Oleh : Ari Dharma
Acap kali kawan-kawan juru warta mengejutkan saya dengan pemilihan diksi dalam judul berita
mereka. Geram, kesal bahkan marah menjadi diksi pilihan mereka dalam menyarikan pernyataan
sikap atau pidato Presiden terkait penyimpangan yang terjadi di negeri ini.
Sekalipun dalam badan berita saya tak menemukan pernyataan eksplisit beliau mengenai
kegeraman, kekesalan maupun kemarahan tersebut, tak sedikit pun terbersit dalam pikiran bahwa
saya telah menjadi korban dari clickbait mereka.
Ketiadaan pernyataan eksplisit beliau dalam tubuh berita tak serta merta mendorong saya untuk
menuding judul berita sebagai upaya para juru warta untuk menanamkan citra negatif Presiden
sebagai sosok penggeram, pengesal ataupun Pemarah di benak saya.
Dengan penuh kesadaran dan seobjektif-objektifnya, saya menafsirkan penggunaan diksi geram,
kesal serta-marah dalam judul berita mereka sebagai majas hiperbola, upaya untuk memperkuat
kesan tidak setuju Presiden terhadap penyimpangan yang terjadi.
Dan tentu saja untuk memikat saya serta pembaca lainnya agar tertarik membaca tulisan dalam
tubuh berita mereka.
Namun dua hari lalu judul berita di beberapa media mengejutkan saya, bukan karena pemilihan diksi
para juru warta tapi karena pemilihan diksi Presiden dalam potongan pernyataan beliau sebagai
kutipan dalam judul berita.
“Biar Anjing Menggonggong Kita Maju Terus”, demikianlah pernyataan Presiden dalam menanggapi
usaha-usaha entah dari mana untuk menurunkan semangat dan masa depan serta harapan dari
anak-anak muda negeri dalam meraih masa depan cerah dan gemilang melalui rencana
pembangunan pemerintah.
Dalam pernyataan tersebut beliau menggunakan frasa dari potongan peribahasa “Anjing
menggonggong kafilah berlalu”, peribahasa kaya dengan majas metafora serta simile dengan tafsir
makna; fokus pada tujuan dan terus maju tanpa terpengaruh oleh kritik, gangguan maupun
komentar negatif dari orang lain.
Karena beliau melontarkan pernyataan tersebut bersamaan dengan BEM SI melakukan aksi unjuk
rasa serentak dalam menolak RUU TNI, secara kontekstual saya menilai ada keterkaitan antara
pernyataan beliau dengan aksi BEM SI tersebut.
Penilaian tersebut menggiring saya untuk menafsirkan frasa “Biar Anjing Menggonggong Kita Maju
Terus” sebagai ungkapan sikap abai Presiden terhadap pernyataan sikap mahasiswa dengan
berunjuk rasa menolak RUU TNI. Serta pernyataan sudut sudut pandang beliau dalam menempatkan
unjuk rasa mahasiswa sebagai kritik, gangguan atau komentar negatif.
Penafsiran yang mengejutkan, karena hanya beberapa bulan menjelang ulang tahun ke dua puluh
delapan reformasi, pemimpin pilihan bangsa Indonesia bukan saja gagal dalam memahami
kedudukan pemuda dan mahasiswa sebagai pejuang dan pengawal kemerdekaan serta demokrasi
tapi juga gagal memahami makna demokrasi itu sendiri.
Sejarah mengukir peran para pemuda dalam mendorong proklamasi kemerdekaan dengan menculik
Soekarno dan Hatta sehingga berujung pada proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus
1945,
Sejarah mencatat peran mahasiswa angkatan 66 dalam memperjuangkan tuntutan rakyat dalam
bentuk Tri Tuntutan Rakyat di mana perjuangan tersebut menjungkalkan Sukarno dari
kedudukannya sebagai Presiden Seumur Hidup.
Sejarah menulis peran mahasiswa angkatan 98 dalam memperjuangkan tuntutan rakyat dalam
bentuk enam tuntutan reformasi dengan hasil digulingkannya Suharto setelah tujuh periode
menjabat sebagai Presiden serta bergulirnya reformasi di negeri ini.
Sebagai angkatan penikmat hasil perjuangan serta pengorbanan para pemuda dan mahasiswa
angkatan 45, 66 dan 98, tentu saja saya berharap agar muncul angkatan baru untuk
memperjuangkan serta mengawal agar demokrasi negeri ini kembali sesuai dengan cita-cita
reformasi.
Oleh karenanya, dengan menggunakan majas metafora dan simile agar serupa dengan Presiden,
izinkan saya untuk berpesan kepada para pemuda, mahasiswa, penggiat demokrasi di dunia nyata
maupun dunia maya, “Menggonggonglah Agar Kalifah Tak Merusak Demokrasi Negeri Ini!!”.






















