan spanduk. Tapi akal sehat adalah suara paling jernih dari nurani publik. Ia tahu kapan harus bersuara. Dan hari ini, ia berkata: “Gibran layak dimakzulkan.”

Pernyataan itu mungkin terdengar keras. Tapi tidak emosional. Justru ia lahir dari pengamatan yang tenang atas serangkaian peristiwa politik yang secara terang-benderang melanggar etika, hukum, dan akal sehat publik.

Kita ingat betul bagaimana jalan menuju kursi wakil presiden itu dibuka dengan membelokkan konstitusi. Bukan oleh kekuatan rakyat, tapi oleh kekuatan keluarga. Mahkamah Konstitusi mengubah syarat usia calon presiden dan wakil presiden bukan karena kebutuhan bangsa, tapi demi satu orang yang kebetulan keponakan Presiden. Di saat itulah demokrasi Indonesia kehilangan salah satu prinsip utamanya: fairness.

Akal sehat mana yang bisa menerima bahwa seorang kepala negara membiarkan iparnya, yang juga Ketua Mahkamah Konstitusi, memutus perkara yang langsung menguntungkan keponakannya? Akal sehat mana yang percaya bahwa ini sekadar kebetulan politik?

Gibran tidak salah sendirian. Tapi ia adalah hasil dari kesalahan yang disengaja. Ia bukan aktor utama, namun ia menikmati panggung yang dibangun dari pelanggaran norma. Dan ketika seseorang menerima kekuasaan dari proses yang cacat, maka yang layak dipertanyakan bukan hanya niatnya, tapi juga legitimasinya.

Sebagian orang membela dengan mengatakan: “Toh rakyat memilih.” Tapi rakyat memilih dalam sistem yang sudah dimanipulasi sejak hulu. Ketika hukum dibengkokkan, moral dibungkam, dan logika dikaburkan, maka pemilu bukan lagi ajang memilih, melainkan ajang mengukuhkan hasil rekayasa.

Bagaimana dengan kompetensinya? Gibran adalah sosok muda yang, sayangnya, belum menunjukkan kedalaman gagasan. Ia berbicara dalam potongan-potongan jargon, tak menawarkan arah kebijakan yang visioner. Ia adalah wakil presiden dalam bayangan kekuasaan, bukan dalam terang kepemimpinan.

Pemakzulan bukan sekadar soal pelanggaran hukum berat. Ia bisa diajukan bila seorang pejabat negara kehilangan legitimasi moral dan konstitusional. Dalam konteks ini, Gibran adalah simbol dari krisis integritas sistem. Dan sistem yang krisis tak akan pulih tanpa koreksi.

Seorang negarawan besar pernah mengatakan: “Negara yang tak mampu menjaga moralitas konstitusinya, akan pelan-pelan kehilangan kepercayaan warganya.” Maka pertanyaannya: seberapa jauh kita akan membiarkan rasa percaya itu runtuh, demi membela satu nama?

Bila akal sehat benar-benar kita dengar, maka pemakzulan bukan sekadar masuk akal—ia adalah kewajiban moral. Bukan karena kita benci pada Gibran sebagai pribadi, melainkan karena kita cinta pada republik ini. Dan cinta, kadang-kadang, harus berani menolak sesuatu yang tampaknya sah, tapi lahir dari proses yang batil.

Penutup:
Kita boleh memaafkan kekeliruan individu. Tapi membiarkan kebusukan sistemik adalah bentuk pengkhianatan terhadap masa depan. Bila akal sehat masih punya tempat di negeri ini, maka suara itu sudah sangat jelas: “Makzulkan Gibran. Demi logika. Demi konstitusi. Demi akal sehat itu sendiri.”

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

“Pedang Samurai” yang Hilang: Siapa Penjaga Gagalnya Diversifikasi Pangan?

Next Post

Mengenal Karlina Supelli: Perempuan yang Memeluk Langit, Menyentuh Nurani

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Bolehkah Berkurban dengan Sayur-Mayur?
Feature

Sapi Kurban dari APBN: Sebuah Paradoks?

May 30, 2026
Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?
Feature

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026
Feature

Masukkan Aku dalam Kebenaran, dan Keluarkan Aku dalam Kebenaran”

May 30, 2026
Next Post
Mengenal Karlina Supelli: Perempuan yang Memeluk Langit, Menyentuh Nurani

Mengenal Karlina Supelli: Perempuan yang Memeluk Langit, Menyentuh Nurani

Seni Mencari Ijazah Jokowi Yang Asli

Liburan atau Lari dari Gelar Perkara? Jokowi, Sampai Kapan Menghindar?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bolehkah Berkurban dengan Sayur-Mayur?

Sapi Kurban dari APBN: Sebuah Paradoks?

May 30, 2026
Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026

Masukkan Aku dalam Kebenaran, dan Keluarkan Aku dalam Kebenaran”

May 30, 2026
Gelombang Senyap Pemurtadan atau Sekadar Mitos? Membaca Data Eks-Muslim Dunia Tanpa Propaganda

Gelombang Senyap Pemurtadan atau Sekadar Mitos? Membaca Data Eks-Muslim Dunia Tanpa Propaganda

May 30, 2026

Jembatan Akselerasi Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja (Program Sertifikasi dan Standardisasi Kapasitas SDM)

May 30, 2026

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (3)

May 30, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bolehkah Berkurban dengan Sayur-Mayur?

Sapi Kurban dari APBN: Sebuah Paradoks?

May 30, 2026
Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...