Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media
JAKARTA – “Kita tidak ingin ada pertumpahan darah atau kerusuhan sebagai akibat dari upaya (jemput paksa) yang kita lakukan,” kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata, Senin 19 September 2022.
Upaya jemput paksa dimaksud adalah terhadap Gubernur Papua Lukas Enembe yang sejak 5 September lalu ditetapkan KPK sebagai tersangka gratifikasi Rp1 miliar. Versi KPK, gratifikasi Rp1 miliar itu sekadar “entry point” (titik masuk) dari dugaan korupsi yang lebih besar.
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) kemudian membeberkan data dugaan aliran dana dari Lukas Enembe ke kasino judi di Singapura senilai Rp560 miliar. Nah, lho!
Dugaan tersebut diperkuat data dan foto dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) tentang perjalanan dan aktivitas Lukas Enembe di kasino judi di Singapura, Malaysia dan Filipina. MAKI sekaligus membeberkan rute perjalanan Enembe dengan pesawat jet pribadi sewaannya ke tiga negara itu, bahkan sampai ke Australia.
Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud Md tak mau kalah. Ia pun buru-buru membeberkan data. Selama 21 tahun sejak 2001 hingga 2022 ini, anggaran negara dari pemerintah pusat yang mengalir ke Papua sudah mencapai Rp1.000,7 triliun. Hal ini pun dibenarkan Kementerian Keuangan.
Nah, dari Rp1.000,7 triliun itu yang diterima Pemerintah Provinsi Papua selama Lukas Enembe menjabat gubernur sejak 2013 adalah setengahnya lebih atau lebih dari Rp500 triliun. Celakanya, sebagian dari dana itu, kata Mahfud, diduga dikorupsi.
Ironisnya, saat Lukas Enembe hendak ditangkap KPK, banyak warga masyarakat setempat yang melindunginya dengan menjadi perisai hidup di rumah politikus Partai Demokrat itu di Koya, Muara Tami, Kota Jayapura. Massa melengkapi diri dengan berbagai senjata tradisional Papua, termasuk tombak dan panah.
Mengapa Lukas Enembe tidak mau diperiksa KPK? Stefanus Roy Rening, sang pengacara Gubernur Papua itu, berdalih kliennya sedang sakit: stroke!
Sakit memang menjadi dalih mujarab semua tersangka yang hendak diperiksa aparat penegak hukum. Tak terkecuali Lukas Enembe. Entah dia benar-benar sakit atau tidak, yang jelas kalau orang sedang sakit, maka dia tidak boleh diperiksa penegak hukum.
KPK sudah memanggil Lukas Enembe sebanyak dua kali untuk diperiksa sebagai tersangka, yakni pada 12 dan 26 September 2022. Tapi Enembe bergeming.
Tak kurang-kurang, Presiden Jokowi pun ikut mengimbau agar Lukas Enembe taat hukum, mau diperiksa KPK, sesuai prinsip “equality before the law” (kesetaraan di muka hukum). Tapi apa daya, Enembe tetap bergeming.
Akhirnya yang terjadi antara KPK dan pengacara Enembe adalah “berbalas pantun”. Pengacara minta KPK mengizinkan Enembe berobat keluar negeri. KPK pun membalasnya. KPK akan mengizinkan, tapi Enembe harus datang ke KPK dulu untuk diperiksa. Jika setelah diperiksa ternyata Enembe perlu berobat keluar negeri, maka KPK akan mengizinkannya.
KPK dan Mahfud Md bahkan sempat mengiming-imingi Lukas Enembe bahwa kasusnya akan dihentikan asal Gubernur Papua itu bisa membuktikan tidak korupsi. Pembuktian terbalik, namanya.
Tapi Enembe tak mau. Pengacaranya bahkan menantang KPK datang ke Papua untuk sekaligus melihat tambang emas milik Enembe di Mamit dan Tolikara demi membuktikan bahwa harta kekayaan yang dimiliki Enembe adalah wajar, bukan hasil korupsi.
Akankah kemudian KPK tak berdaya menghadapi Lukas Enembe yang terbukti “sakti”?
Bagaimana dia tidak sakti, persuasi dari KPK, Mahfud Md bahkan Presiden Jokowi pun tidak mempan menembus benteng pertahanannya. Saat mau dijemput paksa, Lukas Enembe dilindungi rakyatnya.
Lukas Enembe bertambah sakti manakala Partai Demokrat menolak memecatnya. Apakah Demokrat mendapat keuntungan dari kadernya itu?
Kisah Robin Hood
Apa yang terjadi dengan Lukas Enembe mengingatkan kita akan film “Robin Hood” yang tayang perdana di Inggris pada 12 Mei 2010.
Robin Hood adalah legenda dalam cerita rakyat Inggris. Ia adalah seorang bangsawan yang menjadi musuh Sheriff of Nottingham. Ia melawan pejabat yang korup untuk kepentingan rakyat. Ia memimpin 140 orang yang disebut “Merry Men”.
Robin Hood kerap merampas harta orang-orang kaya dan membagikannya ke orang-orang miskin.
Robin Hood adalah seorang tentara Salib yang memiliki keahlian memanah. Usai berperang dan kembali ke rumahnya, tanah miliknya ternyata telah dirampas oleh Sheriff of Nottingham. Peristiwa yang menimpanya ini membuat kehidupan Robin berubah. Ia menyadari banyaknya pejabat yang korup di Inggris. Lalu ia melakukan perlawanan. Namun Robin Hood sulit ditangkap karena ia dilindungi oleh para pengikutnya.
Apakah Lukas Enembe adalah Robin Hood van Papua? Mungkin iya. Tapi cuma bagi sebagian kecil rakyat Papua yang mendapat keuntungan darinya. Selebihnya tentu tidak. Sebab, faktanya Papua adalah provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Papua mencapai 26,56 persen pada Maret 2022. Angka ini merupakan yang tertinggi secara nasional.
Sebab itu, seharusnya muncul Robin Hood-Robin Hood lain di Papua yang justru merampas harta Lukas Enembe untuk dibagikan kepada rakyat miskin. Tak seharusnya rakyat melindungi Lukas.
Bagaimana bisa gubernur di sebuah provinsi termiskin kerap jalan-jalan dan berjudi di luar negeri? Ini tidak akan terjadi pada seseorang yang memiliki hati nurani.
Lukas Enembe tak seorang diri. Ia hanya fenomena puncak gunung es di lautan. Banyak pejabat Papua yang justru menghabiskan lebih banyak waktu di Jakarta atau bahkan Singapura daripada di Papua sendiri. Dalam sebulan, mereka bisa tiga minggu di luar, dan hanya seminggu di Papua.
Atau mungkin diam-diam Lukas Enembe selama ini memang memosisikan diri sebagai Robin Hood? Mungkin ia berpikir sudah berapa ribu triliun kekayaan tanah Papua dikeruk Jakarta dan Amerika melalui PT Freeport Indonesia. Kinilah saatnya Enembe “merampok” Jakarta.
Saat ini PT Freeport Indonesia punya cadangan tambang bernilai Rp2.400 triliun, terdiri dari 38,6 miliar pound tembaga, 33,8 juta ounce emas, dan 156,2 juta ounce perak.
Benarkah Lukas Enembe sedang mencoba menjadi Robin Hood van Papua? Yang jelas, kesaktian Lukas Enembe kini sedang diuji KPK. Jika KPK benar-benar tak mampu menangkap dia, apa pun alasannya, berarti Lukas Enembe benar-benar sakti mandraguna laiknya Robin Hood. Itulah!


























