Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Jakarta – Mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur? Telur berasal dari ayam. Ayam berasal dari telur. Apa yang lebih dulu disebut, itulah yang lebih dulu ada.
Setelah berabad-abad pertanyaan itu menggantung, akhirnya secara ilmiah terjawab sudah bahwa secara evolusi, program genetik untuk membentuk telur telah ada jauh sebelum keberadaan ayam.
Jadi, untuk saat ini, jawabannya adalah telur telah lebih dulu ada sebelum ayam.
Kini, teka-teki serupa dilontarkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy.
Menurut dia, pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih mendesak dibandingkan dengan memberikan lapangan pekerjaan. Artinya, makan lebih penting daripada kerja.
Pasalnya, kata dia, pemberian pekerjaan tak akan mampu mengatasi masalah kekurangan gizi secara cepat.
Berdasarkan data yang dia miliki, terdapat 180 juta orang Indonesia gizinya tak terpenuhi. Kekurangan gizi itulah, kata dia, yang menyebabkan adanya kondisi tertentu kepada manusia, termasuk hingga menyebabkan kematian.
Tegasnya, ada 180 juta orang Indonesia yang angka kecukupan gizinya tidak terpenuhi. Sebanyak 50 ribu bayi lahir cacat, 1 juta orang terpapar tubercolosis (TBC), 100 ribu orang setiap tahun meninggal dunia karena TBC, dan itu semua katanya karena kurang gizi.
Pendek kata, makan lebih penting daripada pekerjaan. Tanpa makan, karena gizinya buruk, maka manusia tak bisa bekerja.
Namun, ada yang berpendapat sebaliknya. Tanpa bekerja, maka tak bisa makan. MBG hanya sekali habis. Sebaliknya kerja. Dengan bekerja maka akan bisa membeli atau menghasilkan makanan.
Akhirnya, yang terjadi adalah semacam perdebatan ihwal telur dan ayam mana yang lebih dulu ada. Tanpa makan, manusia tak bisa bekerja karena tubuhnya lemas akibat gizi buruk. Tanpa bekerja, manusia tak akan bisa makan secara kontinyu, karena makan bergizi gratis hanya habis sekali makan.
Ibarat telur langsung dimakan, tidak akan menetaskan ayam yang akan menghasilkan telur. Dapat telur langsung dimakan, dapat telur langsung dimakan, lama-lama habis dan tidak akan menetaskan ayam yang akan menghasilkan telur.
Kelak mungkin akan ada penelitian yang membuktikan mana yang harus lebih dulu ada: makanan atau pekerjaan.
Tapi baiklah. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang kerap disebut sebagai Rezim Omon-omon karena hanya pandai membual, boleh mengklaim makan lebih penting daripada kerja.
Tapi faktanya, dengan anggaran yang hanya sekitar 8-10 ribu rupiah per porsi, lalu makanan bergizi semacam apa yang bisa tersedia?
Menu MBG yang disediakan di berbagai sekolah ternyata banyak yang tidak memenuhi syarat kandungan gizi minimal. Bahkan tak sedikit anak-anak yang tak berselera dengan menu MBG. Akhinya banyak makanan yang tidak dimakan dan dibuang percuma alias mubazir.
Omon-omon Efisiensi Anggaran
Anggaran program MBG yang tahun ini mencapai 71 triliun rupiah, dan sekitar 450 triliun rupiah dalam lima tahun, berdampak buruk pada anggaran negara. Gegara ada program MBG, pemerintahan Prabowo melakukan efisiensi anggaran hingga lebih dari 300 triliun rupiah tahun ini. Namun efisiensi anggaran tersebut juga sekadar omon-omon belaka karena faktanya pemerintah tetap boros.
Salah satu dampak dari efisiensi anggaran adalah banyaknya pegawai pemerintah yang terkena pemutusan hubungan kerja.
Banyak pula perusahaan swasta yang terkena pemutusan kontrak dengan pemerintah yang berakibat pada maraknya PHK pekerja swasta.
Lama-lama mereka tak bisa makan karena tak bekerja. Anak-anak mereka hanya dapat makan gratis dua kali dalam seminggu di sekolah. Hari-hari lain, anak-anak itu mau makan apa kalau orang tuanya terkena PHK?
Belum lagi korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah wanti-wanti akan tingginya potensi korupsi dalam program MBG. Bahkan KPK sudah mengantongi sejumlah temuan terkait dugaan korupsi dalam program MBG itu.
Kalau sudah begini, apakah MBG tetap lebih penting dari lapangan kerja? Mungkin demikian logika mereka.






















